Sinopsis Personal Taste episode 10

Melihat Kae-in begitu khawatir terhadap Chang-ryul, hati Jin-ho jadi panas ia tak tahan dan mau masuk ke Sang Go-jae lagi. Chang-ryul ia mencoba menghalangi Jin-ho masuk lagi tapi kali ini In-hae menengahi mereka berdua. In-hae membela Jin-ho dengan berkata kalau Chang-ryul hanya iri saja pada Jin-ho. Chang-ryul mencoba berkata kalau Jin-ho itu hanya pembohong, tapi In-hae selalu memotong pembicaraan Chang-ryul. Kae-in kaget juga melihat In-hae begitu perhatian dengan Jin-ho. In-hae menyuruh Kae-in membawa Jin-ho masuk. Kae-in menurut dan minta Chang-ryul bicara dengannya lainkali saja saat semua sudah tenang. Kae-in dan Jin-ho masuk rumah, Chang-ryul coba mencegah tapi dihalangi In-hae.

Begitu masuk kedalam rumah Kae-in langsung menanyakan keadaan Jin-ho, tapi Jin-ho yang sedang kesal berkata bahawa Kae-in sebaiknya memperhatikan pacarnya saja. Kae-in kaget mendengarnya. Jin-ho berkata tadi Kae-in berprilaku seperti pacar pada Chang-ryul karena terlihat begitu cemas saat melihat Chang-ryul jatuh (CEMBURU!!). Kae-in jadi gugup ia mencoba berbohong dan berkata bahwa tadi ia hanya berakting saja di depan Chang-ryul. Tapi Jin-ho tak percaya dan berkata kalau ia tahu Kae-in tak pandai berakting. Kae-in tetap pada pendiriannya dan bertekad akan menunjukan pada Jin-ho bahwa ia pandai berakting. Kae-in kemudian berniat mengambil kompres untuk muka Jin-ho, tapi Jin-ho menarik tangannya hingga Kae-in kesakitan. “Apa kamu benar-benar bisa?”. “Apa?”. “Kalau aku berkata Game over.. kamu akan benar-benar putus dengan Chang-ryul kah?”. Kae-in diam sebentar dan berkata dengan tegas “Ya. Aku bisa melakukannya”. Jin-ho menatap Kae-in dan melepas genggamannya sambil berkata “Kalau begitu apa kau bisa tepati janji ini?”. “Di dunia ini teman baikku adalah janjiku” kata Kae-in. Kae-in kemudian berkata kalau ia merasa tidak aman saat melihat In-hae begitu khawatir kepada Jin-ho tadi. Jin-ho berkata kalau ia tidak akan menjadi seperti yang dipikirkan Kae-in. “Hati orang bisa selalu berubah. In-hae adalah anak yang apa pun yang ia inginkan akan mendapatkannya. Dia ingin jadi temanmu maka ia pasti akan menjadi temanmu” kata Kae-in. “Hatiku.. hanya aku yang tahu bagaimana isinya. Kamu hanya perlu atur hatimu sendiri” kata Jin-ho.

In-hae pergi minum bersama Chang-ryul. Di sana In-hae berkata kalau Chang-ryul memberitahu Kae-in sekarang bahwa Jin-ho bukan gay itu tak ada gunanya. Chang-ryul tak mengerti maksud In-hae. In-hae menjelasakan bahwa Kae-in karena tahu Jin-ho adalah gay makanya mau jadi temannya. Tapi jika Kae-in tahu kebenarannya Kae-in akan melihat Jin-ho berbeda. Bagi Kae-in, Jin-ho dalah teman spesial lebih dari Chang-ryul yang dulu pernah mengkhianatinya. Jadi jika Chang-ryul mengungapkannya sekarang pasti ia akan kalah. In-hae juga berkata kalau mereka sekarang satu kapal. Chang-ryul tak mengerti. In-hae berkata kalau ia menyukai Jin-ho dan mau memilikinya. Chang-ryul kaget mendengaranya. In-hae berkata kalau sebaiknya mereka bekerjasama saja. Chang-ryul hanya diam masih tak percaya dengan pengakuan In-hae.

Jin-ho masih teringat bagaimana begitu perhatiannya Kae-in pada Chang-ryul. Ia kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa. “Kau bilang hal itu adalah akting!” gumam Jin-ho sendiri. Kae-in memberikan kompres yang ia telah buat. Jin-ho berkata hal itu tak perlu. Kae-in tetap memaksa. Jin-ho lalu berkata kalau pukulan Chang-ryul itu tidak ada apa-apanya. Lalu tiba-tiba In-hae datang. Kae-in dan Jin-ho kaget melihatnya. In-hae berkata kalau ia khawtir dengan keadaan mereka jadi ia kembali membawa minuman untuk mereka berdua agar bisa minum bersama dan tidur nyenyak. In-hae juga berkat sebetulnya ia juga ingin ikut minum bersama mereka tapi ia tahu Kae-in pasti tidak suka jadi ia pamit pulang saja. Kae-in jadi kesal mendenganya. In-hae kemudian berkata kalau ia bersyukur karena ada Kae-in yang menemani Jin-ho- kami. Jin-ho dan Kae-in saling berpandangan setelah mendengarnya. In-hae kemudian pamit pada mereka berdua. Kae-in kesal dan menyerahkan kompresnya tadi dengan kasar pada Jin-ho dan masuk kamarnya. “Apa.. Jin-ho-kami?” gumam Kae-in kesal. Tiba-tiba Chang-ryul menelepon dan berkata kalau ia ingin bertemu sekarang dan ia sudah ada di depan Sang Go-jae. Kae-in sebetulnya tak ingin bertemu Chang-ryul, tapi Chang-ryul memaksa.

Kae-in akhirnya keluar menemui Chang-ryul dan terlihat oleh Jin-ho yang sedang ada di dapur. Mereka hanya berpandangan dan Kae-in tetap keluar. Jin-ho merasa kesal karena ia tahu Kae-in keluar untuk bertemu dengan Chang-ryul. Di luar Kae-in bersikap dingin pada Chang-ryul dan minta Chang-ryul mengatakan segera apa yang ia ingin katakan. Chang-ryul berkata kalau ia tidak suka Kae-in tinggal dengan Jin-ho meski ia tahu Jin-ho itu adalah Gay. Kae-in kesal Chang-ryul mencampuri kehidupan pribadinya karena sampai saat itu mereka belum jadian kembali jadi tidak ada hak untuk mencampuri kehidupan pribadinya. Chang-ryul terlihat sedih, ia berkata meski ia tidak suka, ia akan mencoba mengerti. Kae-in jadi tidak enak. Chang-ryul berkata kalau ia akan menuruti keinginan Kae-in kali ini karena Jin-ho bisa membuat Kae-in bahagia tapi ia memohon agar Kae-in membiarkan Jin-ho pergi dari rumahnya demi dia. Kae-in jadi tidak enak ia berkata ia akan mempertimbangkannya. Chang-ryul lalu menyuruh Kae-in masuk saja karena cuma hal itu yang ia ingin bicarakan. Kae-in menyuruh Chang-ryul pergi saja dulu, tapi Chang-ryul menolak dan berkata kalau ia ingin melihat Kae-in masuk.

Akhirnya Kae-in masuk dan ia melihat bungkusan plastik pemberian In-hae tadi tergeletak di lantai. Kae-in mengambilnya dan menyerahkannya pada Jin-ho yang ada di kamar. Jin-ho kaget menerimanya dan berkata kenapa ia harus minum minuman itu. “Ini adalah In-hae yang kamu cintai yang beli untukmu. Kalau kamu tak minum lalu siapa yang minum” kata Kae-in kesal. “Aku tak mau minum. Mau kau minum atau buang terserah kamu saja” kata Jin-ho. “Kamu tidak perlu sengaja begini demi aku. Kalau kamu ingin berteman dengan In-hae maka lakukan saja” kata Kae-in. “Apakah yang kamu katakan adalah benar?”. “Aku tidak bisa hanya memikirkan diriku sendiri hingga tidak biarkan kamu berteman dengan orang lain”. “Jadi yang kau maksud.. aku juga jangan mengaturmu berteman dengan siapa begitu kah?” kata Jin-ho kesal. “Kapan aku bilang begitu”. “Kamu bukankah pergi bertemu Chang-ryul. bukankah kau yang katakan jika aku katakan Game over.. maka kamu akan putuskan dia. Sekarang kau tidak tanya aku.. tetap keluar”. “Itu karena ada masalah sedikit. Apa ini pun harus minta tolong padamu? Lagipula aku takut kamu merasa dipusingkan oleh urusanku”. “Kalau begitu kelak kamu urus sendiri masalahmu” kata Jin-ho sambil menutup pintu kamarnya. Kae-in tak percaya Jin-ho berkata seperti itu, ia kesal dan membuang bukusan plastik tadi didepan kamar Jin-ho. Kae-in masuk kamarnya dan mengambil boneka Jin-honya. Dalam hati ia berkata kalau dibandingakan dengan melihat acara pernikahan In-hae dan Chang-ryul, ia lebih takut dengan kalimat In-hae tadi yang berkata Jin-ho-kami.

Keesokan harinya Jin-ho tak dapat konsentrasi kerja di kantornya. Ia ingin menelepon Kae-in dan minta maaf tapi ia urungkan. “Aku juga tak tahu kenapa mau begini. Jika aku sudah keterlaluan.. maka maafkanlah” gumam Jin-ho. Sementara itu Kae-in juga tak bisa konsentrasi kerja ia meninggalkan pesan suara untuk Jin-ho. Ia berkata kalau ia tidak ingin menyerah. Ia hanya hanya ingin balas dendam tapi malah membuat mereka bertengkar. Tapi Kae-in membatalkan pesan suara itu.

Jin-ho buru-buru pulang saat jam kerja telah selesai dan menolak ajakan makan bersama Sang-joon dengan alasan ia ingin istirahat. Sang-joon heran melihatnya, tapi ia lalu mengingatkan Jin-ho bahwa tanggal penyerahan draf gambar proyek musem sudah hampir tiba. Jin-ho berkata kalau ia sudah tahu dan akan mengurusnya. Ternyata Jin-ho tak langsung pulang hari itu, ia pergi ke supermarket membeli bahan makanan. “Kenapa kau harus melakukan semua ini” gumam Jin-ho heran dengan tindakannya sendiri. Saat tiba di rumah Jin-ho memanggil-manggil Kae-in tapi Kae-in belum pulang. Ia lalu melihat cuaca jadi mendung mau turun hujan.

Kae-in pulang dan turun di halte bis dekat rumahnya, saat itu hujan sudah turun dengan deras. Akhirnya ia nekat hujan-hujan untuk sampai rumah. Kemudian Jin-ho tiba di halte bis sambil membawa payung. Ia duduk menunggu Kae-in yang ia pikir belum datang, tapi ia kemudian melihat sebuah buku tertinggal di halte itu dan ia mengenali itu buku milik Kae-in. Kae-in tiba-tiba menyadari bukunya tertinggal ia ingin berbalik tapi tiba-tiba seseorang datang dengan payung membawakan bukunya. Kae-in kaget melihatnya dan tambah kaget saat melihat orang itu adalah Jin-ho. Di jalanan di bawah satu payung, Jin-ho berkata “Park Kae-in bukankah kau orang yang suka melihat ramalan cuaca kenapa tidak membawa payung”. Kae-in pura-pura kalau ia suka hujan-hujanan dan pergi meninggalkan Jin-ho. “Nanti orang akan menganggapmu seperti tikus yang tenggelam” kata Jin-ho menyusul sambil berjalan di samping Kae-in dan memanyunginya. “Kamu ini ingin bertengakar denganku di jalanan, iya kan?”. “Kamu kenapa tidak bisa siapkan dengan lengkap sedikit. Benar-benar ceroboh”. “Apa kamu baru pulang kerja? Apa kamu naik angkutan umum dan datang kesini? Kalau begitu mobilmu mana?”. “Aku sudah pulang sampai rumah”. “Kalau begitu kamu sengaja datang menjemputku, iya kan?”. “Walaupun aku tidak tahu kenapa membuatmu marah, tapi aku lihat kamu masih ada rasa tidak puas jadi demi baikan denganmu baru menjemputmu”. “Kalau begitu seharusnya kamu bawa dua payung. Lihat kamu kebasahan”. “Kalau begitu dekat sedikit sudah bisakan”. Kae-in mendekat dan menggandeng lengan Jin-ho. “Aku dulu merasa iri saat melihat ibu-ibu anak lain datang menjemput anaknya saat hujan. Tapi sekarang aku ada Jin-ho.. Jin-ho kamu seperti ibu. Jika bersama Jin-ho tidak akan ada orang yang bilang aku seperti tikus yang tenggelam” kata Kae-in senang. “Barusan waktu aku katai, kamu masih melototi aku. Sekarang kamu dengan enaknya mengatakan itu” kata Jin-ho sedkit kesal. “Aku bukannya tidak punya hati nuranikan”. “Kalau begitu kamu ada apa?”. “Kamu cari kesalahan apa lagi? Kita kan sedang berbaikan” kata Kae-in sambil mencubit Jin-ho. “Hati-hati kehujanan. Ke sini..” kata Jin-ho sambil merangkul Kae-in agar tidak Kehujanan. Dan mereka pun pulang sambil berangkulan. “Kamu lihat.. kamu masih bilang mereka berdua demi pekerjaan baru tinggal bersama” kata Hye-mi dan Tae-hoon yang sengaja memata-mati Jin-ho dan Kae-in. Tae-hoon mengelak dan berkata mungkin karena ada 1 payung makanya mereka berbuat seperti itu. Tapi Hye-mi tetap curiga dan tetap percaya dengan fillingnya kalau mereka berdua ada apa-apa.

Saat sudah sampai di rumah, Kae-in memberikan hadiah Jin-ho berupa miniatur apel sebagai tanda maafnya. Ia berkata kemarin seharusnya ia tidak emosi karena In-hae. Jin-ho mersa Kae-in pelit karena cuma memberikan itu sebagai rasa minta maaf. Kae-in mengelak ia berkata kalau Jin-ho juga tidak terlalu murah hati. Jin-ho hanya diam melihat Kae-in. Kae-in lalu berkata kalau pokoknya mereka sudah baikan. Jin-ho tersenyum. Kae-in berkata kalau ia sudah memberikan hadiah sebagai tanda bahwa hatinya lapang. Jin-ho lalu berkata kalau demi membuat mekanan untuk temannya yang satu ini ia sudah khusus pergi ke supermarket. Kae-in kaget dan senang mendengarnya. Ia bersandar didada Jin-ho dan berkata kalau Jin-ho ternyata juga benar-benar punya hati yang luas seperti laut. Jin-ho tersenyum mendengarnya. Kae-in lalu meminta Jin-ho membuatkn makanan untuknya. Jin-ho menyuruh Kae-in buat sendiri. Kae-in menggeleng dan berkata kalau Jin-ho pun sudah tahu kalau ia tidak pandai memasak. Jin-ho tersenyum lagi mendengarnya.

Young-soon dan Sang-joon pergi ke spa bersama. Sang-joon terlihat senang dan tak percaya Young-soon memintanya menjadi model pemotretannya. “Eonni apakah ini mimpi?” kata Sang-joon. Young-soon minta Sang-joon membuka kacamatanya dan kemudian plak!, Young-soon menampar Sang-joon “Sekarang merasa bagaimana? Jangan berlebihan aku hanya memintamu menjadi model beberapa lembar foto saja”. Sang-joon berkata kalau dirinya sebenaranya ingin jadi model meski ia hanya punya tampan yang lumayan dan sedikit lemak diperut. Young-soon enek mendengarnaya, tapi ia berkata kalau itu bisa diatur pakai efek. Sang-joon senang sekali mendengaranya. Young-soon lalu mengalihkan pembicaraan dengan berkata kalau kuku jari Sang-joon indah sekali. Sang-joon berkata kalau itu adalah salah satu daya tarik miliknya untuk menjerat wanita. “Wanita?” kata Young-soon heran. Sang-joon buru-buru berkata “Laki-laki tentunya”.

Di Sang Go-jae. Kae-in terpesona melihat Jin-ho memotong apel dengan sempurna. Ia lalu tanya apa ada hal yang tidak bisa dilakukan Jin-ho. “Tidak ada yang tidak bisa” kata Jin-ho. Kae-in heran ia berkata apa Jin-ho tidak malu berkata seperti itu. “Ini adalah kenyataan. Buat apa malu?” kata Jin-ho. Kae-in berkata ternyata kekurangan Jin-ho adalah sedikit pun tidak rendah hati. Kae-in lalu mengajak Jin-ho melakukan sesuatu besok, tapi Jin-ho menolak ia ingin membersihkan rumah dan tidur besok. Kae-in memaksa, Jin-ho kesal ia tanya apa Kae-in sehari saja tidak memerintahnya apa bisa mati bosan. “Sedikit” kata Kae-in. Lalu tiba-tiba hp Kae-in dan Jin-ho berbunyi bersamaan. Ternyata itu dari Young-soon dan Sang-joon yang minta bantuan mereka berdua besok.

 

Keesokan harinya Kae-in dan Jin-ho ternyata diminta membantu pemotretan Sang-joon. Tapi Young-soon merasa Sang-joon terlalu berlebihan, ia lalu minta Jin-ho menggantikan. Jin-ho awalnya tidak bisa tapi ia lalu bisa dan menikmatinya. Sang-joon merajuk pada Young-soon bahwa dia bisa lebih baik dari pada Jin-ho. Tapi Young-soon tak peduli dan minta Sang-joon menggantikan tugas Jin-ho saja. Kae-in heran melihatnya, ia lalu mendekati Young-soon dan tanya sambil berbisik apa Young-soon benar-benar ingin menggunakan Sang-joon sebagai model produk kosmetik. “Sang-joon adalah penutupnya.. sasarannya adalah Jin-ho” kata Young-soon. Kae-in kaget mendengarnya dan berkata kalau Young-soon sudah membohongi orang. Pemotretan selesai, Kae-in tiba-tiba mndapat telepon dari Chang-ryul yang mengajaknya bertemu. Kae-in menolak dan berkata kalau ia sedang membantu Young-soon melakukan pemotretan, ia juga berkata tidak ingin di jemput dan akan menelepon Chang-ryul nanti. Young-soon heran sebenarnya Kae-in mau melakukan apa dengan Chang-ryul. Kae-in berkata kalau ia ingin mata dibalas mata, gigi dibalas gigi.. Young-soon memperingatkan agar Kae-in jangan bertindak aneh-aneh dan jangan pernah kembali pada Chang-ryul bagaimanapun masalahnya. Chang-ryul menelepon lagi tepat saat Sang-joon dan Jin-ho datang mendekat. Kae-in ahirnya setuju bertemu dengan Chang-ryul, ia lalu berkata pada Jin-ho bahwa Chang-ryul baru saja meneleponnya. “Lalu kenapa?” kata Jin-ho. “Sebelum pergi berkencan. Kita latihan dulu satu kali. Ok!” kata Kae-in. “Latihan apa. Sekarang kalian taktiknya benar-benar banyak” kata Young-soon heran. “Young-soon… Sang-joon.. kalian balik duluan saja. Kami mau pergi kesuatu tempat. Ada sedikit urusan darurat” kata Kae-in. Kae-in menarik Jin-ho pergi. Sang-joo bingung sebenarnya ada apa. Young-soon semakin heran ia berkata pada Sang-joon kalau mereka berdua yang aneh. “Satu pasangan yang serasi” kata Sang-joon. Young-soon keget, Sang-joon buru-buru berkata kalau ia melihat sepasang burung yang serasi.

Kae-in dan Jin-ho jalan-jalan di taman. Jin-ho tanya kapan Kae-in berencana mengakhiri balas dendamnya. Kae-in tak tahu, tapi ia lalu berkata bagaiman kalau saat Chang-ryul melamarnya, Kae-in bercerita saat Chang-ryul memberi cincin ia akan langsung membuang cincin itu dan menginjak-injaknya. Lalu Kae-in berkata apa sebaiknya saat hari pernikahan saja ia akan lari hari itu.. “Bukan… Jin-ho saat itu kamu di depan Chang-ryul bawa aku pergi saja. Aku paling suka ide ini!” kata Kae-in semangat. “Kenapa aku harus melakukan hal itu” kata Jin-ho. “Betul, kamu bukan orang suka bersantai. Mana ada waktu demi aku melakuan hal seperti ini”. “Aku akan bantu kamu” kata Jin-ho tiba-tiba. Kae-in kaget mendengarnya. “Jika benar-benar berkembang sampai tahap itu. Aku akan bantu kamu. Karena kita adalah teman” lanjut Jin-ho. Kae-in tersenyum senang mendengarnya.

Kae-in dan Jin-ho sudah hampir sampai Sang Go-jae. Kae-in menarik tangan Jin-ho dan berkata “Nanti kamu tarik tanganku seperti ini.. lalu kita lari bersama”. “Kamu ini benar-benar suka membuat janji” kata Jin-ho. Mereka pulang sambil bergandengan tangan. Lalu tiba-tiba mereka melihat Ibu Jin-ho, Hye-mi dan Tae-hoon ada di depan Sang Go-jae. “Jin-ho.. Ya Tuhan.. kamu.. kamu bagaimana bisa” kata Ibu Jin-ho kaget dan kemudian pingsan melihat Jin-ho dan Kae-in bergandengan.


Ibu Jin-ho lalu di bawa masuk ke kamar Jin-ho. Kae-in datang membawa minuman untuk membantu. Tapi Hye-mi menuruhnya pergi saja, tapi Kae-in tetap di dalam kamar dan tanya bagaiman keadaan ibu Jin-ho. “Kamu kenapa bisa seperti ini.. aku begitu mempercayaimu saat kamu bilang hal itu.. jadi baru tinggal di Sang Go-jae ini. Aku merasa kasihan sekali padamu saat itu, tapi kamu membelakangi ibu tinggal bersama wanita lain” Kata Ibu Jin-ho kecewa. “Bukan begitu ibu!” kata Kae-in mencoba menjelaskan. “Ibu!! Kamu atas dasar apa memanggil ibuku sebagai ibumu” kata Hye-mi kesal. Jin-ho minta Hye-mi tenang sedikit. Hye-mi kesal ia berkata, ia bereaksi seperti itu karena ia adalah tunangan Jin-ho. “Tunangan?” tanya Kae-in kaget. Jin-ho jadi khawatir melihat reaksi Kae-in. “Ya. Aku adalah tunangan Jin-ho oppa”. “Jin-ho.. sebentar.. kita keluar bicara sebentar” ajak Kae-in. Hye-mi melarang tapi Ji-ho akhirnya keluar bersama Kae-in.

Jin-ho dan Kae-in masuk ke kamar Kae-in. Kae-in berkata sebaiknya Jin-ho terus terang saja pada ibunya tentang kenyataannya. “Kenyataan apa?” kata Jin-ho bingung. Kae-in berkata akan sangat kasihan jika wanita tadi (Hye-mi) terus menganggap Jin-ho sebagai tunangannya padahal Jin-ho tak mungkin menikahinya. Jin-ho mengerti sekarang dan sedikit kesal menedengarnya. “Lagi pula jantung bibi sepertinya juga tidak baik hingga sampai sekarang tidak tahu. Jadi kamu sebaiknya mengatakan lebih awal. Selagi ada kesempatan katakan yang sejujurnya. Aku rasa ia bisa mengerti kamu” kata Kae-in. “Sekarang bukan waktunya untuk mengatakan hal ini” kata Jin-ho dan mau pergi. Kae-in mencegah dan berkata “Jin-ho, sebagai ibu ia pasti bisa mengerti keadaan anaknya sendiri. Meskipun awalnya pasti akan terpukul. Tapi harusnya ia bisa mengerti kamu” kata Kae-in. Jin-ho sudah kesal, ia berkata “Apakah kamu ingin memberitahu ibuku bahwa aku adalah gay?”. “Ya”. “Apa kamu masih normal?”. Tiba-tiba pintu terbuka ternyata ibu Jin-ho, Hye-mi dan Tae-hoon menguping pembicaraan mereka. Kae-in dan Jin-ho kaget melihat mereka. “Gay” teriak Hye-mi. Tae-hoon dan Hye-mi masih tak percaya. Ibu Jin-ho juga keget dan hampir pingsan lagi. Tapi Jin-ho buru-buru berkata “Bukan ibu.. aku bukan gay”. Kae-in kecewa Jin-ho berbohong pada ibunya. “Nona Kae-in.. kamu kesini” kata Jin-ho tiba-tiba. Kae-in kaget dan hanya diam saja. Jin-ho menyeretnya mendekat. “Ibu. Aku mencintai dia dan akan menikahinya” kata Jin-ho sambil merangkul Kae-in. Semua orang kaget mendengarnya. “Aku ingin menikah dengannya” kata Jin-ho menegaskan lagi. “Jin-ho” kata ibu Jin-ho bingung. Jin-ho lalu menyuruh Kae-in memberi salam pada ibunya. Kae-in mulanya ragu, tapi ia akhirnya melakukannya. Hye-mi menangis dan pergi dari sana, Tae-hoon menyusul Hye-mi. Ibu Jin-ho hampi jatuh pingsan lagi dan berkata “Gay.. kamu bukan gay betul kan?”. “Bukan” . “Nama.. nama kamu siapa tadi?”. “Park Kae-in” kata Kae-in. “Nona Kae-in.. kamu.. cinta Jin-ho kami kah?”. Jin-ho dan Kae-in kaget mendengarnya. Jin-ho memberi tanda agar Kae-in menjawabnya ya, tapi Kae-in memberi tanda tidak setuju. Ibu Jin-ho menunggu dan Kae-in langsung bilang “Ya. Aku mencintai Jin-ho”.

Malam harinya Kae-in sendirian di rumah, ia masih tidak percaya apa yang dikatakan Ji-ho tadi. “Walaupun mendadak tapi bagaimana bisa berbohong begini. Apalagi di depan ibu.. apa ia mau kelak aku menanggung akibatnya” gumam Kae-in sendiri. Tiba-tiba Young-soon datang, ia berkata kalau ia merasa khawatir dengan Kae-in makanya datang kesana. Kae-in tak mengerti. Young-soon berkata kalau ia khawatir dengan hubungan Kae-in dan Jin-ho yang aneh dan terlihat seperti bukan hubungan pertemanan biasa bahkan seperti sedang pacaran. “Aku dan dia bagaimana mungkin pacaran” kata Kae-in. Young-soon berkata kalau ia tadi mengikuti Kae-in dan ia melihat Kae-in dan Jin-ho berjalan berduaan sambil menyanyi. Kae-in berkata ia hanya sedang latihan demi membalas dendam pada Chang-ryul. Young-soon tetap tak percaya, ia berkata Kae-in hanya menggunakan alasan balas dendam agar bisa terus bersama Jin-ho. Kae-in tak bisa mengelak kali ini. Young-soon menyuruh Kae-in sadar karena Jin-ho tak mungkin tertarik padanya. Kae-in berkata kalau situasinya sekarang sudah semakin parah. Young-soon langsung tanya ada masalah apa. “Jin-ho mau menikah denganku” kata Kae-in.

Sementara itu Jin-ho setelah mengantar pulang ibunya menemui Hye-mi yang sedang di tenangkan oleh Tae-hoon karena ingin bunuh diri. Jin-ho berkata kalau selama ini Hye-mi pun tahu kalau ia tak mencintainya. Hye-mi berkata bukanah sudah cukup kalau ia yang mencintainya. “Cinta bukan masalah satu orang”. “Aku bisa laksanakan itu”. “Orang yang mencintai kamu adalah orang ini” kata Jin-ho sambil menarik Tae-hoon. “Sama seperti kamu yang cinta sepihak padaku. Orang ini juga sama. Karena kamu orang ini juga benar-benar ikut sedih” lanjut Jin-ho. “Tapi aku tak mencintainya”. “Kalau begitu .. kamu mau demi aku yang tak mencintaimu pergi bunuh diri? Kalau begitu kamu lakukan saja”. “Hyung bagaimana bisa kamu katakan perkataan yang begitu sadis” kata Tae-hoon. Tae-hoon kemudian menutup telinga Hye-mi dan berkata “Jangan dengar. Jangan dengar. Jangan dengar”. “Kamu jangan lihat aku. Coba lihat orang ini. Mungkin nanti kamu jatuh cinta padanya” kata Jin-ho pergi meninggalkan mereka berdua. Tae-hoon lalu memeluk Hye-mi dan berkata “Tak apa – apa Hye-mi kalau kamu mau menangis.. menangis saja yang kuat”.

Young-soon masih kaget mendengar perkataan Kae-in tadi. Ia merasa Jin-ho terlalu tidak normal, bagaimana bisa menggunakan Kae-in untuk hal seperti itu. Kae-in berkata kalau Jin-ho sangat mencintai ibunya. Young-soon khawatir bagaimana nanti jika ibu Jin-ho benar-benar menyuruh mereka menikah. “Aku setuju saja tak bisakah?”. “Apa! Kamu sudah gila ya?”. “Jin-ho sepenuhnya tak punya keberanian mengatakan hal sebenarnya pada ibunya. Aku ingin seumur hidup begini. Demi dia, halangi angin dan hujan yang mendera. Begitu tak bisakah?” kata Kae-in. Young-soon semakin kaget tak percaya. “Kamu gila ya! gila juga harus ada gunanya. Kamu searang sedang pirkan apa? Mau menjaga seorang laki-laki yang sepenuhnya tak mungkin mencintai wanita seperti kamu”. “Hidup sebagai taman tak bisakah?”. “Kae-in.. kita masih ada banyak hal yang bisa kita kerjakan bukannya tidak ada yang tidak bisa dikerjakan. Dasar anak bodoh”. “Jin-ho terhadapku selalu baik. Setidaknya akupun harus baik pada ibunya.. aku.. kalau ada hal yang bisa kulakukan hanya itu aku rela”. “Kamu hanya menggunakan pertemanan sebagai alasan iya kan? Kamu hanya ingin berada didampingnya makanya berbuat begini iya kan?”. Kae-in tak bisa membalas. Young-soon merasa bersalah karean dulu ia lah yang mendorong Kae-in agar mau tinggal bersama Jin-ho. Saat pulang Young-soon tiba-tiab ada ide untuk mengatasi masalah itu.

Kae-in merenungi keputusannya di teras. Tiba-tiba Jin-ho datang. Kae-in tersenyum dan Jin-ho membalasnya. Mereka lalu ngobrol diteras. Kae-in tanya bagaiman keadaan ibu Jin-ho. Jin-ho minta maaf karena membuat kaget Kae-in hari ini. Kae-in berkata kalau ia tak apa-apa dan ia mengerti kalau Jin-ho sangat mencintai ibunya makanya berkata seperti itu. “Hanya perlu tunggu ia sedikit tenang dulu saja” kata Jin-ho. “Jin-ho.. jika… aku bilang jika.. jika kamu benar-benar tak ada keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada ibumu.. jadi tetap ingin bersama laki-laki tapi menikah dengan seorang wanita didepan ibumu… Aku Bisa Bantu Kamu”. Jin-ho kaget mendengarnya. “Jika aau bisa menjadi perisaimu.. kamu tak perlu memikirkan orang lain dan bisa melakukan apa yang ingin kamu lakuakan” kata Kae-in. Jin-ho kesal, ia berdiri dan berkata “Apa kamu merasa ini tindakan yang benar?”. Kae-in tak mengerti. “Harus menikah dengan orang yang dicintai barulah tidakan yang benar. Apa kamu tak ada pikiran sehat seperti ini?” kata Jin-ho. Kae-in hanya diam menunduk. “Masih harus aku katakan berapa kali lagi agar kamu bisa mencintai diri kamu sendiri baru kamu mengerti?” teriak Jin-ho. Kae-in berdiri dan berkata “Tapi kamu.. bukankah tak bisa menikahi orang yang kamu cintai. Walaupun kau tak mengganggapku sebagai wanita yang untuk dicintai aku rela.. jika itu adalah denganmu, aku merasa aku bisa seumur hidup bersamamu”. “Karena begini, kamu mau hidup seumur hidup ditipu orang. Ternyata pemikiran menikah dengan seoranng gay adalah pemikiran yang sangat bodoh”. “Walaupun aku sangat bodoh. Tapi setidaknya kamu akan merasakan bahwa aku adalah temanmu yang terbaik didunia ini. Jadi demi kamu aku bisa lakukan apa pun” kata Kae-in sedih. Jin-ho sudah tak habis pikir Kae-in bisa berkata seperti itu demi dia. Ia lalu berkata “Kita jangan jadi teman lagi. Aku benar-benar sangat capek. Tidak usah teruskan ini lagi”. Jin-ho kemudian masuk kamarnya. Kae-in terdiam dan menahan tangisnya.

Di dalam kamar Jin-ho sangat pusing, ia lalu bergumam “Kamu seharusnya tanya aku.. bisa tidak anggap kamu sebagai wanita untuk dicintai. Itu baru betul! Wanita bodoh ini!”. sementara itu Kae-in di dalam kamarnya mengambil boneka Jin-honya dan berkata “Bagaimana ini.. kelak sampai jadi temanpun tak bisa”.

Keesokan harinya Young-soon datang ke gedung Meiseu menemui Do-bin. Do-bin kaget melihatnya. Young-soon beralasan ia datang untuk mengucapkan terima kasih karean Do-bin memberi kesempatan kerja pada Kae-in (aku.. juga mau diberi kesempatan kerja.. kapan ya!! Pengacara nih…penganggguran banyak acara). Young-soon lalu berkata apa Do-bin ada waktu nanti malam karena ia ingin menunjukan rasa terima kasihnya.

Chang-ryul menelepon Kae-in dan tanya apa ia bisa bertemu hari ini. Kae-in berkata tak bisa karena ia sedang tak mood bertemu Chang-ryul. Chang-ryul memaksa. Asisten Kim datang memberitahu ayah Chang-ryul ingin Chang-ryul datang menemuinya. Chang-ryul memberi isyarat agar asisten Kim diam. Kae-in tetap tak mau dan menutup telepon Chang-ryul.

Chang-ryul datang kekantor ayahnya dan tak sengaja mendengar ayahnya sedang telepon dengan Prof. Park. Ayah Chang-ryul berkata pada Prof. Park bahwa ia ingin bertemu dengan Prof. Park untuk membicarakan pernikahan anak-anak mereka. Chang-ryul kaget mendengarnya, ayah Chang-ryul memberi isyarat agar Chang-ryul diam. Ayah Chang-ryul tanya kapan Prof. Park pulang jika masih lama ia bisa datang menemui Prof. Park di Inggris. Chang-ryul semakin kaget dan mau menghentikannya, tapi Ayahnya memberi isyarat lagi agar Chang-ryul tidak ikut campur. Prof. Park berkata kalau ia tidak lama lagi akan pulang. Ayah Chang-ryul senang sekali dan berkata ingin sekali membuat janji bertemu setelah Prof. Park setelah ia pulang, kemudian percakapan telepon berakhir. Chang-ryul kesal ia langsung tanya apa maksud ayahnya berbuat seperti itu padahal ia sudah memberitahu bahwa masalahnya dengan Kae-in ia bisa selesaikan sendiri. Ayah Chang-ryul berteriak bahwa sudah tak ada waktu lagi dan berkata bahwa sekarang manajemen perusaam Meiseu sudah diserahkan hampir sepenuhnya pada Do-bin dan sekarang Do-bin sedang baik pada Jin-ho. Ia takut Do-bin dalam hatinya sudah putuskan Jin-ho sebagai pemenangnya. Chang-ryul berkata bukankah sudah cukup kalau mereka memberikan desain yang lebih bagus dari Jin-ho. “Bodoh.. ada jalan yang mudah kenapa harus putar jalan” kata ayah Chang-ryul. Ia juga berkata bahwa Do-bin masih menunggu Prof. Park mau menjadi arsiteknya, jadi jika bisa menarik Prof. Park disisi mereka maka mereka akan memenangkan tander kali ini. Chang-ryul kesal ia berkata bukankah ayahnya sudah memberikan tanggung jawab penuh kepadanya untuk proyek kali ini. Ayahnya berkata bahwa tugas Chang-ryul adalah menangkap kembali hati Kae-in.

Chang-ryul menemui Kae-in di gedung Maiseu. Kae-in kaget melihatnya dan berkata bukankah ia sudah bilang tak ingin bertemu hari itu. Chang-ryul berkata ada yang ia ingin katakan pada Kae-in. Kae-in dengan dingin berkata apa tidak bisa dikatakan lain kali saja karena ia sedang ada banyak kerjaan. “Jin-ho.. sampai kapan ia mau tinggal di Sang Go-jae?”. “Kamu datang cuma mau katakan ini kah? Bukankah kamu bilang bisa mengerti dan bilang bisa menunggu”. “Betul, tapi.. tinggal bersama dalam satu rumah bukankah sedikit keterlaluan. Kamu gadis yang begitu polos, tapi tinggal bersama dengan orang yang keji”. “Jika kamu masih katakan hal jelek tentang Jin-ho sebaiknya kamu jangan katakan lagi. Kamu tahu.. bagaimana aku sulit melewati waktu itu. Waktu saat kamu datang mencariku dan berkata karena akau tak bisa memberikan semuanya padamu makanya kau membuangku.. waktu itu bersama Jin-ho sambil minum aku sudah katakan semuanya padanya tapi hatiku tetap tak bisa tenang. Dia bilang aku bukan wanita, aku hanya seorang gadis muda. Jin-ho adalah orang yang selalu menemaniku saat itu. Jadi walaupun kau katakan ingin kembali padaku saat ini tapi luka yang kau berikan saat itu belum benar-benar sembuh. Saat ini pun aku belum ada persiapan menerimamu kembali. Dan juga… sekarang dibandingkan kau.. temanku Jin-ho jauh lebih penting” kata Kae-in. “Jeon Jin-ho.. apakah sebegitu pentingnya bagimu?”. “Ya, sekarang adalah begini”. “Baiklah, aku mengerti. Kamu kerja lagi saja” kata Chang-ryul sedih kemudian pergi dari sana. Saat akan pulang Chang-ryul berpapasan dengan In-hae. Ia bertanya apa In-hae yakin bisa mendapatkan Jin-ho. “Tentu”. “Kalau begitu kamu harus berhasil”. “Kenapa?”. “Kamu harus berhasil. Lalu pisahkan Kae-in dari sisi Jin-ho”. “Kae-in bilang apa padamu?” kata In-hae curiga. “Dibandingkan dengan aku, dia jauh lebih menghargai Jin-ho”. “Benar-benar seperti yang aku katakan, iya kan? Kae-in ada maksud lain pada Jin-ho”. “Aku minta tolong kamu. Kali ini aku tak ingin gagal dalam percintaan” kata Chang-ryul kemudian pergi dari sana.

Dikantor Jin-ho sedang memperlihatkan beberapa gambar draf museum yang sudah jadi pada Sang-joon. Tiba-tiba Jin-ho mendapat telepon dari Young-soon. Sang-joon kaget dan heran Young-soon menelepon Jin-ho. Young-soon berkata agar nanti malam Jin-ho langsung pulang saja karena ia ingin makan melam bersama Jin-ho. Jin-ho menyanggupinya. Sang-joon heran ia tanya Young-soon ada urusan apa menelepon Jin-ho. Jin-ho berkata kalau Young-soon akan menyiapkan malam dan menyuruhnya langsung pulang nanti. Sang-joon senang dan mau ikut makan malam bersama. Jin-ho berkata buankah Sang-joon ada janji malam itu. Sang-joon berkata kalau ia kan membatalkan janji itu. Tiba-tiba karyawan Jin-ho datang dan berkata kalau ada telepon dari Chang-ryul. Jin-ho dan Sang-joon kaget mendengarnya.

Ternyata Chang-ryul ingin bertemu dengan Jin-ho dan mereka bertemu di bawah jembatan. Jin-ho tanya ada hal apa Chang-ryul ingin bertemu dengannya. Chang-ryul berkata kalau ia tidak pernah sekalipun menunggu Kae-in sampai saat itu. Ia lalu bercerita dulu Kae-in lah yang selalu menunggunya jika mereka janjian. “Buat apa kamu ceritakan semua ini padaku?”kata Jin-ho. Chang-ryul tetap bercerita, Kae-in tetap akan menunggunya meski ia datang kemalaman dan sekarang ia tahu bagaimana rasanya menunggu itu saat Kae-in belum bisa membuka hatinya lagi untuknya. “Kamu sebenarnya katakan semua ini padaku buat apa?” kata jin-ho lagi. “Aku tahu kamu bukan gay” kata Chang-ryul. Jin-ho kaget mendengarnaya. “Bagaimapun juga aku tak percaya saat kamu bilang gay padaku, makanya suruh orang menyelidikinya. Awalnya aku ingin memberithau Kae-in karena kamu demi mendekati kepala Choi berpura-pura jadi gay. Tapi tak bisa. Karena jika begitu.. Kae-in akan mengusirmu dari Sang Go-jae. Kae-in lebih menghargaimu dari pada aku sekarang. Jika ia tahu teman yang begitu dipercayainya adalah seorang pembohong besar. Kae-in takutnya akan sedih lagi. Jadi tak peduli bagaimana.. aku sudah putuskan tidak akan membuat Kae-in sedih lagi. Jadi Jeon Jin-ho.. kamu sekarang sebaiknya pindah dari sana. Dengan status masih sebagai teman pergi dari sisinya. Aku merasa kamu sudah cukup mengerti perkataanku bukan?” kata Chang-ryul kemudian pergi meninggalkan Jin-ho.

Di Sang Go-jae, Kae-in masih bingung melihat Young-soon tiba-tiba menyiapkan makan malam di rumahnya dan terlebih ia menyiapan makanan untuk empat orang. Young-soon menyuruh Kae-in diam saja karena ia sedang berusah menyesaikan masalah Kae-in. Tiba-tiba ada bunyi bel, Young-soon dengan semangat berlari membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Do-bin. Kae-in kaget sekali melihat Young-soon mengundang Do-bin ke rumahnya. Tak lama kemudian Jin-ho datang. Jin-ho kaget melihat Do-bin disana, ia melirik Kae-in dan Kae-in hanya diam saja tak enak. Makan malam jadi canggung. Young-soon dan Kae-in membuat makan malam agar lebih cair tapi tak bisa. Jin-ho terlihat sangat kesal. Young-soon tiba-tiba mendapat telepon yang mengabarkan kalau anaknya hilang. Young-soon minta ditemani Kae-in mencari anaknya. Do-bin dan Jin-ho menawarkan bantuan, tapi Young-soon menolaknya. Akhirnya Young-soon dan Kae-in pergi dari sana. Sampai di luar Kae-in terlihat sangat panik, tapi Young-soon malah terliat tenang-tenang saja. Young-soon berkata kalau anaknya ada dirumah. Kae-in kaget. Young-soon menjelaskan bahwa ini adalah cara paling baik untuk Jin-ho. Kae-in tak mengerti. Young-soon menjelaskan jika Jin-ho bersama ketua Choi, ibu Jin-ho pasti akan menyetujuinya jadi Kae-in tak perlu mengorbankan diri. Kae-in terlihat tak senang dan tak enak. Young-soon berkata sekarang sudah terjadi jadi mereka hanya tinggal tunggu bagaimana hasilnya. Kae-in akhirnya mau tak mau mentujuinya dan pergi dari sana. Di dalam suasan semakin canggung dan dingin. Do-bin berkata sepertinya ia tak seharusnya datang kesana. Jin-ho minta maaf karena ia benar-benar tak tahu kalau Do-bin akan datang kesana. Do-bin berkata kalau Jin-ho punya dua teman yang baik, tapi ternyata mereka tidak pandai berakting. Jin-ho masih terlihat kesal. Do-bin lalu berkata kalau sebaiknya ia pergi saja. Jin-ho berkata agar sebaiknya Do-bin pergi setelah makan saja. Do-bin tersenyum kecil, tapi ia menolak tawaran Jin-ho dan berkata bahwa ia orang yang tahu diri lagi pula air muka Jin-ho terlihat tidak senang melihatnya disana. Jin-ho minta maaf lagi, ia berat situasi sangat kacau jadi tak bisa mengontrol emosinya. Do-bin berkata kalau ia sangat suka Jin-ho yang terus terang, jadi Jin-ho tak perlu ambil hati dan Do-bin pun pamit pergi.

Jin-ho menunggu Kae-in dalam keadaan kesal. Saat Kae-in pulang ia langsung pura-pura bahwa mereka telah menemukan anak Young-soon. Jin-ho kecewa dan berkata “Perkataanku yang bilang sebaiknya kita menikah ternyata telah membuatmu kaget iya kan?”. Kae-in kaget mendengarnya. “Apakah kamu mau begini terus.. kekhawatiran sepanjang hidup akan berubah menjadi candaan”. “Jin-ho”. “Langsung dorong kepada kepala Choi kan sudah bisa. Seperti inikah pemikiranmu?”. “Kamu jelas tahu bukan begitu”. “Tidak peduli bagaiman masih lumayan beruntung. Selama ini mengira kamu sangat bodoh.. tidak terpikir ternyata masih bisa gerakkan otak”. “Kamu sedang katakan apa?”. “Akhir minggu ini aku akan pindah keluar”. “Kamu bilang apa?” kata Kae-in kaget. “Sisa uang sewanya akan aku tunggu jika kamu sudah temukan orang sewa baru, saat itu baru kamu kembalikan padaku” kata Jin-ho kemudian mau pergi dari sana. “Jin-ho.. kamu mau pergi kemana?” kata Kae-in mencoba menghalangi. “Aku mau keluar”. “Apa! Kamu mau pergi sekarang kah?”. “Betul” kata Jin-ho kemudian pergi dari Sang Go-jae.

Kae-in termenung sendiri di teras. “Laporan cuaca park Kae-in: seorang pasangan yang mengikuti angin musim semi yang hangat.. malam seorang teman. Musim panas segera datang. Tapi aku pikir tidak akan ada musim panas yang begitu.. semua tetap sama terasa dingin tidak bisa mempererat bahu”.

Keesokan harinya ternyata Jin-ho tidak pulang kerumahnya dan malah kembali ke kantor. Sang-joon heran melihat sikap Jin-ho, ia memberanikan diri mengajak Jin-ho makan, tapi Jin-ho menolaknya dan menyuruh Sang-joon pergi saja. Sang-joon pergi, Jin-ho tak bisa konsentrasi kerja ia memikirkan perkataan Chang-ryul kemudian bergumam “Apa kau sudah puas sekarang? Malah sampai jadi temanpun tak bisa”. Tiba-tiba In-hae datang. Jin-ho mengira itu Sang-joon dan berkata kalau ia tak selera makan. “Kenapa tak selera makan?” kata In-hae. Jin-ho kaget dan bertanya sedang apa In-hae datang kesana. In-hae berkata kalau perusahaannya memberikan beberapa lembar tiket pertunjukan musik dan minta Jin-ho menemaninya. “Tak mau” kata Jin-ho sambil mengambil mantelnya dan mau pergi dari sana. “Kae-in hari ini juga mendapat tiket dari kepala Choi. Chang-ryul dua hari ini terus datang ke gedung Maiseu demi berbaikan kembali dengan Kae-in. Hari ini mereka juga bersama melihat pertunjukan musik ini”. “Hal ini tak ada hubungannya denganku” kata Jin-ho dan mau pergi lagi. In-hae berkata “Kae-in sekarang sepertinya juga ingin kembali kesisi Chang-ryul. Bukankah sebagai teman kamu seharusnya mau membantunya.. atau jangan-jangan kamu tak mau bantu diakah? Jika kamu pergi bersamaku, aku rasa Kae-in bisa lebih fokus pada hubungannya dengan Chang-ryul, iya kan?”.

Kae-in bersama Chang-ryul sedang menunggu pertunjukan di lobby. Chang-ryul berkata kalau Kae-in terlihat paling cantik disana. Kae-in tidak merespon. Tiba-tiba mereka melihat Jin-ho datang bersama In-hae. Kae-in kaget melihatnya. Chang-ryul memberi tanda pada In-hae dan In-hae dengan sengaja menunjukan kemesraan bersama Jin-ho pada Kae-in. Kae-in tidak suka melihatnya dan Jin-ho pun tak bisa mengelak. Saat di dalam pertunjukan kedua pasangan ini duduk bersebelahan dan In-hae terus-terusan sengaja melihatkan manuver-manuvernya. Kae-in tak tahan dan pergi dari sana. Chang-ryul mengejar, Jin-ho pun ingin ikut mengejar tapi dihalangi In-hae.

Di luar Chang-ryul berhasil mengejar Kae-in dan bertanya sebenarnya ada apa hingga Kae-in bersikap seperti itu. Di sisi lain Jin-ho dan In-hae akhirnya ikut keluar juga dan melihat mereka berdua. “Aku benar-benar tak bisa lakukan ini lagi” kata Kae-in. “Lakukan apa?”. “Aku sebenarnya demi membalas dendam padamu baru berbuat begini padamu. Sama seperti saat kamu membuang aku, aku juga ingin lakukan hal yang sama. Tapi aku juga tidak ingin melakukan hal begini lagi. Aku benar-benar tak bisa melakukan ini lagi”. “Kae-in jadi kau mengatakan ini karena merasa bersalah padakukah? Aku tidak apa-apa jika itu bisa membuatmu balik padaku” kata Chang-ryul. “Salah. Kamu tak bisa membuatku kambali padamu lagi”. “Kae-in”. “Chang-ryul kamu sama sekali tak tahu hatiku.. hatiku sekarang sebenarnya mengarah kepada siapa” kata Kae-in. Jin-ho yang mendengar sejak tadi akhirnya bergerak menuju Kae-in. Ia menarik tangan Kae-in dan berkata “Game over”. Kae-in kaget melihat Jin-ho disana dan terlebih lagi Jin-ho tiba-tiba menciumnya dihadapan Chang-ryul dan In-hae.

Dipublikasi di Personal Taste | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Sinopsis Personal Taste episode 9

Jin-ho mulai menyadari perasaannya pada Kae-in dan merasa kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan balas dendam Kae-in pada Chang-ryul.

In-hae datang menemui Jin-ho dikantornya, tapi Sang-joon berkata kalau Jin-ho pergi dan tak bisa di hubungi sejak tadi. Sang-joon lalu menyilahkan In-hae menunggu Jin-ho dikantornya.

Kae-in di antar pulang oleh Chang-ryul. ia juga memberitahu Jin-ho kalau ia mnegalami kecelakaan. Tapi tidak ada tanggapan dari Jin-ho dan hal ini membuat Kae-in sedikit kesal. Chang-ryul memberitahu ayahnya tentang keadaan Kae-in. Kae-in bertanya apa ayah Chang-ryul tahu tentang dirinya. Chang-ryul membenarkaan dan perkata kalau ayahnya tahu saat ia melihat Kae-in di pernikahannya.

Jin-hoo tak kunjung kembali kekantor. In-hae akhirnya mengajak Sang-joon pergi minum di warung Soju. Di sana in-hae segajak mengajak Sang-joon minnum soju banyak hingga akhirnya Sang-joon menjadai sedikit mabuk. Dan saat sudah mabuk In-hae mulai bertanya tentang Jin-ho. Ia bertanya apa ia punya kesempatan mendekati Jin-ho. Sang-joon berkata tentu saja bisa gadis seperti In-hae laki-laki mana akan menolaknya. In-hae lalu bertanya tentang pengakuan gay Jin-ho didepan Chang-ryul. Sang-joon berkata itu hanya kebohongan karena Jin-ho dan Chang-ryul adalah musuh. In-hae senang karean ia akhirnya tahu kalau Jin-ho adalah laki-laki sejati.

Saat sampai di rumah Chang-ryul ingin menemani Kae-in lagi tapi Kae-in menolak dan menyuruh Chang-ryul pergi. Tiba-tiba Young-soon datang. Young-soon khawatir setelah mnedengar kabar kecelakaan Kae-in, tapi ia menjadi kesal saat melihat Chang-ryul disana. Kae-in menyuruh Chang-ryul pergi saja karena sudah ada Young-soon yang akan menemaninya sekarang. Chang-ryul akhirnya mau pergi.

Jin-ho kembali kekantor saat semua karyawan sudah pulang. Kae-in menelepon untuk memberitahu keadaannya tapi Jin-ho bersikap dingin. Kae-in merasa anaeh ia tanya apa Jin-ho ada masalah. Jin-ho berkata kalau ia baik-baik saja. Kae-in lalu tanya kalpan Jin-ho pulang, tapi Jin-ho berkata kalau ia kana lembur hari itu kemudian menutup teleponya.

Young-soon heran kenapa Jin-ho tak merasa khawatir dengan teman serumahnya yang baru saja mengalami kecelakaan. Kae-in membela Jin-ho dan berkata kalau Jin-ho sudah minta maaf kepadanya. Young-soon lalu heran enapa Kae-in yang sedang sakit malah makan sedikit. Kae-in berkata kalau mulai saat itu ia ingin menjadi wanita yang membuat laki-laki jadi tidak konsen. Young-soon kahwatir Kae-in mau kemabali pada Chang-ryul. Kae-in segera berkata kalau Youngs-oon tak perlu kahawati karena ia sekarang sudah menjadi wanita yang berbeda dan lagi pula jika ia kembali pada Chang-ryul ia takut akan luluh dan tidak jadi balas dendam.

Tiba-tiba In-hae menelpon Jin-ho dan berakata kalau apartementnya kemalingan. Ia juga minta Jin-ho datang membantunya karena merasa ketakutan dan tidak ada lagi orang yang bisa dimintai tolong. In-hae sengaja memberantakan apartementnya. Saat Jin-ho datang ia tanya bagaiman keadaan In-hae sekarang apa masih ketakutan. Tapi In-hae langsung memeluk Jin-ho dan berkata terimakasih karena Jin-ho mau datang. Ia juga berpura-pura kalau ia tadi merasa sangt ketakutan saat melihat keadaan apartementnya berantakan seperti itu. Jin-ho tak enak tapi membiarkan In-hae seperti itu di pelukannya agar In-hae merasa tenang.

Young-soon khawatir dengan Keadaan Kae-in karean ia harus pulang menemani anaknya tidur dan Jin-ho harus lembur. Kae-in berkata kalau ia baik-baik saja. Tapi saat Young-soon sudah pergi Kae-in merasa kesepian ia bergumam Jin-ho harusnya tetap merasa khawatir dan pulang menemaninya meskipun ia sedang banyak kerjaan.
“Benar-benar orang yang tak punya perasaan” kata Kae-in.

Jin-ho membantu In-hae membereskan rumahnya. In-hae sendiri sedang membuatkan teh untuk Jin-ho. Setelah selesai beres-beres Jin-ho pamit pulang. In-hae mencegah ia minta Jin-ho minum dulu baru pulang. Jin-ho berkata kalau ia masih ada urusan. In-hae kemudian pura-pura masih ketakutan sehingga minta Jin-ho tinggal di sana malam itu. Jin-ho berkata tak enak seorang laki-laki tinggal sampai malam di tempat seorang wanita. In-hae langsung berkata bahwa itu hanya alasan karena selama ini Jin-ho tidak masalah tinggal bersama Kae-in. Akhirnya Jin-ho tak dapat menolak karena In-hae terus memohon.

Sementara itu di Sang Go-jae, Kae-in tak bisa tidur meski sudah menghitung beratus-ratus domba. Ia lalu bangun dan memarahi Jin-ho bonekanya. Jin-ho sendiri di rumah In-hae memilih tidur di sofa ruang tamu meski dipaksa In-hae untuk tidur di Kamar tidur tamu. Dan saat In-hae membawakan selimut untuk Jin-ho dan memaksa tidur di kamar tidur tamu lagi, Jin-ho memlih pulang ia berkata kalau hari sudah mulai pagi jadi In-hae tak perlu takut lagi.

Setelah bangun Kae-in mengecek kamar Jin-ho dan ternyata Jin-ho tidak pulang, ia lalu berpikir unutk membawakan baju ganti untu Jin-ho. Meski awalnya risih dan takut Jin-ho berpikir macam-macam karena ia mengambilkan pakaian dalam untuk Jin-ho, tapi akhirnya Kae-in melakukannya. “Kami kan teman” gumam kae-in.

Jin-ho sendiri ternyata kembali ke kantornya setelah dari rumah In-hae. Sang-joon yang datang terlambat langsung menemui Jin-ho untuk minta maaf. Sang-joon beralasan ia semalam pergi minum bersama In-hae hingga ia mabuk. “Nona In-hae!” kata Jin-ho kaget. “Ya” kata Sang-joo. Sang-joon lalu menjelasakan mulanya ia mengira In-hae itu sombong tapi ternyata tidak. Jin-ho khawatir Sang-joon bicara yang tidak-tidak pada In-hae, ia tanya apa yang diobrolkan Sang-joon. Sang-joon lalu pura-pura tidak ingat karena ia terlalu mabuk tadi malam. Kemudian Sang-joon mengalihkan pembicaraan dengan bertanya kenapa Jin-ho memakai pakaian yang sama dengan kemarin. Ia heran apa Jin-ho tidak pulang kemarin. Jin-ho tak mau menjawab dan hanya berkata kalau ada sesuatu yang spesial. Sang-hoon makin penasaran apa ada masalah apa hingga kemarin Jin-ho pergi buru-buru dan ta dapat dihubungi. Jin-ho tetap menyangkal dan berata tidak ada apa-apa. Mereka lalu membicarakan tentang Sang Go-jae, Sang-joon merasa harus segera mengambil gambar Sang Go-jae karena sudah terlalu lama Jin-ho tinggal di sana dan belum ada kemajuan. Jin-ho langsung tidak setuju dengan ide itu, ia berkata kalau Kae-in tak akan membiarkannya mengambil gambar Sang Go-jae. Sang-joon lalu memberi saran agar Jin-ho mengajak Kae-in pergi dan ia akan masuk mengambil gambar Sang Go-jae diam-diam. Jin-ho tetap tak setuju dan bertanya apa harus sampai seperti itu. Sang-joon berkata bahwa penyerahan draf gambar sudah hambir tiba tapi mereka belum menghasilkan apa-apa. Sang-joon lalu heran kenapa Jin-ho menurut sekali dengan Kae-in padahal setelah proyek ini selesai mereka tak perlu ketemu lagi. Jin-ho hanya diam, Sang-joon lalu merasa kalau Jin-ho mulai ada perasaan khusus dengan Kae-in. Jin-ho hanya diam. Sang-joon semakin penasaran. Jin-ho lalu menatap Sang-joon penuh arti.

Tiba-tiba Tae-hoon datang dan mengatakan kalau ada tamu. Kae-in kemudian masuk ke ruangan Jin-ho. Sang-joon heran Kae-in datang kesana pagi-pagi. Jin-ho sendiri bersikap malas-malsan bertemu Kae-in. Jin-ho dan Kae-in kemudian bicara di teras kantor. Kae-in menyerahkan baju Jin-ho yang ia bawa dan berkata kalau ia tahu Jin-ho suka yang bersih-bersih jadi pasti tidak tahan kalau memakai baju yang sama selama 2 hari. Jin-ho kaget dan berkata “Apa?? Kamu sudah buka laciku?”. “Kita kan teman. Jadi tak perlu malu” kata Kae-in. Jin-ho lalu berkata kalau kae-in tak pelu repot seperti itu. Kae-in sedikit kesal dan berkata cukup ucapakan terimakasih kepadanya itu sudah cukup. Jin-ho lalu mengucapkan terima kasih dengan dingin. Kae-in lalu tanya apa Jin-ho merasa bersalah kepadanya. Jin-ho tak tahu maksudnya. Kae-in lalu berkata apa Jin-ho merasa bersalah karena tidak menemaninya saat ia mengalami kecelakaan. “Tidak” kataa Jin-ho dingin. Kae-in kesal kenapa Jin-ho tak punya rasa khawatir kepadanya. “Kenapa aku harus khawatir padamu?” tanya Jin-ho dingin. Kae-in terdiam kecewa mendengarnya. Jin-ho lalu berkata bukankah hati Kae-in sudah ditetapkan untuk balas dendam. Kae-in berkata bahwa sekarang mereka membicarakan pertemanan mereka bukan tentang masalah balas dendamnya. Jin-ho lalu berkata dengan tegas bahwa Kae-in harus fokus dengan tujuannya bukan hal lainnya. Jin-ho lalu menyuruh Kae-in pulang karena ia masih ada kerjaan. Kae-in bertanya apa Jin-ho ta ada hal lain yang dipikirkan selain masalah pekerjaan. “Ya, tidak ada” kaa Jin-ho dingin. Kae-in lalu pulang dengan perasaan kecewa.

Hari itu Kae-in bekerja sambil terus mengomel tentang sikap Jin-ho kepadanya. Tiba-tiba Do-bin datang dan mendengar omelan Kae-in. Kae-in kaget melihat Do-bin di sana. Do-bin pun kaget melihat luka di kepala Kae-in. Kae-in berkata kalau ia hanya mengalami luka sedikit saja jadi Do-bin tak perlu khawatir kepadanya. Do-bin lalu tanya apa yang sedang dilakukan Kae-in kenapa membuat bentuk yang sama dalam jumlah banyak. Kae-in berkata ia sedang membuat diafragma. “Diafragma?” tanya Do-bin. Kae-in lalu menjelaskan kalau ia ingin menumpu bentuk-bentuk itu jadi satu dinding diafragma. “Bermacam-macam warna. Seharusnya anak-anak pasti suka” kata Do-bin. “Ya. Barang yang berwarna-warna akan memberi reaksi pada otak anak-anak” Kata Kae-in. Do-bin berkata kalau ia suka ide itu. Kae-in lalu mengatakan terima kasih karena Do-bin memberi kesempatan kepada perusahaannya Jin-ho. Do-bin berkata kalau semua itu berata dukungan Kae-in waktu itu sehingga ia bisa membuat keputusan besar seperti itu. Kae-in lalu mengajak Do-bin minum kopi bersama dan Do-bin dengan senang hati menerimanya.

Ya walaupun Cuma kopi murahan tapi Do-bin senang menerimanya. Mereka lalu minum di sudut gedung Meiseu. Do-bin lalu tiba-tiba tanya apa baiknya cinta sepihak. “Cinta sepihak!” kata Kae-in. Kae-in lalu menjelaskan kalau cinta sepihak tidak memerlukan uang karena jika pasangan kekasih maka mereka biasanya akan saling berikan barang untuk psangannya. “Tidak ada batas.. juga sangat bebas” kata Do-bin menambahkan. “Tidak perlu di mana saja memikirkan pihak lawan, sehingga irit banyak hati” kata Kae-in. “Tidak perlu berharap mendapatan balsan dari pihak lawan karena hanya memandang pihak lawan sudah cukup” kata Do-bin. “Lagipula bila kita ingin mengakhirinya, mak bisa kapan saja berakhir. Dan hanay akan ada satu orang yang sedih” kata Kae-in sambil berpikir sesuatu. “Bagian ini sepertinya kau lebih pintar dari pada aku” kata Do-bin. Kae-in dengan bangga berkata kalau itu adalah salah satu kepandaiannya. “Apa sekarang kau sedang cinta sepihak dengan seseorang” tanya Do-bin. “Ehm.. aku tak tahu apa ini termasuk cinta atau bukan. Di dalam hati selalu merasa khawatir dengan keadaan orang itu tapi juga takut ia meras ada beban karena permasalahan ini. Jadi saya sedang belajar besabar” kata Kae-in. “Pasti bukan hal mudah” kata Do-bin. “Benar, oleh karena itu saya sedang berusah fokus dengan yang lainnya. Saya ini orang yang sangat bodoh hanya bisa fokus pada 1 hal saja” kata Kae-in. “Aku harusnya juga berbuat begitu” kata Do-bin. “Apa kau juga sedang merasakan cinta sepihak pada seseorang?” tanya Kae-in. “Harusnya Ya” kata Do-bin. “Tak peduli bagaiman. Orang yang cinta sepihak adalah orang yang berani karena tak semua orang berani merasakan cinta. Orang yang di suai kepala Choi mungkin juga bukannya tidak suka tapi mungkin ia ingin mendapat pengakuan dari semua orang dengan pekerjaannya. Aku merasa seharusny dia orang yan gseperti itu bukan?” kata Kae-in. “Apa maksudmu adalah jangan menyerah?” tanya Do-bin. Kae-in terdiam lalu menjawabnya dengan lelucon. Mereka pun tertawa bersama dan berikrar menjadi adik dan kakak kelas dalam urusan cinta sepihak.

Jin-ho datang ke gedung Meiseu untuk bertemu Do-bin, tapi ia tak sengaja berpapasan dengan In-hae. di sudut lain Kae-in tak sengaja melihat mereka berdua dan berhenti untuk medengar pembicaraan mereka. In-hae bertanya apa Jin-ho tidak capaek setelah tidak bisa tidur di apartementnnya. Jin-ho tak tertarik membahasnya. In-hae terus berkata kalau ia sangat Khawatir pada Jin-ho karean kejadian semalam ia takut mengganggu kerja Jin-ho. Ia lalu mau mengajak Jin-ho pergi setelah bertemu dengan etua Choi. Jin-ho tak menjawab ajakan itu dan segera pamit pergi. Sementara itu Kae-in terkejut mendengara jIn-ho bermalam di apatement In-hae.

Di tempat lain ayah Chang-ryul bertanya bagaimana hubungan Chang-ryul dengan putri Prof. Park. Chang-ryul berkata kalau masih berjalan dengan baik jadi ia belum sempat bicara dengan Kae-in tentang Prof. Park. Ayah Chang-ryul berkata bahwa peyerahan draf gambar proyek museum tak lama lagi. Chang-ryul berkata kalau Kae-in bukan orang yang mudah dikontrol. Ayah Chang-ryul lalu berkata bukankah Chang-ryul sudah bersikap baik pada Kae-in tapi kenapa bisa belum bisa meluluhkan Kae-in. “Kae-in bukan wanita seperti itu” kata Chang-ryu. “Aigoo.. kau membuatku malu saja tidak bisa menaklukan seorang wanita seperti itu. semua wanita sama. Kamu tak liahat bagaiman ada banyak wanita disisiku” kata ayah Chang-ryul. Chang-ryul mulai kesal karena ayahnya menyuruhnya menirunya. Ayah Chang-ryul berkata kalau ia hanya tida ingin Chang-ryul dikontrol oleh seorang wanita. Chang-ryul berkata kalau Kae-in sekarang masih sedih dengan kelakuannya dulu jadi dia ingin menujukan kesungguhan hatinya dulu. Ayah Chang-ryul mengingatkan bahwa sudah tidak ada waktu lagi, ia lalu merasa kesal pada Kae-in karena ia telah bicara dengan jelas pada Kae-in agar bisa memaafkan kelakuan Chang-ryul dulu. Chang-ryul kaget dan kesal ayahnya bertemu dengan Kae-in untuk membicarakan itu. Ayah Chang-ryul kaget dan kesal melihat reaksi Chang-ryul seperti itu. Chang-ryul pun tak kalah kesal, ia lalu minta ayahnya tidak mencampuri urusan hidupnya lagi.

Do-bin ternyata memanggil In-ho untuk memberikan beberapa gambar referensi arsitek terkenal yang bisa di jadikan sumber ide buat jIn-ho mendesai Museum. Jin-ho jadi tak enak. Do-bin berkata kalau ia memberikan itu bukan karena perasaannya pada Jin-ho tapi karena ia sebagai teman Jin-ho ingin Jin-ho berusaha kesam memberikan yang terbaik. Tapi Jin-ho tetap menolaknya, ia berkata kalau ia bisa memenangkan tander kalai ini dengan kemampuannya sendiri. Do-bin jadi gugup dan berkata kalau ia sebenarnya sudah tahu pemberiannya itu akan ditolak tapi ai tetap memanggil Jin-ho karena ia sudah merasa bosan. Jin-ho kaget mendengarnya. Do-bin menjelaskan kalau ia bosan karena setiap hari duduk di depan simulasi arsitektur dan tidak ada teman yang bisa diajak bercanda. “Raja malah lebih kesepian dari pada rakyatnya” kata Do-bin. Jin-ho tertawa mendengarnya. Do-bin lalu tanya apa Jin-ho sudah tidak lagi marah karena ia memanggilnya. Jin-ho berkata tentru saja tidak. Do-bin lalu memberanikan diri bertnaya apa Jin-ho kelak bisa datang jika ia panggil karena ia merasa bosan. Jin-ho berkata tentun saja bisa asal ia diberi lebih banyak referensi lagi. Kali ini Do-bin yang tertawa mendengarnya. “Jadi apa kita bisa begini terus saling memahami” kata Do-bin tiba-tiba. Jin-ho kaget mendengarnya. “Nona Park Kae-in berkata hanya orang yang punya keberanian yang bisa merasakan cinta. Hari ini saya telah membangitkan keberanian yang sanngat besar untuk mengungkapkan ini” kata Do-bin

In-hae dan Jin-ho pergi makn berdua disebuah restoran .Di sana In-hae terus membicarakan tentang hubungan Chang-ryul dan Kae-in. Tapi Jin-ho tak mendengarkannya dan malah membayangkan kejadian tadi. In-hae menegurnya hingga Jin-ho sadar dari lamunannya. In-hae lalu mengucapkan terimaksih kepada Jin-ho karena membantunya kemarin malam dan untu itu ia ingin mengajak Jin-ho minum anggur di apartementnya. Jin-ho menolaknya. In-hae lalu minta ijin minum obat. Jin-ho tanya apa In-hae sedang sakit. In-hae berpura-pura dengan berkata kalau ia masih kaget denagn kejadian kemarin jadi badannya sedikit tidak sehat. Ia juga berkata kalau ia takut pulang, dan minta diantar pulang oleh Jin-ho.

Jin-ho mengantar In-hae sampai apartementnya. Setelah mengecek keadaan apartemnt In-hae Jin-ho pamit pulang dan menyuruh In-hae masuk saja. Tapi In-hae tiba-tiba mencium Jin-ho. Jin-ho kaget dan segera melepaskannya. “Kamu sedang buat apa!” kata Jin-ho kesal. “Kamu tidak suka wanita atau tidak suka padaku” kata In-hae. Jin-ho kesal dan berkata kalau ia heran dengan kelakuan In-hae. In-hae menyuruh Jin-ho menganggapnya sebagai pengakuan kalau ia menyukai Jin-ho dan kelak ia akan masuk dalam piiran dan hati Jin-ho. Jin-ho berkata kalau itu tidak akan mungkin. In-hae berkata walaupun ia pernah gagal tapi ia pikir ia tidak akan gagal untu kkedua kalinya. Jin-ho menyuruh In-hae cari orang lain saja karena ia salah orang. In-hae menegasakan bahwa ia kali ini tidak akan salah orang dan berkata kalau ia akan tetap mengejar Jin-ho. Jin-ho pamit pergi. In-hae berteriak bahwa cepat atau lambat Kae-in aan tahu kalau mereka satu jenis (bukan gay). Ia juga berkata bahwa barang yang ia inginkan pasti ia akan dapatkan. tapi Jin-ho tetap pergi dari sana.

Di kantor Jin-ho. Sang-joon sedang memikirkan cara bagaiman bisa mengambil gambar Sang Go-jae. Tae-hoon tiba-tiba datang mau pamit pulang. Sang-joon tiba-tiba dapat ide. “Kau iutaku sekarang ke Sang Go-jae” kata Sang-joon. “Sekarang? Kenapa malam-malam begini” tanya Tae-hoon. “Kau harus kerja hingga malam hari ini” kata Sang-joon. Ternyata Sang-joon meminta Tae-hoon membantunya untuk mengambil gambar Sang Go-jae dan Tae-hoon tentu saja menolaknya. Tapi Sang-joon terus memohon dan memaksa Tae-hoon meski mereka telah sampai rumah Tae-hoon. Hye-mi datang ke rumah Tae-hoon dan melihat Sang-joon tengah memohon-mohon dengan cara “aneh”. Hye-mi langsung sembunyi dan bergumam “Dua orang ini kenapa begitu? Oppa Sang-joon jangan-jangan benar-benar suka laki-laki”. Tae-hoon akhirnya luluh dan mau membantu Sang-joon dan mereka pergi lagi naik mobil.
Hye-mi mengikutinya dengan taksi.

Chang-ryul mengantar Kae-in pulang. Chang-ryul mengkhawatirkan kesehatan Kae-in. Tapi Kae-in cuek saja dan mau langsung rurun saja. Saat sampai di depan Sang Go-jae. Kemudian dengan sedikit rasa takut Chang-ryul berkata kalau ia sudah dengar ayahnya menemui Kae-in. Chang-ryul menyakinkan Kae-in bahwa bukan karena ayahnya ia mau kembali berhubungan dengan Kae-in. “Kenapa aku harus percaya padamu?” kata Kae-in dingin. Chang-ryul menjelasakan ia bukan orang yang tak berperasaan mau kembali hanya karena sekarang ia tahu Kae-in putri Prof. Park. “Bukankah perusahaanmu sekarang membutuhkan ayahku?” kata Kae-in. “Tentu saja bukan, itu hanya pemikiran ayahku saja” kata Chang-ryul. Kae-in tak tahan lagi ia berkata kalau sekarang ia sulit percaya pada Chang-ryul. “Kalau kamu tak percaya.. juga tak apa-apa” kata Chang-ryul sedih. Kae-in merasa tak enak, ia kemudian mengalihakan pembicaraan dengan berkata kalau ia sudah capek dan mau masuk ke dalam saja. Kae-in turun dan Chang-ryul ta dapat mencegahnya. Chang-ryul kemudian melihat bunga yang ia berikan tadi di tinggal begitu saja oleh Kae-in.

Sang-joon dan Tae-hoon telah sampai di deepan Sang Go-jae. Tae-hoon masih ragu hingga tak mau segera turun dari mobil. Ia menyakinkan Sang-joon bahwa tindaannya gila. Sang-joon berkata itu demi kelangsungan hidup perusahaan mereka jadi ia minta Tae-hoon menyelesaikannya sebelum Jin-ho datang. Tae-hoon teap tak mau dan berkata sebainya menunggu Jin-ho pulang saja. Tiba-tiba Hye-mi datang mengetuk jendela mobil. “Jadi ini adalah tempat tinggal Oppa Jin-ho” kata Hye-mi senang dan alangsung mau masuk ke dalam. Sang-joon dan Tae-hoon kaget serta panik. Mereka lalu buru-buru keluar untuk mencegah Hye-mi. “Kamu kenapa bisa di sini?” tanya Sang-joon sambil melirik Tae-hoon. “Tidak.. tidak.. bukan aku. Au satu kalimat pun tidak katakan” kata Tae-hoon. “Kalian sedang laukan apa. Kenapa masih tidak mau masu” kata Hye-mi. Sang-joon dan Tae-hoon mencegah Hye-mi lagi dan menarinya masu kedalam mobil. Mereka bertiga masuk edalam mobil. Hye-mi kesal ia bertanya apa yang sedang dilakuan merea berdua keapdanya. “Apa ada sesuatu yang kalain sembunyikan dariku?” kata Hye-mi. Sang-joon dan Tae-hoon bingung bagaiman menjelasakan keadaan sesungguhnya. Tiba-tiba Hye-mi berteriak “Itu.. wanita itu” kata Hye-mi saat melihat Kae-in keluar untuk membuanng sampah. Sang-joon dan Tae-hoon panik, mereka mendorong Hye-mi menunduk agar tak ketahuan Kae-in. “Bukankah wanita itu yang ada di pesta. Jangan-jangan.. apa Oppa Jin-ho tinggal bersama wanita ini!” kata Hye-mi mengelak bersembunyi. Sang-joon mau menjelasan, tapi Hye-mi mau keluar. Tae-hoon mencegah. Hye-mi tak bisa tenang melihat Jin-ho tinggal dengan Kae-in. Sang-joon panik dan berteriak “Sudah ku katakan bukan” sambil memukuli kursi. Hye-mi dan Tae-hoon kaget melihat reaksi Sang-joon seperti itu. “Kamu pulang ke rumah. Kamu antar dia. Aku sendiri yang akan kerjakan” kata Sang-joon yang kemudian turun dari mobil.

Sang-joon masuk kedalam Sang Go-jae. Sang-joon berakaata kalau ada brang yang ketinggalan sehingga ia datang malam-malam kesana. Kae-in heran tapi ia menyilahkan Sang-joon menunggu Jin-ho di dalam kamar Jin-ho. Sang-joon minta ijin agar ia bisa melihat-lihat Sang Go-jae. Kae-in kaget mendengarnya. Sang-joon beralasan bahwa rumah seperti Sang Go-jae adalah tumah impiannya kelak jika ia punya istri dan anak. Kae-in heran Sang-joon bukankah Sang-joon gay kenapa mau punya istri dan anak. Sang-joon buru-buru menambahkan kalau itu impian ibunya dan ia sedih sekali tak dapat mengabulkan impian ibunya. Kae-in merasa tidak enak dan minta maaf karenanya. Sang-joon sambil pura-pura sedih minta dibutkan minum oleh Kae-in. Kae-in langsung pergi membuatkan minuman. Sang-joon lalu beraksi ia mengeluarkan kamera dan mulai pergi memotret detail-detail Sang Go-jae.

Jin-ho datang ia heran melihat sepatu tapi tak ada satu orang pun di sana. Kae-in datang membawa minuman Sang-joon. Karena kejadian tadi siang hubungan mereka jadi canggung. Kae-in berkata kalau Sang-joo datang tepat saat Jin-ho tanya siapa yang datang. “Hyung Sang-joon ada di mana?” kata Jin-ho. Kae-in baru sadar dan heran, ia berkata kalautadi Sang-joon benar-benar ada di sana. Jin-ho berkeliling mencari Sang-joon dan menemukan Sang-joon sedang ada di belakang memotret detail Sang Go-jae. “Kamu sedang lakukan apa?” kata Jin-ho. “Tidak lihatkah! Tentu saja sedang kerja” kata Sang-joon sambil menunjuan kamera yang ia bawa. “Jangan lakukan” kata Jin-ho sambil mengambil kamera itu dari tangan Sang-joon. “Kenapa.. kenapa tidak biarkan aku mengambil gambar Sang Go-jae. kamu coba pikirkan lagi tujuanmu masuk ke dalam Sang Go-jae. Jangan-jangan kamu ada perasaan dengan nona Kae-in ya? Kau seharuany bisa membedakan permasalahan pribadi dengan kantor!” kata Sang-joon. “Ya. Aku tak bia membedakan masalah pribadi dengan masalah perusahaan” kata Jin-ho. “Kamu sadarlah! Kamu lebih tahu dari siapapun seberapa penting permasalahan ini” kata Sang-joon. “Ya. Karena tahu maka tak ingin demi keuntunga nsendiri melukai perasaan orang lain” kata Jin-ho. “Siapa yang terluka?” kata Sang-joon. “Kamu apa benar-benar tidak tahu! Hal seperti ini pasti akan membuat Park Kae-in mati dua kali.. tidak tahukah kamu?”.. “Perasaanmu.. apa benar-benar sudah sampai tahap seperti itu. Demi wanita.. kamu bisa menyerah dalam kariemu” kata Sang-joon heran meliaht reaksi Jin-ho. Jin-ho hanya tertunduk.
Tiba-tiba ada suara Kae-in memanggil-manggil Sang-joon. Sang-joon panik dan segera kabur dari sana. Jin-ho kelau menemui Kae-in. “Kamu di sini sedang buat apa?” tanya Kae-in. Jin-ho hanya menunjuk arah belakang. “Sang-joon pergi ke mana? Apa kalian berdua sedang bertengkar?” tanya Kae-in. “Ya” kata Jin-ho. Sang-joon menguping pembicaraan mereka. “Kenapa?” tanya Kae-in lagi. “Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu” kata Jin-ho serius. “Jika hal itu (kejadian tadi siang).. aku tak mau mendengarnya” kata Kae-in mau pergi. Jin-ho mencegah dengan menarik tangan Kae-in. “Kamu kira aku akan katakan apa? Walau tak ingin dengar coba dengarkan dulu. jika bukan hari ini, aku merasa selamanya tidak akan bisakatakan keluar lagi” kata Jin-ho. Kae-in lalu mau mendengar. “Aku masuk Sang Go-jae… adalah demi..”. Tiba-tiba Sang-joon datang pura-pura sedang mencari kucing. “Kae-in, apa kau memelihara kucing?” tanya Sang-joon. “Kucing?” kata Kae-in heran. “Iya tadi aku melihatnya disana sangat cantik” kata Sang-joon menujuk tempatnya. Kae-in bingung mendenagarnya. Sang-joon berkata mungin itu kucing tetangganya dan tak bisa pulang. Kae-in merasa kadihan dan minta ditunjukan tempatnya. Kae-in pergi mencari kucing itu setelah diberitahu tempatanya. “Kamu jangan katakan! Apa pun jangan katakan!” kata Sang-joon pada Jin-ho. “Hyung!”. “Tolonglah.. kalau kamu katakan satu kalimat lagi, aku aan langsung menggigit lidahku bunuh diri”. Tiba-tiba Kae-in datang dan berkata kalau ia tidak melihat kucing itu. Sang-joon berata mungkin sudah pulang, ia lalu minta minumannya tadi.

Sementara itu Hye-mi pulang ke rumah Jin-ho dalam keadaan menangis. Ibu Jin-ho heran, ia tanya ada masalh apa. Hye-mi sambil menangis berkata kalau Jin-ho tinggal dengan seorang wanita. Tae-hoon refleks alangsung menutup mulut Hye-mi dan menjelaskan pada ibu Jin-ho kalau bukan seperti itu kejadiannya. Hye-mi memberontak dan berteriak kalau Jin-ho tinggal dengan wanita yang di ajaknya kepesta dulu. “Apa!” teriak ibu Jin-ho kaget. Tae-hoon langsung bersujut adn minta ibu Jin-ho mengerti bahwa Jin-ho melakukan itu semua demi perusahaan. “Apa hubungannya perusahaan dan wanita itu?” tanya ibu Jin-ho. Tae-hoon sulit menjelaskannya. Hye-mi sudah kesal ia minta Tae-hoon jangan menyembunyikan sesuatu pada mereka lagi.

Jin-ho habis mengantar Sang-joon pulang. Kae-in melihatnya dengan pandangan aneh. Jin-ho langsung mau masuk kamarnya. Kae-in kesal mengingat perkataan In-hae pada Jin-ho di gedung Meiseu, ia lalu menyindir Jin-ho yang terlihat sibuk akhir-akhir ini hingga membawa kerjaan pulang atau hanya pura-pura sibuk. Jin-ho berhenti, ia juga kesal mengingat sikap Kae-in pada Chang-ryul tadi siang. “Selamat padamu” kata Jin-ho tiba-tiba. Kae-in kaget. “Jadi wanita yang menerima bunga dari laki-laki. Baik-baik merawatnya dan simpa selamanya” kata Jin-ho lagi. “Kenapa kau begitu menyindirku. Kamu jelas tahu aku apa tujuanku melakukannya!” kata Kae-in. “Aku benar-benar dengan tulus ingin mengucapkan selamat padamu, apa aku salah? Ekspresimu saat menerima bunga itu sangat tak biasa” kata Jin-ho. “Jika kamu bilang permainan berakhir. Akau akan segera mengakhirinya” kata Kae-in. “Itu bukan masalahku. Mau akhiri atau tidak itu pilahnmu” kata Jin-ho lalu pergi masuk kamarnya

“Kenapa jadi begini kekanak-kanakan” gumam Jin-ho didalam kamar. Tiba-tiba In-hae menelepon dan Jin-ho tak mau mengangkatnya. Kae-in pun bekerja di bengkelnya dengan perasaan kesal. Ia sengaja memukul keras-kerasa sat melihat Jin-ho keluar dari kamarnya. Tiba-tiba In-hae telepon, Kae-in dengan malas-malasan menerimanya. Kae-in tanya ada urusan apa In-hae meneleponnya. In-hae berkata kalau ia tidak mencari Kae-in tapi ia mncari Jin-ho dan minta Kae-in menyerahan teleponya kepada inho sebentar. Kae-in sebetulnya tak mau tapi In-hae meakasa. Kae-in mengetuk kamar mandi, kemudian masuk dan menyerahkan telepon dari In-hae dengan malas-malasan dan berkat asepertinay ada keadaan darurat. Kae-in keluar sambil membanting pintu dan Jin-ho menerima telepon In-hae itu. In-hae minta maaf atas kejadian tadi, tapi ia juga berkata kalau ia tak bisa menahan perasaannya lagi. Jin-ho tak mau mendengarnya lagi dan berkata kalau akan menutup teleponnya.

Jin-ho keluar dan menyerahkan telepon Kae-in sambil bicara apa Kae-in tak tahu kalau ia tak mau menerima telepon dari In-hae. Kae-in yang tadi sudah kesal tambah kesal dikatai seperti itu. “Bagaiman mungkin aku tahu hal itu” kata Kae-in kesal. “Tidak peduli bagaimana. Kenapa kamu hal seperti ini pun kamu mau lakukan? Bukankah In-hae sudah mengkhianatimu” kata Jin-ho tak kalah kesal. “Itu adalah masalhku dengan In-hae. Aku tak tahu kau dan In-hae ada masalah apa di rumah In-hae.. Di rumah In-hae menginap bersama” kata Kae-in kesal. Jin-ho kaget mendengarnya. “Kamu.. bagaiman bisa tahu” kata Jin-ho. “Aku tak sengaja mendengarnya” kata Kae-in. Kae-in mau pergi, tapi berbalik lagi dan berkata “Tidak bisa karena kau dan kamu adalah teman. Jidi aku tak akan biarkan kamu ada hubungan dengan In-hae. Aku tahu In-hae adalah orang penting dalam perusahaan Maiseu dan bisa sangat membantu Jin-ho. Aku merasa kelak ia akan menjadi orang yang penting bagimu. Aku bagaiman bisa tidak menerima teleponnya” kata Kae-in menjelaskan alasannya menerima telepon itu. Ia kemudian kembali ke bengkel kerjanya dan memukul-mukul sambil kesal. Jin-ho datang menghentikannya . “Apa kau ingin terluka lagi!” kata Jin-ho. “Apa hubungannya denganmu” kata Kae-in mengelak. “Karena rumah In-hae kecurian makanya baru pergi ke sana” KATA Jin-ho tiba-tiba. Kae-in kaget mendengranya. “Waktu kau telepon aku, aku masih ada di kantor. Ah.. benar-benar tak tahu kenapa aku harus menjelasakn ini padamu” kata Jin-ho. “Apa di bertemu dengan pencurinya? Terlua tidak?” tanya Kae-in khawatir. “Kamu sekarang khawatir dengannya? Kamu ini benar-benar…” kata Jin-ho. “Jika hal seperti ini kenyataannya kamu kan bisa katakan padaku dulu” kata Kae-in. “Apa itu perlu? Akau tak mau menyombongkan diri utnuk dapat pujian” kata Jin-ho. “Walaupun aku tahu kamu tidak seperti laki-lak lain yang bisa melakukan hal-hal “itu”. Tapi waktu aku mendengarnya, aku merasa sangat bingung. Aku merasa teman paling baikku di dunia ini pun akan direbut In-hae juga” kata Kae-in sedih. “Tidak akan begitu” kata Jin-ho. Kae-in tersenyum tipis dan berkata “benarkah”. Tiba-tiba ada suara telepon. Kae-in mengangkatanya dan ternyata dari Chang-ryul. Jin-ho kesal dan pergi dari sana.

Chang-ryul memberitahu kalau ia sedang mabuk. Kae-in berkata kalau mabuk sebaiknya Chang-ryul tidur saja. Chang-ryul mengatakan kalau Kae-in meninggalkan bunga pemberiannya di mobil. Ia menebak Kae-in pasti tak tahu hal itu. Kae-in berkata kalau ia lupa. Chang-ryul berkata bagaiman bisa Kae-in melupakan bunga pertama pemberiannya, padahal dulu Kae-in selalu menghargai pemberiannya meski itu sebuah gantungan kunci tapi kenapa sekarang tidak. Kae-in tak mau mendengarnya lagi dan berkata kalau ia akan meutup teleponnya.

Kae-in lalu keluar ia melihat kamar Jin-ho dengan perasaan hawatir apa yang akan dipikirkan Jin-ho tentangnya. Sementara Jin-ho dalam juga memikirkan kae-in. Kae-in kembali kekamarnya. Mereka berdua tidak bisa tidur malam itu salang memikirkan satu sama lain.

Keesokan harinya. Kae-in menelepon pegawai pabrik kayu dan mengabarkan kalau kayu pesanannya sudah datang. Pegawai tanya bagaimana keadaan kae-insekarang. Kae-in berkata kalu ia baik-baik saja. Pegawai pabrik kayu lalu berkata kalau Kae-in benar-benar beruntung karena banyak orang yang mencintainya. Kae-in kaget mendengarnya. Pegawai menjelaskan bahwa ada 2 orang anak muda yang khawatir dengan keadaan Kae-in saat itu. yang pertama yang menemani Kae-in ke rumah sakit dan yang kedua menelepon tanya dimana rumah sakit Kae-in berasa. Kae-in kaget ada orang yang telepon menanyakan keadaannya. Pegawai pabrik kayu tanya apa Kae-in tidak bertemu dengannya padahal ia sudah memberitahu alamatnya. Ia juga memberittahu bahwa nada orang yang telelpon itu sepertinya sangat khawatir dengan keadaan Kae-in saat itu. Kae-in tak percaya mendengarnya.

Kae-in lalu telepon Jin-ho dan minta bertemu. Mereka lalu bertemu di sebuah taman. Kae-in membawa bekal makanan. Kae-in berkata kalau sudah lama ia ingin melakukan hal seperti itu dengan pacaranya. Jin-ho berkata agar Kae-in melakuannya denga nChang-ryul. Kae-in lalu berkata enapa Jin-ho bicara seperti itu padahal ia tahu masud Kae-in sebenarnya pada Chang-ryul. “Aku tak tahu” kata Jin-ho. “Sudahlah aku demi mau membuatmu senang sudah berusaha seperti ini” kata Kae-in. “Kalau begitu semua ini yang kamu buat sendiri kah?” kata Jin-ho. “Sebenarnya ingin seperti itu, tapi karena kemampuan tak cukup jadi membelinya. Kamu coba rasakan ini. Ini adalah sayur uungu bertenaga setan. Tak peduli bagaiman makan masih akan ingin makan lagi” kata Kae-in. “Semua nasi gulung sama” kata Jin-ho. “Kau bukankah tiap hari juga ditipu orang. Cepat sedikit. Buka mulumu.. a..a..” kata Kae-in sambil menyuapi Jin-ho. Jin-ho akhirnya mau memakannya. “Bagaimana? Enak kan? Ini karena sudah dimasukan bahan sepesial dari Park Kae-in baru jadi begini” kata Kae-in bangga. Jin-ho kaget mendengarnya. Kae-in menjelaskan kalau ia telah mendenagra kalau Jin-ho datang ke ruamh sakit saan ia kecelakaan. “Kenapa pernah datang tapi katakan tak pernah datang”. “Aku tidak harus pergi halangi kalian”. “Kamu bukannya tidak tahu aku ada di pabrik kayu mana”. “Bahan kayu Zhen Ying. Tinggal telepon 114 akan tahu” kata Jin-ho. “Aigoo.. kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat. Aku jadi makin terharu” kata Kae-in sambil memukul Jin-ho. “Hanya karena kaget.. mkanya pergi lihat. Jangan terlalu diperbesar” kata Jin-ho merendah. “Tapi akau ingin memperbesarnya”. Jin-ho kaget mendengarnya. “Karena teman jadi baru bisa khawatir bukankah begitu” kata Kae-in membahi. “Jin-ho, bagaimana jika aku adalah laki-laki? Apakah kau akan ada sedikit rasa suka padaku?”. “aku tak bisa membayangkannya” kata Jin-ho. “tak bisa bayangkah!” Kae-in lalu mengambil rumput laut dan memasangannya di mulutnya sehingga mirip kumis. “Bagaiman?” kata Kae-in. Jin-ho tertawa melihatnya. “Baiklah.. hari ini aku jadi pacar laki-lakimu” kata Kae-in. “Apakah aku ganteng? Sangat bagus kan!”. Jin-ho tertawa meliahtnya.

Mereka lalu pergi kepusat perbelanjaan. Kae-in mengubah penampilannya jadi laki-laki dan menghampiri Jin-ho yang sedang berada di photo box. Jin-ho kaget dan geli melihat penampilan Kae-in. “Kamu sudah lakukan apa?” kata Jin-ho. Mereka tertawa berdua kemudain foto bersama dengan penampilan itu. Saat sudah selesai Jin-ho menyuruh Kae-in kembali kepenampilan semula tapi Kae-in menolak. “Aku tak ingin jalan dengan wanita gila sepertimu” kata Jin-ho. Tiba-tiba Kae-in memukul Jin-ho. “Tenagaku sangat mirip laki-laki kan?”. Jin-ho malu dan meninggalakan Kae-in. Kae-in mengejarnya terus.

Sementara itu Chang-ryul mendapat laporan dari orang suruhannya bahwa Jin-ho itu benar-benar laki-laki sejati sejak kecil tidak ada satu pun bukti yang menunjukan dia gay. Chang-ryul kaget mendengarnya.

Kae-in dan Jin-ho ketempat permaianan game. Tiba-tiba Chang-ryul menelepon, Kae-in tak mau mengangkatanya. “Teman. Ayo kita Main saja” kata Kaae-in. Mereka lalu main tembak-tembakan. Sepasang remaja di sebelah mereka heran melihat mereka. Si perempuan bilang kenapa laki-laki tampan seperti Jin-ho mau bersama dengan seorang gadis yang berpenapilan laki-laki seperti Kae-in. Kae-in terganggu mendengarnya, Jin-ho minta Kae-in konsentrasi saja pada permainan. Si teman pria bilang laki-laki tampan apa, tampan seperti bebek seperti itu di bilang tampan. Alai ini Jin-ho yang terganggu mendengarnya, Kae-in memarahi Jin-ho karena membuat pemainan mereka kalah.

Di perjalanan pulang Kae-in kesal dengan omongan anak-anak tadi dan juga geli melihat reaksi Jin-ho saat dikatakan seperti bebek. Jin-ho minta mereka tidak usah membahasanya lagi, ia lalu tanya sampai kapan Kae-in akan berpenampilan seperti laki-laki. “Jin-ho kamu bisa tidak pakai pakaian wanita. Aku meresa akan sangat menarik” kata Kae-in. “Aku bukan orang gila. Bagaimana mungkin memakai pakaian wanita” kata Jin-ho menolak. “Dengan nama pertemanan, bukankah seharusnya kamu disa melakukannya” kata Kae-in. “Kamu ini kenapa selalu memaai nama pertemanan untuk menyuruhku pergi bunuh diri” kata Jin-ho. Kae-in lalu berakting dan berkata kalau ia terharu sekali mendenagrnya. Jin-ho malu melihat tikah Kae-in itu dan meninggalkan Kae-in. “Sangat memalukan” kata Jin-ho sambil berjalan pergi. “Teman.. Hai teman kamu mau pergi kemana” teriak Kae-in mengejar. Jin-ho menoleh, Kae-in terdiam sambil memandang Jin-ho.

Dalam hati Kae-in bergumam “Park kae-in. Laporan cuaca besok: aku sudah lam memikirkannya. Apa yang bisa aku lakukan untuk berterima kasih padamu? Aku pernah ingin mengatakan kalau aku mencintaimu. Tapi aku tak punya keberanian seperti itu jadi aku bersedia menjadi seorang laki-laki yang sama mencintaimu seperti aku. Aku harap kamu bisa melihat dan tergerak hatinya karena melihat begini. Mulai hari ini laporan cuaca kan tidak jelas. Laporan cuaca Park Kae-in”

Kae-in lalu berlari mengejar Jin-ho sambil terus pura-pura jadi laki-laki. Chang-ryul datang ke Sang Go-jae menggedor-gedor pintu ingin bertemu Kae-in. Tpi Kae-in belum pulang, Chang-ryul lalu menelepon In-hae. “Chang-ryul, ada apa kau menghubngiku?” kata In-hae. “Apa kau sedang bersam Jin-ho sekarang ini?”. “Kamu kenapa tanya ini? Chang-ryul kau hanya perlu perhatian pada Kae-in sudah bisa kan?”. “Kamu jawab saja! Sebenarnya apa kamu bersama dengan atau tidak bisa kan?”. “Sebenarnya kenapa?”. “Aku khawatir ia hanya pura-pura baik pada Kae-in. Aku khatir jika iam asih bersama Kae-in”. “Kenapa? Kamu sekarang di mana?”. “Kenapa sekarang aku harus bertemu denganmu? Hari ini aku ingin bertemu Kae-in membongkar semua kebenaran tentang Jin-ho” kata Chang-ryul kesal sambil menutup teleponnya.

Sementara itu. “Teman kita minum dulu baru balik, bagaimana?” kata Kae-in. “Tidak berminat, teman”. “Diantara laki-laki bukankah seharusnya bersama minum sedikit soju dulu baru ngobrol secara terbuka”. Jin-ho tak tahan ia mencobot dandannan Kae-in secara paksa. “Jangan lakukan lagi..cabut saja” kata Jin-ho. “Kamu buat apa?” tanya Kaein. “Ini juga” kat jin-ho sambil mencabut kumis palsu Kae-in. “Ao..”. “Sakitikkah?”. “Tentu saja sakit, bagaiman mungin tidak sakit”. “Aku sudah bilangkan tadi.. kamu kenapa lakukan hal seperti ini?”. “Aku khawatir ehidupan yang akan datang tak bisa dilahirkan jadi laki-laki” kata Kae-in sedikit sedih. Jin-ho kaget mendengarnya. “Jin-ho kehidupan yang akan datang jika kau masih dilahirkan seperti sekarang ini. Kita bertemu lagi saja”. “Aku suka Park Kae-in yang sekarang ini”. Gantian Kae-in yang kaget mendengarnya.

Chang-ryul masih menunggu di depan Sang Go-jae. Tiba-tiba In-hae datang. “Chang-ryul” panggil In-hae. “Bicara denganku saja” ajak In-hae lagi. “Aku sekarang tidak ada waktu bicara denganmu lagi”. “Kae-in, karena ia tahu Jin-ho gay makanya tinggal bersama Jin-ho”. “Apa? Jin-ho tinggal di sini? Bersam Kae-in?”. “Kita lebih baik cari tempat untuk bicara hal ini selagi Kae-in dan Jin-ho belum pulang” ajak In-hae. “Ap amaksud perkataanmu tadi? Jin-ho tinggal disini bersama Kae-in! Mulai kapan? Kenapa orang itu bisa tinggal di sini?”. Belum sempat IN-hae menjawab mobil jIn-ho sudah sampai di depan Sang Go-jae. Jin-ho dan Kae-in kaget melihat In-he dan Chang-ryul ada di sana. Chang-ryul kaget melihat Kae-in datang bersam Jin-ho. Kae-in dan Jin-ho turun dari mobil. Chang-ryul yang sudah kesal langsung memukul Jin-ho. Kae-in dan In-hae mau mencegah. “Kamu kenapa selalu ikut campur urusan hidupku” kata Chang-ryul kesal pada Jin-ho. “Sebenarnya apa yang sudah aku lakuan?” tanya Jin-ho. “Kamu ada tujuan apa tinggal di rumah ini? Kamu sudah lakukan apa pada Kaae-in?” tanya Chang-ryul. “Aku tak pernah lakukan apa-apa pada Kae-in”. “Park kae-in kenap kamu masih bisa tinggal bersam orang ini? Kenapa tidak memberitahuku?”. “Itu.. karean ada alasan itu..” akta Kae-in mencoba menjelasakan. “Sebab bagaimana?”. Kae-in tak bisa menjawabnya. “Kamu segera hilang dari sisi wanitaku, Mengerti!” kata Chang-ryul pada Jin-ho. “Han Chang-ryul. kamu termasuk urutan berapa berani memerintahku! Aku di sisi Park Kae-in, apa membuatmu begitu peduli? Kamu begitu tak percaya dirikah?”. Chang-ryul tak tahan ia mau memukul Jin-ho lagi. Tapi Jin-ho berhasil menepisnya. “Aku bukannya tidak bisa memukulmu” kata Jin-ho melepasakan tangan Chang-ryul. Tapi Chang-ryul alngsung memukul Jin-ho lagi. In-hae memarahi Chang-ryul dan berusaha menolong Jin-ho sementara Kae-in hanya dia mbingung harus bertindak apa. “Orang yang tidak berguna” kata jin-ho pergi mau masuk rumah. Chang-ryul mencegah dan mau memukul Jin-ho, tapi kali ini Jin-ho berhasil menepisnya sealigus membalas pukulan Chang-ryul hingga membuat ia terjatuh ke jalanan. Kae-in refleks menghampiri Chang-ryul dan bertanya ap Chang-ryul abaik-baik saja. Jin-ho tak suka melihat perhatian Kae-in pada Chang-ryul. “Chang-ryul kamu tidak apa-apa kan?”.

Dipublikasi di Personal Taste | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Sinopsis Personal Taste episode 8

Chang-ryul kesal pada Kae-in ia memberitahu kalau Jin-ho itu gay dan memanfaatkan Kae-in untuk mendekati Do-bin sehingga bisa memenangkan tander museum. Kae-in tak percaya dengan penjelasan Chang-ryul, ia berkata kalau Jin-ho bukan orang yang bisa menggunakan cinta untuk bisnis. Chang-ryul curiga bagaiman bisa Kae-in tahu banyak tentang Jin-ho. Kae-in tak mau menjelaskan dan langsung pergi dari sana. 

Chang-ryul jadi kesal, In-hae mendekatinya dan bertanya sebenaranya apa yang terjadi. Chang-ryul berkata kalau Jin-ho memanfaatkan kekurangannya untuk mendekati Do-bin sehingga bisa memenangkan tander museum.

Kae-in sangat khawatir dengan keadaan Jin-ho, ia mencoba menelepon Jin-ho tapi tak diangkat. Kae-in lalu meninggalkan sebuah pesan suara untuk Jin-ho.
Jin-ho berhenti di pinggir sungai setelah mendengar pesan dari Kae-in. Kae-in berpesan agar Jin-ho berhenti jika pikirannya masih kacau karena mengemudi dalam keadaan seperti itu tak ada gunannya dan bisa mengakibatkan kecelakaan. Kae-in juga menyuruh Jin-ho mengambil nafas untuk meredakan emosinya. Jin-ho kembali tersenyum setelah mengingat pesan (perhatian) Kae-in itu. Jin-ho kemudian mendapat pesan yang mengingatkan bahwa hari itu adalah hari peringatan meninggalnya ayah Jin-ho.
Jin-ho pulang kerumahnya dan bersiap melakukan upacara peringatan. Sang-joon yang juga datang untuk upacara itu merasa heran dengan keadaan Jin-ho. Ia bertanya apa Jin-ho sedang memikirkan proyek musium atau masalah gay nya. Sang-joon mendekati Jin-ho dengan gerakan aneh dan terlihat oleh Hye-mi. Hye-mi merasa kedakatan Sang-joon dan Jin-ho aneh (seperti pasangan gay). Tapi kemudian ibu Jin-ho datang meminta bantuan Hye-mi.

Setelah Hye-mi pergi, Sang-joon bercanda dengan bertanya pada Jin-ho apa benar ia mencintai Jin-ho dan tidak tertarik dengan wanita. Jin-ho tak mau menanggapinya dan dengan dingin menyuruh Sang-joon keluar dari kamarnya saja (lagi sensitif tau..). Jin-ho dan keluarganya kemudian melakukan upacara peringatan kematian ayahnya. Jin-ho terlihat sedih karena belum berhasil balas dendam.


Di rumah Kae-in, Kae-in sedang bercerita pada Young-soon tentang kejadian tadi siang. Young-soon kaget dan tidak menyangka Jin-ho seberani itu melakukan pengakuan di depan Chang-ryul. Kae-in berkata kalau ia khawatir dengan keadaan Jin-ho sekarang. Kae-in juga bercerita kalau tadi siang ia juga menampar Chang-ryul. Young-soon tambah kaget tak menyangka Kae-in berani berbuat begitu. Kae-in beralasan kalau ia sangat marah ketika Chang-ryul mengatai Jin-ho kotor. Young-soon semakin heran, ia merasa Kae-in punya perasaan tertentu sama Jin-ho. Kae-in berkata agar Young-soon jangan berpikiran yang aneh-aneh karena ia dan Jin-ho hanya bersahabat.

Jin-ho pergi ke warung soju dengan Sang-joon. Ia minum banyak disana. Sang-joon heran dan bertanya ada masalah apa. Tapi Jin-ho malah bertanya apa sebaiknya mereka menyerah terhadap tander musium kali ini. Sang-joon berkata bagaiman bisa menyerah kalau memang tidak ada kesempatan lagi (Sang-joon belum tahu kalau Do-bin sudah mengusahakan agar semua orang bisa ikut tander). Jin-ho lalu teringat Do-bin yang ada saat kejadian tadi siang. Jin-ho semakin stress dan akhirnya minum-minum lagi.

Kae-in sedang menunggu Jin-ho pulang di teras, tapi saat Jin-ho datang ia berasalan tidak bisa tidur. Karena melihat Jin-ho habis minum, Kae-in menyuruh Jin-ho langsung tidur saja. Jin-ho menurut tapi saat akan mau masuk ke kamar tiba-tiba Kae-in bertanya bagaiman keadaan Jin-ho setelah kejadian tadi siang. Jin-ho diam, Kae-in minta maaf dan menyuruh Jin-ho masuk saja. Tapi Jin-ho malah ikut duduk di teras bersama Kae-in.

Jin-ho kemudian bercerita kalau saat itu ia melihat Do-bin dengan mata sedih sehingga ia tidak bisa bilang tidak pada Chang-ryul. Jin-ho juga berakata kalau ia juga tidak tahu apakah ia memanfaatkan itu untuk menang dari Chang-ryul atau memang karena Do-bin. Kae-in berkata kalau itu pasti karena Do-bin. Jin-ho bertanya bagaiman Kae-in bisa begitu yakin kepadanya. Kae-in berkata karena mereka adalah teman jadi harus saling percaya. Jin-ho memperingatkan Kae-in agar tidak mudah percaya pada orang lain. Kae-in berkata kalau ia tidak tolol dan bisa menilai Jin-ho sesungguhnya bagaimana. Jin-ho jadi tidak enak, ia lalu mau mengatakan yang sebenarnnya tentang dirinya. Tapi Kae-in berkata kalau sudah malam dan sebaiknya Jin-ho pergi tidur saja (Gagal lagi deh..).


 


Kae-in kembali ke ruang kerjanya. Jin-ho melihat Kae-in kesulitan, ia lalu menghampirinya dan mau membantunya. Kae-in lalu mendapat ide bagamana kalau mereka berdua bekerja sama saja membentuk usaha sampingan saja. Jin-ho berkata kalau ia tidak tertarik dengan ide itu. Kae-in memelas dan berkata apa Jin-ho sedang meremehkan kemampuannya. Jin-ho dengan tegas berkata “Ya”. Kae-in jadi sedikit kesal. Jin-ho berkata kalau Kae-in tak punya uang, Kae-in bisa kembali lagi bersama dengan Chang-ryul dan bisa minta dibelikan sesuatu. Kae-in berkata itu tak mungkin karena ini masalah harga dirinnya sekarang. Jin-ho bertanya apa Kae-in tahu apa maksud harga diri itu. Kae-in kesal ia lalu mengambil gergajinya, Jin-ho jadi ketakutan ia teringat saat hari pertama ia datang ke Sang Go-jae. Kae-in menakuti Jin-ho dengan gergaji. Melihat Jin-ho benar-benar ketakutan, Kae-in semakin jail, ia mengangkat gergajinya lagi dan bertanya apa ia masih tidak punya harga diri. Karena ketakutan Jin-ho akhirnya menyerah dan bilang kalau harga diri Kae-in sangat kuat (Hubungan mereka jadi baik lagi deh..). 


Pagi hari Kae-in tidak seperti biasanya, ia berdandan dan memakai lipstik. Kae-in berangkat kerja bersama Jin-ho. Kae-in bertanya apa Jin-ho tidak merasa ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Jin-ho berkata tidak ada dan tanya memangnya ada yang beda. Kae-in berkata kalau hari ini dia memakai topi dan lipstik. Jin-ho tersenyum mendengarnya. Kae-in kesal karena usahanya untuk berubah tidak dihargai, Kae-in lalu tiba-tiba meminta di turunkan di pemberhentian bus segera karean bus yang akan ia gunakan sudah tiba. Jin-ho menurutinya. Kae-in turun dan berlari mengejar bus agar bisa naik. Jin-ho tersenyum melihatnya. Setelah bus berhenti Kae-in langsung naik dan mengambil tempat duduk dekat jendela. Jin-ho tersenyum lagi saat melihat Kae-in melambaikan tangannya dari bus untuknya saat ia akan pergi (oppa minho dpt banyak senyum ya??? pantas rha jadi klepek2…).




Saat sampai di tempat kerjanya, Kae-in sudah ditunggu oleh Chang-ryul. Kae-in menghindar, tapi Chang-ryul memaksa untuk bicara berdua. Mereka lalu pergi ke sebuah restoran. Chang-ryul berkata kalau Kae-in sekarang benar-benar telah berubah. Kae-in hanya diam. Chang-ryul lalu berkata kalau ia ingin kembali menjalin hubungan dengan Kae-in. Kae-in kaget dan tak percaya mendengar perkataan Chang-ryul. Chang-ryul berkata kalau ia tahu persaaan Kae-in padanya saat ini dan ia berkata kalau ia akan sabar menunggu sampai Kae-in mau kembali kepadanya. Kae-in dengan dingin berkata agar Chang-ryul jangan bertindak sembarangan terhadapnya lagi. Chang-ryul berkata kalau ia sudah memikirkan hal itu, ia juga berkata kalau ia baru sadar kalau Kae-in adalah orang baik saat Kae-in bersedia menemainya bertemu ibunya. Kae-in tak tahan dan pergi dari sana.

Dikantor M, Sang-joon berteriak terkejut karena mendapat email pemberitahuan bahwa gedung Maiseu telah mengurangi persyaratan peserta tander. Semua pekerja pun terkejut dan senang mendengarnya karena itu berarti perusahaan mereka ada kesempatan lagi. Mereka lalu berlari keruang Jin-ho untuk memberitahunya. Tapi Jin-ho hanya tenang-tenang saja dan menyuruh mereka kerja yang benar dan jangan terlalu senang (ya lah sudah tau gitu lho…). 

Di tempat lain ayah Chang-ryul yang juga mendengar kabar itu terlihat kesal sekali. Ia minta penjelasan dari gedung Maiseu, dan merek berkata kalau direktur Choi (Ayah Do-bin) tak bisa menolak lagi keinginan anaknya. Ayah Chang-ryul semakin kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa. Chang-ryul berkata apa mungkin karena kedekatan Jin-ho dengan Do-bin sehingga terjadi keputusana seperti itu. Ayah Chang-ryul kesal dan meminta Chang-ryul lebih waspada. Setelah Chang-ryul pergi, ayah Chang-ryul berfikir kalau Jin-ho bisa menggunakan cara khusus maka ia juga kan menggunakan cara khusus. Chang-ryul menemui seorang dedektif, ia minta dedektif itu menyelidiki tentang Jin-ho.

Sang-joon terkejut mendengar dari Young-soon kalau Jin-ho telah mengaku bahwa dirinya adalah gay di depan Chang-ryul dan Do-bin. Young-soon juga terkejut bagaimana bisa Sang-joon tidak mengetahui kejadian itu dan bertanya apa ia takut Jin-ho direbut Do-bin. Sang-joon berpura-pura sedih. Young-soon berkata agar Sang-joon jangan bersikap seperti itu, karena dia dan Kae-in juga tahu bahwa Sang-joon selingkuh dengan Tae-hoon. Sang-joon terkejut dan mau menjelasakan. Tapi Young-soon terus bicara, Young-soon merasa hubungan pria dan perempuan sudah rumit tapi ternyata hubungan pria dan pria lebuh rumit lagi. Sang-joon lalu buru-buru pamit pergi dari sana.


Sang-joon lalu menemui Jin-ho. Ia bertanya bagaiman bisa Jin-ho melakukan pengakuan didepan Chang-ryul tentang gaynya dan bahkan didepan Do-bin. Jin-ho yang tengah bersiap pergi terkejut dan bertanya bagaimana Sang-joon bisa mendengar itu. Sang-joon berkata dari Young-soon. Jin-ho kesal karena Sang-joon terus berhubungan dengan Young-soon (berpura-pura seperti kakak adik). Sang-joon berkata bukan itu permasalahannya sekarang. Jin-ho lalu berkata kalau ia ingin pergi ke gedung Meiseu. Sang-joon tambah panik ia merasa Jin-ho akan mengatakan yang sebenaranya pada Do-bin kalau ia bukan gay. Dan benaran Jin-ho memang berniat mau melakukan itu. Sang-joon memaksa agar Jin-ho jangan melakukan itu demi perusahaan mereka. Ia minta Jin-ho minta maaf saja pada Do-bin. 


Jin-ho menemui Do-bin di gedung Meiseu. Do-bin menyambut ramah Jin-ho, ia juga berkata kalau Jin-ho datang untuk mengucapkan terima kasih karena ia telah membuka kesempatan lagi untuk perusahaan Jin-ho, itu tidak perlu. Jin-ho dengan perasaan sedikit muram berkata kalau ia sangat berterima kasih kepada Do-bin akan masalah itu tapi ia juga tidak dapat membalas peraasaan Do-bin kepadanya. Do-bin telihat kecewa. Jin-ho juga berkata kalau ia tidak ingin Do-bin berfikir kalau ia memanfaatkan kedekatannya dengan Do-bin untuk memenangkan tander musium. Do-bin bertanya apa ia jenis orang yang mencampurkan perasaan dengan pekerjaan. Jin-ho jadi tidak enak. Do-bin lalu mengalihkan pembicaraan dengan mencoba mengajak Jin-ho pergi macing lagi lain kali. Tapi Jin-ho masih terlihat muram. Do-bin lalu berkata kalau ia menyesal karena ia masih ada janji lain. Jin-ho berkata kalau ia merasa berhutang budi pada Do-bin, ia berjanji akan bekerja lebih keras untuk membayarnya. Do-bin berkata kalau hal itulah yang ia ingin dengar dan Jin-ho pun pamit pergi.

Di luar Jin-ho bertemu In-hae. In-hae mengucapkan selamat pada Jin-ho dan menagih janji Jin-ho untuk mentraktirnya makan. Mereka pun akhirnya pergi makan di sebuah restoran. Disana In-hae berkata kalau kemarin Kae-in menampar Chang-ryul hanya demi membela Jin-ho di depan Chang-ryul. In-hae merasa Kae-in mempunyai perasaan khusus kepada Jin-ho. Jin-ho keget mendengarnya, ia juga mulai tak tertarik dengan perkataan In-hae. In-hae berkata kalau ia tidak menyangka kalau Do-bin adalah gay karena selama bekerja di sana ia tidak melihat tanda-tanda itu. Jin-ho kesal ia minta maaf karena ia tidak tertarik mendengarnya dan mau pergi saja. Sebelum Jin-ho pergi, In-hae bertanya apakah Jin-ho benar-benar memanfaatkan Do-bin karena ia yakin Jin-ho bukan seorang gay. Jin-ho tak tertarik membalasnya dan pamit pergi dari sana.


Kae-in keget saat seseorang memanggilnya dan berkata kalau ia adalah ayah Chang-ryul. Kae-in dan ayah Chang-ryul lalu bebicara disebuah restoran. Disana Ayah Chang-ryul berkata kalau ia sengaja menunggu di depan Sang Go-jae karena ia takut Kae-in tak mau menemuinya. Ia juga berkata kalau ia minta maaf atas kelakuan anaknya. Kae-in berkata kalau itu sudah masa lalu. Ayah Chang-ryul lalu berkata kalau ia tahu Kae-in adalah anak Prof. Park, ia tentu tidak akan membiarkan keadaan menjadi seperti sekarang ini. Kae-in kaget mendengarnya. Ayah Chang-ryul terus mengoceh jika ia tahu sejak dulu tentu ia akan merasa terhormat menjadi besan Prof. Park arsitek terkenal Korea.
Setiba di rumah Kae-in merasa kesal sekali dengan perkataan ayah Chang-ryul dan juga pada Chang-ryul. Kae-in merasa Chang-ryul ingin kembali kepadanya karena ia telah tahu kalau dirinya adalah putri Prof. Park. Tiba-tiba Young-soon datang ke Sang Go-jae ia memberi kabar kalau furniture – furniture Kae-in yang ada ditokonya telah laku semua, Kae-in kaget dan senang mendengarnya. Tapi kemudian Young-soon memberitahu kalau yang membelinya adalah Chang-ryul. Kae-in jadi kesal ia merasa semakin terhina dengan tingkah Chang-ryul itu. 

Jin-ho baru saja tiba saat mendengar suara barang jatuh di ruang kerja Kae-in. Ia segera menuju kesana. Ternyata Kae-in sedang kesal hingga tak konsentrasi bekerja dan membuat tangannya terluka. Jin-ho langsung mau menolong, tapi Kae-in menolak dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan lukanya sendiri. Jin-ho menyusul ke kamar mandi dan bertanya sebenarnya ada apa. Kae-in hanya diam. Jin-ho lalu berkata kalau Kae-in punya kebiasaan buruk menyakiti diri sendiri. Ia juga berkata walapun hati sedang kesal seharusnya Kae-in tidak menyakiti diri sendiri.
“Karena aku bodoh. Dan Karena ayahku semua orang baru tunduk padaku” kata Kae-in akhirnya.


Keesokan harinya. Kae-in bertemu Chang-ryul sambil menahan perasaan kesal. Chang-ryul sendiri merasa sangat senang karean Kae-in mengajaknya bertemu. Kae-in langsung menanyakan apa tujuan Chang-ryul membeli semua furniturenya. Chang-ryul berkata kalau ia mnedengar tentang masalah furnitur itu. Kae-in semakin curiga tapi ia malah mengucapka terima kasih. Chang-ryul berkata kalau itu tidak perlu karena itu bantuan tak berarti baginya, lagi pula ia ingin menggunkan furniture itu untuk proyek perusahaanya nanati. Kae-in hanya diam saja. Channg-ryul berkata apa Kae-in tidak percaya dengan ketulusan hatinya. Kae-in lalu bertanya apa Chang-ryul serius ingin kembali dengannya. Chang-ryul kaget dan senang mendengarnya.

Jin-ho heran karena Kae-in pagi-pagi sudah bertindak aneh (sedang melakukan jungkir balik). Kae-in berkata kalau ia sedang menata pikirannnya yang kacau. Tiba-tiba Kae-in berkata kalau ia ingin lari. Kae-in berlari mengelilingi tamanan dengan sekuat tenaga. Ternyata Kae-in sedang kesal memikirkan Chang-ryul dan ayahnya. Jin-ho melihatnya semakin heran, ia lalu menarik Kae-in agar berhenti berlari karena tubuh Kae-in tak akan mampu melakukan olahraga keras seperti itu. Jin-ho bertanya sebenarnya apa yang terjadi. Kae-in menatap Jin-ho dalam dan berkata kalau ia ingin balas dendam.



Jin-ho lalau pulang buru-buru. Ternyata Kae-in memintanya untuk membantu dia balas dendam pada Chang-ryul dan tentu saja Jin-ho menolaknya. Kae-in terus memaksa di sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Jin-ho sudah tak tahan ia berhenti kemudian memegang tubuh Kae-in seraya berkata kalau Kae-in tak mungkin bisa melakukan balas dendam karena itu sudah jadi fakor genetik pada diri Kae-in. Kae-in berkata kalau ia bisa dan benar-benar ingin menunjukan kepada orang-orang yang menganggapnya rendah bahwa ia juga bisa. Jin-ho lalu bercerita kalau didunia ini ia sangat mencintai ibunya. Kae-in tak mengerti kenapa tiba-tiba Jin-ho bercerita tentang ibunya. Jin-ho melanjutkan ceritanya bahwa yang paling membuatnya sedih didunia ini adalah ibunya. Jin-ho berkata kalau ibunya terlalu rapuh. Kae-in mulai paham tapi ia tetap ingin balas dendam. Jin-ho lalu berkata kalau ibunya juga ingin balas dendam tapi ia tidak bisa melakukannya karena ketika ia melihat orang-orang yang ingin dibalasnya ia akan langsung sedih. Jin-ho lalu berkata kalau ia bisa berteman dengan Kae-in karena Kae-in sama dengan ibunya, jadi Kae-in tak akan bisa balas dendam. Jin-ho lalu pergi pulang, Kae-in mencegah dan tetap memaksa agar Jin-ho membantunya balas dendam sambill menangis di tengah jalan.
Akhirnya Jin-ho mau membantu, Kae-in berjanji ia akan sungguh-sungguh untuk balas dendam pada Chang-ryul. Jin-ho berkata kalau janji Kae-in itu tak akan ada gunanya, yang dibutuhkan Kae-in adalah menjadi kuat dan percaya diri. Jin-ho lalu menyuruh Kae-in berlatih agar menjadi lebih percaya diri. Latihan pertama didepan cermin Kae-in gagal. Jin-ho berkata agar Kae-in memikirkan dendamnya agar berhasil. Kae-in mencoba lagi dan mulai berhasil (latihannya mengucapkan “AKU CANTIK” didepan cermin.. siapa yang ingin ikiu latihan jadi pede ngacung???? Saya!!!). Jin-ho tersenyum melihat kesungguhan Kae-in. 

 

 

 

 

Kae-in berdandan cantik saat akan latihan kencan dengan Jin-ho dan Jin-ho terpesona melihatnya. Saat akan naik mobil Jin-ho membukakan pintu untuk Kae-in. Kae-in bingung.
“Silakan naik tuan putri” kata Jin-ho.
Kae-in jadi malu mendengarnya. Jin-ho berkata wanita harus membuat dirinya mulia dan hal yang ia lakukan adalah penghormatan pada yang mulia. Kae-in mengerti, kemudian ia bersikap seperti perkataan Jin-ho.
 

 

Jin-ho dan Kae-in pergi menonton film. Jin-ho tanya Kae-in mau menonton apa. Tapi Kae-in berkata terserah Jin-ho saja. Jin-ho kesal, ia lalu memberi pelajaran lagi bahwa setiap wanita harus punya pendirian sendiri tidak tergantung terus pada pasangannya. Jin-ho lalu berkata kalau ia ingin nonton film action, Kae-in dengan tegas berkata kalau ia tidak mau dan mau menonton film komedi saja. Jin-ho kaget tapi kemudian ia tertawa karena Kae-in ternyata mengerti maksud perkataannya tadi.
Lalu tiba-tiba seseorang dari belakang memanggil Jin-ho. Mereka lalu berbalik, Jin-ho telihat kaget melihat Eun Soo adik kelasnya ada di sana (Hayo… siapa yang g kenal ngacung??? aduh kenapa postingan kali ini jadi guru terusnya…). Eun Soo bertanya siapa gadis yang bersama Jin-ho. Jin-ho memperkenalkan Kae-in pada Eun Soo. Eun Soo lalu bertanya apa Kae-in adalah pacar Jin-ho. Jin-ho berkata bukan, Kae-in langsung berkata bukankah dia adalah pacar Jin-hoo (pura-pura). Jin-ho kaget mendengarnya, Eun Soo malah tertawa mendengarnya. 

Mereka lalu ngobrol di sebuah restoran. Kae-in merasa heran karean Eun Soo dan Jin-ho ternyata beda jurusan tapi sangat akrab. Jin-ho tersenyum mendengarnya. Eun Soo menjelaskan kalau mereka berdua sering bertemu di perpusatakaan. Jin-hoo lalu berkata bahwa sekarang Eun Soo sepertinya sudah mulai hidup normal dengan pergi keluar menonton film. Eun-soo berkata kalau ia sudah 3 tahun tidak menoton film, ia juga berkata kalau ia iri dengan Jin-ho yang ternyata sudah hidup normal dengan pergi menonton film bersama pacar pula. Kae-in lalu jadi malu dan berkata sesungguhnya ia bukanlah pacar Jin-ho. Jin-ho berkata kalau Eun Soo adalah orang yang sibuk sehingga tidak ada waktu untuk hal-hal seperti itu. Eun Soo berkata seharusnya Jin-ho berkata yang baik-baik sebagai teman lamanya. Jin-ho berkata kenapa harus. Eun Soo kaget mendengarnya. Jin-ho tersenyum dan berkata apakah hubungan mereka bisa disebut teman lama. Eun Soo semakin kaget mendengarnya dan berkata apakah Jin-ho tak mau menjadi temannya. Melihat suasana jadi kaku Kae-in lalu mengalihkan pembicaraan. Eun Soo lalu bertanya bagaiman awalnya Kae-in bertemu Jin-ho. Kae-in tertawa ia berkata kalau awal pertemuan mereka sangat unik karena saat itu Jin-ho memegang pantatnya. Jin-ho langsung mencegah Kae-in bercerita lebih lanjut. Eun Soo kaget mendengarnya sekaligus senang (suasana kembali cair).
Beberapa saat kemudian Eun Soo pamit mau pergi. Kaee-in berkata kenapa Jin-ho tidak mengundang Eun Soo makan bersama mereka. Eun Soo berkata tidak perlu karena ia tidak ingin mengganggu Jin-ho dan Kae-in lagi. Eun Soo kemudian pamit pergi lagi.


Jin-ho mengantar Eun Soo sampai luar. Di luar Eun Soo berkata kalau ia ingin sekali bertanya pada Jin-ho, apakah Jin-ho menyesal dulu, sebelum ia pergi luar negeri Jin-ho tak mau menahannya karena jika saat itu Jin-ho melakuannnya ia pasti akan tinggal demi Jin-ho. Jin-ho berkata kalau ia menyesal. Tapi Eun Soo tahu itu bohong, ia berkata karena sikap Jin-ho seperti itulah yang membuatnya menyukainnya. Eun Soo kemudian pergi, tapi sebelum pergi ia berkata kalau Kae-in adalah gadis yang baik. Eun Soo pergi dan Jin-ho hanya bisa menatapnya saja. Kae-in kemudian datang, ia bertanya apa Jin-ho dan Eun Soo dulu ada hubungan. Jin-hoo berkata kalau ia hidup untuk laki-laki, dan perempuan seperti Eun Soo hanya menunjukan bahwa ia terobsesi dengan perempuan. Kae-in lalu berkata sepertinya Eun Soo memiliki kepribadian yang bagus. Jin-ho berkata keberanian Eun Sooo adalah yang selamai ini membutanya merasakan ada sesuatu seperti penyakit dalam hatinya. Jin-ho lalu mengalihkan pembicaraan dan mengajak Kae-in masuk lagi untuk menonton film. Kae-in berkata kalau sikap Eun Soo tadi seperti perempuan yang pernah menjadi mantan pacar Jin-ho. Jin-ho kaget mendengaranya (Soalnya emang bener Eun Sooo itu mantannya Jin-ho).

Malam harinya Kae-in dan Jin-ho pergi ke atas suatu bukit.
“Aku mencintaimu” kata Jin-ho tiba-tiba.
Kae-in kaget dan menoleh untuk melihat Jin-ho.
“ Karena kau membuatku tertawa setiap harinya” kata Jin-ho lagi.
Kae-in jadi gugup mendengaranya. Jin-ho lalu berakata bahwa kata-kata seperti itu biasanya akan diucapkan seorang laki-laki yang mengajak seorang wanita kencan dan kemudian mereka pergi ke seatu tempat yang tinggi. Kae-in keget dan akhirnya mengerti bahwa tadi adalah sebuah pembelajaran bukan sungguhan (aku rasa itu sungghan dari hati Jin-ho yg paling dalam…). Jin-ho lalu teringat saat ia jadian dengan Eun Soo dulu. Saat itu Jin-ho nembak Eun Soo di sebuah puncak bukit dengan pemandangan kota yag indah. Tiba-tiba Jin-ho berkata kalau kelas hari ini sudah cukup dan mau pergi pulang. Tapi Kae-in mencegah ia minta Jin-ho diam di tempat dan jangan melihat kebelakang. Kae-in Kemudian menulis sesuatu di punggung Jin-ho.
 

“Ramalan cuaca Park Kae-in untuk besok. Aroma bunga selama berhari-hari. Teman jika kau lahir kembali aku harap kau bisa jatuh cinta pada wanita. Ketika seeorang tak punya kepentingan apapaun… ramalan cuaca Park Kae-in pun berakhir di sini”. 

Keesokan harinya saat berangkat kerja bersama. Jin-ho berkata kalau pria tertarik dengan wanita yang punya rasa humor tinggi. Kae-in berkata kalau hal seperti itu pasti ia bisa. Jin-ho lalu menantang Kae-in agar hari itu mengajukan hal-hal yang bisa membuatnya tertawa. Kae-in langsung merasa tertantang, ia segera mengajukan sebuah plesetan dan menyuh Jin-ho menebaknya. Tapi Jin-ho tak tahu, Kae-in memberi tahu jawabannya dan jadi tertawa sendiri. Kae-in lalu bertanya apa Jin-ho masih ragu padanya. Jin-ho lalu merasa kesal karena Kae-in ternyata ahli dalam hal itu. Kae-in berkata kalau hari ini ia kan menunggu telepon dari Jin-ho agar Jin-ho bisa mengujinya.

Di kantor saat makan siang bersama Sang-joon dan Tae-hoon, tiba-tiba Jin-ho bertanya apa mereka berdua punya cerita atau plesetan lucu. Sang-joon dan Tae-hoon merasa curiga kalau Jin-ho sedang jatuh cinta. Jin-ho tentu menyangkalnya, ia berkata kalau ia hanya sedang bosan saja. Sang-joon lalu menceritakan sebuah kisah lucu dan Jin-ho segera menelepon Kae-in untuk mengujinya. Jin-ho yang menceritakan hal tersebut tanpa basa-basi membuat Kae-in kaget tapi kemudian ia mengerti kalau itu adalah ujin humor. Kae-in berkata kalau ia akan membiarkan Jin-ho menang kali ini. Tapi Jin-ho tetap memaksa Kae-in menjawabnya. Kae-in tak mau dan berakta kalau ia kan menutup telepon Jin-ho. Kae-in senang bisa mengerjai Jin-ho sementara Jin-ho merasa kesal karena ceritanya tak berhasil.

Jin-ho menelepon lagi saat Kae-in berada di pabrik kayu hinata. Kae-in meminta agar Jin-ho kali ini benar-benar memberikan plesetan yang lucu. Jin-ho memberikan pertanyaannya dan Kae-in menjawabnya dengan mudah.

Kae-in sedang melihat jenis-jenis kayu yang ditujukan pegawa pabrik saat Chang-ryul menelponnya. Karean Kae-in sibuk bertelepon, pegawai pabrik meninggalkannya sebentar. Chang-ryul bertanya Kae-in ada di pabrik kayu mana dan kenapa tidak minta bantuannya untuk mengantarkan kesana. Kae-in berkata kalau itu tidak perlu. Chang-ryul lalu berkata kalau ia kan menjemput Kae-in. Jin-ho menelopn kembali dan mengajukan sebuah lelucon dan kali ini berhasil membuat Kae-in tertawa. Jin-ho merasa senang arenanaya. Lalu tiba-tiba tumpukan kayu menjatuhi tubuh Kae-in. Telepon Kae-in yang tiba-tiba putus membuat Jin-ho sanngat khawatir dan langsung memutuskan pergi mencari Kae-in. Para pekerja pabrik segera membawa Kae-in ke rumah sakit.

 

 

Jin-ho pergi sambil menelepon mncari pabrik kayu yang dimaksud Kae-in tadi. Setelah berhasil Jin-ho menelepon paberik itu dan pegawai disan bilang kalau ae-in sudah di bawa kerumah sakit. Jin-ho langsung banting setir menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit Jin-ho mersa lega bisa menemukan Kae-in dalam keadaan baik-baik saja. Tapi saatakan mendekat tiba-tiba Chang-ryul datang membawa minuman untuk Kae-in. Jin-ho pun berhenti dan melihat Chang-ryul dengan mesra mebantu Kae-in minum.

Jin-ho datang menghampiri Kae-in dan menyuruh Chang-ryul pergi dari sana. Kae-in dan Chang-ryul kaget mlihat Jin-ho di sana. Jin-ho langsung mendekati Kae-in untuk melihat lukanya tanpa memeperdulikan Chang-ryul. Chang-ryul tak terima ia berkata kalau Jin-ho tak mungkin mencintai seorang wanita. Jin-ho tak mau kalah dan berkata bahwa Chang-ryul juga sama seperti dia tak dapat mencintai wanita.. Kae-in kaget mendengarnya, Jin-ho lalu bertanya apa Kae-in cukup kuat untuk pergi dari sana. Kae-in mengangguk, kemudian Jin-ho menggandeng Kae-in pergi dari sana. Chang-ryul mencegah dan bertanya apa Jin-ho sudah mau berhubungan dengan wanita. Jin-ho berkata “Ya” dan minta Chang-ryul tak mengganggu wanitannya lagi (wiu… akhinya…rasa itu datang jg.. hehe). Jin-ho menarik tangan Kae-in hingga sampai diluar. Jin-ho lalu menoleh melihat Kae-in yang tampak kebingungan. Tapi tiba-tiba sosok Kae-in hilang dan tangan Jin-ho tak menggenggam apapun. Atau dengan kata lain itu hanya bayangan Jin-ho saja (yah walapun cuma khayalan Jin-ho saja, tapi paling tidak sekarang Jin-ho sadar perasaannya sama Kae-in bgaimana… betul tak?).
“Latihan ini dilakukan untuk balas dendam dan bahkan kau membantunya. Lalu mengapa kau sekarang harus mencegahnya Jeon Jin-ho” kata Jin-ho memperingatkan dirinya sendiri.
Sementara itu Kae-in bersikap dingin pada Chang-ryul karena ia lebih mengharapan Jin-ho yang datang membantunya bukan Chang-ryul. Kae-in sudah kesal pada Chang-ryul ia meminta Chang-ryul tidak usah perpura-pura peduli dengannya karena ia tidak mempercayai Channg-ryul lagi. Chang-ryul kecewa dan berkata bagaimana mereka bisa memulai hubungan baru jika Kae-in tidak memepercayainya. Jin-ho sendiri datang ke ruang adaminstrasi dan membayar biaya pengobatan Kae-in serta menanyakan keadaan Kae-in. Jin-ho merasa hanya itu yag bisa ia lakukan untuk Kae-in. 



Kae-in memakasa untuk pulang tapi Chang-ryul juga berusaha mencegah.Chang-ryul sangat mencemasakan kesehatan Kae-in dan memintannya tetap tinggal di rumah sakit. Hal ini membuat Kae-in mulai ragu karena Chang-ryul terlihat serius mengkhawatirkannya.
Dipublikasi di Personal Taste | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Sinopsis Personal Taste episode 7

Paginya, Kae In cemas dan tidak pasti, aduh apa yang terjadi, apa dia bisa tertarik dengan wanita? Wanita seperti dirinya?

Jin Ho tidak menyangkal dan ia berkata ia cukup mabuk semalam, “Aku tidak membuat kesalahan kan?” Kae in berkata aku meminjami-mu uang 50 ribu won, untuk menguji Jin ho.

Ternyata Jin Ho tidak membantah dan ia mengambil dompetnya, Kae in meyakinkan Jin Ho, ia hanya bercanda saja.

Jin ho dengan murung berkata, “Jika aku membuat kesalahan, aku minta maaf.” Kae in memaksakan senyum, “Itu bukan apa-apa.” Jin ho memutuskan untuk pindah, karena dia sudah dikeluarkan dari proyek Museum Dahm, jadi tidak ada alasan lagi baginya tinggal di Sanggojae.

Di museum, In Hee memperlakukan Kae In dengan dingin. In Hee sengaja menelepon Jin ho dan berakrab-ria padahal di sana Jin ho biasa saja. Kae in dengar In hee menawarkan minum pada Jin ho untuk menghiburnya.

Kae in tanya ada apa, dan In hee menjelaskan bahwa Jin Ho kehilangan kesempatan dalam proyek museum Dahm. In hee menuduh KAe In, “Teman macam apa kau ini, tidak tahu apa yang terjadi pada Jin Ho. Kau selalu saja seperti ini. Kau bertingkah manis, tapi akhirnya kau hanya melihat apa yang ingin kau lihat.”

Kae in merasa bersalah tapi ia langsung semangat lagi, Kae in melihat boneka di jendela toko dan ia pikir itu mirip Jin Ho, jadi Kae in membelinya (bukan boneka kucing dengan rambut ikal kan…haha..), Kae in masak untuk Jin Ho, saat makan, Jin ho yang berpikir akan pindah, mulai menasihati Kae in.

Kae In berkata memikirkan kalau Jin Ho akan pindah sudah membuat selera makannya hilang. Jin Ho langsung menasihati agar Kae in menghentikan kebiasaan jeleknya itu, terlalu gampang lengket dengan orang. Jin Ho mengusulkan tes terakhir besok, untuk melihat apa Kae in belajar sesuatu dari pelajarannya. Jin ho akan pura2 jadi pacar Kae in untuk mengetesnya.

Kae In keluar untuk membuang sampah, dan ia melihat Chang Ryul yang mabuk di tangga luar. Chang Ryul tidak berniat untuk datang ke Sang Go jae, tapi ia ingin bicara dan tidak ada yang mendengarnya. Chang Ryul mengeluh, ibu kandungnya akan pindah ke Afrika. Ibunya tidak bisa datang ke pernikahannya karena ayahnya, dan sekarang ibunya hanya ingin memasak untuk anaknya dan menantunya sebelum ia pergi. Ibunya tidak tahu Chang Ryul dan In hee putus.

Kae In berkata, In hee yang seharusnya mendengar ini dan bukan dirinya. Chang ryul berkata bahwa In hee hanya suka Chang Ryul dari fantasi Kae In, dan berkaat bahwa ia lebih baik saat bersama Kae In dulu.

Jin Ho mendengar percakapan mereka dari dalam, wajahnya berubah saat dengar apa yang diminta Chang Ryul pada Kae In. (tidak kedengaran ). Chang Ryul mengaku bahwa ini permintaan yang gila dan ia minta maaf, tapi Chang Ryul putus asa.

Kae In berkata bagaimana Chang ryul bisa minta ini padanya? Tapi Chang ryul menangis dan berkata wanita itu adalah ibu kandungnya, bukan hanya salah satu dari ibu tirinya. Ayah Chang ryul sudah menganggap ibu kandungnya meninggal.

Kae In masuk dan ia tanya pada Jin ho apa mereka bisa mengundur kencan pura2 mereka? Ada temanku yang baru punya bayi dan aku ingin membantunya. Jin Ho tahu Kae in bohong, Jin Ho kesal karena Kae In mau menanggapi Chang Ryul lagi, Jin Ho hanya menanggapi dingin.

Kae In merasa terluka dengan jawaban Jin Ho, dan ia berkata pada Jin no (boneka itu), bahwa ia mengerti perasaan Jin Ho. Karena pekerjaan-nya tidak berjalan baik.

Kae in mengeluh apa Jin Ho tidak bisa marah seperti orang normal layaknya mengapa Jin ho melampiaskan padanya?

Kae In memutuskan untuk minta maaf karena membatalkan kencan mereka dan ia lihat Jin Ho akan keluar, apa ia boleh ikut? Saat di mobil, KAe in berteriak ke arah jendela, ia menjelaskan pada Jin ho, masalahnya adalah Jin ho menahan semuanya dalam hati itu bisa membuat Jin ho sakit, seharusnya Jin ho mengeluarkan semuanya seperti dirinya.

Jin ho mencoba berteriak, pertama hanya keluar suara “Ya”, lalu Kae In mendesak agar Jin Ho mencoba lagi, lebih keras lagi dan Jin ho akhirnya bisa teriak YAHHH!! lalu teriak mati kalian!! Mobil mereka berhenti di tepi sungai, Kae in mengusulkan agar Jin Ho melakukan tes terakhirnya di sini, ia siap.

Jin Ho berkata dengan serius, “Jangan menyukaiku karena aku tidak mencintaimu.” Kae in kaget tapi ia menyadari ini tes, jadi dia lega. Jin Ho meneruskan skenario-nya, pura2 menjadi pacar yang mencoba mencampakkan Kae in dan tidak pantas menerima rasa kasihan dari Kae in. Jin Ho, “Aku berpacaran denganmu hanya karena kau mengingatkanku pada mantan pacarku yang tidak bisa kulupakan, jika kita terus berpacaran, bisa saja aku memanggil namamu dengan nama mantanku, dan aku mungkin ingin kau bersikap seperti mantanku. Apa kau tidak apa-apa kalau aku seperti itu?”

Kae In menjawab dengan pelan, “Karena aku mencintaimu, dan kita seharusnya mendengar orang yang kita cintai…”

Jin ho kesal dan menarik Kae in, kau ini, apa ini yang sudah kuajarkan padamu? Kau jadi bodoh lagi kan, membuat pria bisa menyakitimu lagi. Kae In berkata, kata2 itu keluar begitu saja. Kae in, “Lalu apa yang seharusnya kukatakan? karena cinta kau menyingkirkan harga dirimu, iya kan?”

Jin Ho, “Cinta tidak membuatmu kehilangan harga diri, cinta membantumu menjaga harga dirimu. Jangan mudah percaya pada siapapun, atau mudah jatuh cinta pada siapapun, atau dengan mudahnya memaafkan siapapun.” Kae in berjanji akan mencobanya, tapi Jin ho berkata pada dirinya sendiri, kalau demikian, tidak seharusnya kau setuju membantu si brengsek Chang Ryul itu. Kau tidak pernah berubah.

Jin Ho menurunkan Kae in di rumah dan ia pergi lagi. Ketika pulang, Jin Ho membawa mawar dan meletakkan-nya di depan pintu kamar Kae In. Paginya, Kae in menemukan mawar itu, Jin ho mengatakan agar Kae in ingat mawar itu punya duri.

Di kantor, Sang jun mendapat telp dari young sun. Sang Jung, “Unni?” (benar2 menggelikan, Sang jun berperan sbg gay yg ceweknya, geli tapi salut juga buat Sang jun, soalnya Sang jun ini normal lho.)

Young Sun memberikan produk perawatan kulit untuk Sang jun. Membuat Sang Jun kesal dan ia mengaku kalau ia bukan gay, tapi langsung berkata bahwa ia bercanda. ha? Young sun bertanya pada Sang jun sesuatu yang tidak bisa ditanyakannya pada Kae in, bagaimana dirinya sebagai wanita? apa ia sudah kehilangan daya tarik? Sang jun, “Tentu saja tidak, Young sun punya bentuk tubuh bagus dan sangat menarik!!”

Sang Jun memuji-muji Young Sun dan Youn Sun senang2 saja.

Sang Jun heran dengan dirinya sendiri, ia bergumam, “Aku pikir aku kecanduan dengan gaya gay ini.”

Di Sang Go Jae, Jin ho pulang dan ia melihat Kae In yang siap2 akan pergi dengan Chang ryul. Kae In mengarang cerita mengenai temannya yang baru melahirkan tapi Jin ho jelas tahu itu bohong.

Saat makan, Kae in lebih banyak diam dan terus makan. Kae in merasa bersalah pada Jin Ho karena sudah bohong. Kae in pergi ke kamar mandi dan ia melihat bayangan-nya dengan kesal, apa yang sebenarnya kulakukan?

Ibu Chang Ryul tanya mengenai proyek Dahm dan Chang Ryul berkata ayahnya ikut campur dan membuat Jin ho tidak mungkin mendapatkan tender. Ibu Chang ryul menganggap itu sebagai keuntungan. Kae In mendengar percakapan mereka dan menyadari bahwa kedua keluarga ini punya sejarah sendiri.

Ibu Chang Ryul memberikan bros pada Kae In, Kae in mau menolaknya tapiibu Chang ryul memasangkan bros itu dan minta Kae in menerimanya. Sampai di rumah, Kae in mengembalikan bros itu pada Chang ryul. Kae in masuk dan Jin ho menunggunya, tapi Kae in langsung lari ke kamar mandi dan muntah. Jin ho menepuk2 punggungnya.

Kae in masih merasa sakit dan minta Jin ho menusuk jarinya (cara tradisional menyembuhkan gangguan perut/lambung) Jin Ho menolaknya, tapi Kae in balik muntah lagi, akhirnya Jin ho setuju.

Caranya, pijat dulu lengan ke arah jari untuk melancarkan peredaran darah, lalu ikat benang di jempol untuk menahan darah, tusuk kulit di atas kuku dengan jarum steril sehingga keluar darah yang warnanya hitam, setelah itu akan sembuh. Dan tidak mual lagi. Sirkulasi darah akan bebas.

Jin Ho mengambil jarum, menutup matanya dan menusuk, Kae in menahan sakit tapi ternyata berhasil.

Kae in tanya apa ayah Jin ho kenal ayah Chang Ryul dan Jin Ho cerita ayah Chang ryul ternyata adalah karyawan di Mirae dan Ayah Jin ho yang menjalankannya, ayah Chang ryul bekerjasama dengan saingan Mirae dan menguasai perusahaan. Kae in meminta Jin Ho tidak menyerah, ini bukan Jin ho dan tidak adil baginya kehilangan tender hanya karena saingan-nya menggunakan cara2 licik untuk menahannya. (benar, menurut pengalaman, prsh besar boleh saja mengerahkan uang, tp jika otaknya ada pada kita, prsh besar tetap saja akan mencari kita, so don’t give up.)

Kae in menawarkan untuk memasak buat Jin ho, tapi Jin ho menolaknya. Jin ho sudah senang Kae in berniat menghiburnya. Jin Ho dengar bahwa Do bin suka menyendiri di villa, Jin ho mengunjunginya. Do bin sedang memancing dan Jin ho menemaninya. Do Bin tahu Jin ho datang karena proyek museum. Jin ho berkata, “Ngobrol dengan teman tampaknya lebih baik sekarang ini.”

Keduanya duduk memandangi permukaan air, Do Bin tanya, “Apa Jin ho pernah mengaku perasaan-nya pada seseorang? aku pernah melakukannya sebelumnya sekali dengan adik kelasku di universitas.”

Jin Ho mengaku punya pengalaman sama, dan mengaku dia punya masalah dalam hubungan cinta, Jin ho merasa bahwa cinta menuntutnya melakukan terlalu banyak hal.

Do bin mengaku perasaan-nya dan mereka bersama sebentar tapi Do bin merasa bahwa cintanya adalah racun dan ia memutuskan hubungan duluan. Saputangan yang ia pinjamkan pada Jin ho itu, adalah satu2nya kenangan baginya. Jin ho berkata,”Saputangan itu cukup berharga bagimu untuk dipinjamkan padaku” Do bin merasa itu terjadi agar mereka bisa jadi teman.

Jin Ho pulang ke Sang go Jae dengan lebih semangat, ia memandang langit malam dan berkata pada Kae in, “Aku akan merindukan langit dari Sang Go Jae.” Kae in, “Kau bisa tinggal di sini selama yang kau suka.”

Paginya di museum, Do Bin berkata pada Kae in bahwa ia mungkin akan meninggalkan pekerjaan-nya. Tapi Kae in tenang saja, pekerjaan Kae in di museum ini tetap aman. Do Bin akan mulai memperjuangkan agar proyek museum Dahm ini tetap fair. Jika ia berhasil, ia akan tinggal. Tapi jika tidak ia akan pergi.

Do bin mengatakan ini pada Kae in sekarang, takutnya ia tidak punya kesempatan lagi. Kae in tidak tahu harus berkata apa, ia hanya memanggil Do bin, “Pak! Berjuang!!” Do bin tersenyum melihat Kae in.

Tim dari Mirae, Presdir Han, Chang ryul dan juga sekretarisnya tiba untuk minta briefing tentang museum dan mereka melihat Kae in keluar dari museum. Sekretaris mereka lapor kalau Kae in bertanggung jawab merancang bagian untuk anak2 di museum ini karena ia putri Park Chul Han. Ayah Chang Ryul langsung menendang Chang Ryul, mengapa ia bisa begitu bodoh, mencampakkan putri arsitek legendaris.

Di kantor Jin ho, Sang jun dan Tae hoon muncul dengan sweater yang sama. Sang jun mengambil sweater Jin Ho, sedang Tae hoon memutuskan untuk mengikuti Jin ho agar bisa menarik perhatian Hye Mi. Sang jun dan Tae Hoon berkeras agar salah satu dari mereka ganti baju.

Jin Ho masuk dan tidak memusingkan keduanya, ia justru memikirkan ciuman-nya dengan Kae in waktu itu, apa yang salah dengannya. Tae hoon dan Sang Jun masih berdebat mengenai sweaternya dan sweater Sang jun kena kopi, nah Tae hoon berusaha melepaskan sweater Sang jun, dan saat itulah Kae in masuk. Kae in salah paham lagi. Sang jun otomatis membela diri, “Ini tidak seperti yang kelihatan” dan ia langsung membawa Kae in ke ruangan Jin ho. Sang jun sempat menggoda dan berkata pada Jin ho, “Kau tahu kau satu2nya untukku, iya kan?”

Jin ho mengusir Sang jun dan menjelaskan pada Kae in, aku tidak pernah kencan dengan satupun dari mereka. Kau salah paham sejak awalnya. Kae in tidak begitu menangkap, dan jin ho berkata sebenarnya aku bukan g–

Tiba2 Sang Jun masuk lagi dan mengganggunya, Jin ho mendorong hyung-nya keluar lagi dan mencoba menjelaskan lagi pada Kae in, tapi saatnya sudah hilang. Kae in ingat alasannya datang ke kantor Jin ho, ia berkata Do bin mengatakan padaku bahwa masih ada kesempatan untuk Jin ho, Do Bin akan berjuang. Jin Ho, “Kau bisa mengatakan ini lewat telp.” Kae in, “Tapi aku ingin langsung melihatmu tersenyum.”

Chang Ryul menunggu Kae in di museum dan ia kaget saat Kae in datang bersama Jin Ho. Kebetulan, ada teman lama Chang Ryul (bule!) Mereka ngobrol dan ia datang karena ada hubungan dengan DO bin. Pria itu menjelaskan bahwa ia kenal Do bin dan berkata, “Mr. Choi is…special” (beneran ini bule ngomong bhs Inggris)

Jin Ho menemui Do bin dan mengembalikan saputangan-nya dan berterima kasih pada Do bin karena memperjuangkan proyek ini demi kepentingannya. Ia sangat menghargainya apapun hasilnya nanti. Do bin berkata, “Apa kau tahu, jika aku bersamamu, semangatku timbul.” Jin ho merasa ini pujian dan ia merasa sama. Do Bin tanya lagi, “Lalu apa kau tahu aku menyukaimu?” Jin ho membalas, “Aku menyukaimu juga.” (tp suka disini beda, hehehe…)

Chang Ryul ingin menegaskan lagi, apa itu benar? Bule, “Kau tahu..oh kau tidak tahu? Mungkin aku seharusnya tidak bicara ini..tapi apa kau mau tahu?” Yang disukai Tuan Choi adalah pria.

Jin ho terlihat tertegun. Do bin mengaku ia mulai merasakan sesuatu saat presentasi Dream Art center dan saat ia dengar keadaan Jin Ho sebenarnya (kalo Jin ho gay), Do bin merasa mereka ada hubungan spesial.

Jin ho tergagap ia bingung mau jawab apa. Do Bin berkata ia belum pernah mengakui perasaan-nya pada orang lain sebelumnya. tapi ia percaya bahwa Jin ho akan mengerti bagaimana perasaannya. Do bin perlu mengumpulkan keberaniannya untuk mengaku ini. Do bin tidak mau jawaban sekarang, mereka berdua punya waktu untuk berpikir.

Jin Ho keluar dari ruangan Do Bin dengan lunglai, ia diam saja. Chang Ryul menunggunya. Jin Ho malas meladeni Chang ryul, tapi Chang ryul berkata, “Yang terhormat Jeon Jin Ho tidak akan mungkin pura2 jadi pria gay untuk menarik perhatian Direktur Choi kan? Kukira kau berkata ingin bertarung dengan tangan kosong, adil dan sama, sialan kau.” Chang ryul menarik bahu Jin Ho. Jin Ho memukulnya.

Chang Ryul, “Jadi benar, aku tidak mengira kau serendah ini menggunakan orientasi seksual Do bin untuk kepentingan pribadimu.” Jin Ho, “Aku tidak pernah memanfaatkan Do bin.” Chang Ryul tidak percaya, “Lalu apa? apa kalian kencan? Mengapa selalu ada di sini?”

Jin Ho melihat Do Bin berdiri di dekat mereka, Do Bin mendengar semuanya dan Chang Ryul menantang Jin ho, “Kau ini memanfaatkan Do bin atau kau benar2 gay? Apa ada pilihan yang lain?”

Ada orang ke-4 mendengar mereka. Park Kae in tapi Jin ho tidak melihatnya. Jin ho bingung, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya dan melukai perasaan Do Bin, Jin ho tidak ingin membuat malu Do bin dan membuatnya seperti memanfaatkan Do bin seperti tuduhan Chang ryul.

Atau ia bisa bohong untuk menjaga perasaan Do Bin dan membuat dirinya dihina Chang Ryul. Akhirnya Jin ho mengambil keputusan, “Kau benar. Aku adalah…gay.” (oh..pusing, pusing deh..)

Kae in menjatuhkan barang bawaan-nya. Jin Ho menoleh dan melihatnya. Chang Ryul kaget, “Benar? jadi kau bukan benar2 pria?” (Orang Korea menganggap pria gay bukan pria yang sebenarnya.) Kae in muak dan marah dengan sikap Chang Ryul. Kae in langsung minta Chang Ryul berhenti. Do bin pergi diam2. Kae In berkata pada Chang Ryul, “Siapa kau berani menghinanya? Bukan keinginan Jin Ho kalau ia dilahirkan seperti ini. Jadi jika pria mencintai wanita, dia adalah pria..tapi dia bukan pria jika mencintai pria lain? apa kau benar2 pria..itulah mengapa kau menyakiti hatiku?”

Jin ho mencoba menghentikan mereka tapi tidak digubris, akhirnya Jin ho teriak pada Kae in untuk menghentikannya dan dengan marah Jin ho pergi. Kae in mengikuti Jin ho ke mobil, ia mohon agar Jin ho bicara dengan-nya. Jin ho, “Tentang apa? Tidak ada yang bisa kukatakan.” Jin ho masuk ke mobil dan pergi.

Chang Ryul mengikuti Kae in dan ingin tahu hubungannya dengan Jin Ho. Mengapa Kae in memihak “orang kotor” itu? Chang Ryul, “Apa kau kencan dengan pria gay sekarang?” In Hee datang tapi mereka tidak melihatnya.

Kae in menampar Chang Ryul, “Kotor? Apa yang kotor? Mengapa Jin Ho kotor? Pria atau wanita, orang mencintai orang lain. Kau tidak pernah benar2 mencintai siapapun. Siapa kau, menyebut Jin Ho kotor?”

Chang Ryul terperanjat, “Kau tidak seperti ini ketika aku putus denganmu dulu.”

Kae in membenarkan, “Dulu aku tidak bisa mengatakan apapun, aku dulu benar2 bodoh dan tolol. Tapi sekarang tidak lagi, Jin ho pasti sudah mengubahku.”

Sementara Jin Ho menyetir dengan frustrasi dan sembarangan.

Dipublikasi di Personal Taste | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Sinopsis Personal Taste episode 6

Kae In : “Apa salahku mengapa kau menyiramku dengan air?” Jin ho marah besar dan menyeret Hye Mi yang berteriak2 dan Tae hoon keluar dari lokasi pesta. Kae In mengeringkan wajah di toilet wanita dan tiba2 perutnya sakit, ia langsung masuk ke kamar mandi dan ternyata ooo..hehe biasa penyakit bulanan cewek..

Chang Ryul mendekati Jin ho,”Mengapa Kae In harus menderita karena berkencan denganmu?” Jin Ho, “Pria yang berdiri di altar dengan teman baik Kae In seharusnya tidak memusingkan hal ini, iya kan?”

Kae In akhirnya menelepon Jin ho. Jin ho langsung bergegas ke kamar mandi, “Kau baik2 saja kan?” Kae In, “Aku tidak apa2, tapi aku ingin minta tolong..aku perlu itu..kau tahu..itu sesuatu dengan sayap.”

Jin Ho, “Apa yang punya apa? Siapa yang punya sayap?”
Jin Ho berlari dan masuk ke waserda. Ia langsung menemukan yang ia cari, Jin Ho mendekati rak hanya..ada 3 gadis manis yang berdiri di dekat rak itu dan mereka memandang Jin ho dengan penuh kekaguman.

Jin Ho malu, ia berdiri dekat rak pura2 membaca buku, lalu ia taruh, ia mengambil apa ya seperti gilette gitu tapi buat cewek, terus Jin ho meraih pembalut dan kabur….
Ketiga gadis manis itu menyoraki Jin Ho dari jendela kaca…hahaha

Jin Ho menyelipkan pembalut itu di bawah pintu kamar mandi. Saat Kae In keluar Jin ho mengomel, “Kau ini katanya wanita, tapi tidak menyiapkan hal2 seperti itu” hehe..hei kadang2 kita cewek juga suka kelupaan, tahu.

Kae In ingin menyimpan pembalut sisanya, ia mau memasukkan tas kresek itu ke kantung Jin Ho, tapi Jin Ho jelas2 tidak mau, buang saja. Tapi Kae In tidak mau akhirnya Jin Ho mengalah, ia memasukkan tas itu ke mobilnya dan Kae in menunggu.
Chang ryul mendekati Kae in dan berkata, “Kau datang bersamanya untuk menentangku kan, untuk membuktikan padaku kan?” Kae in berkata jangan mimpi, Chang ryul sudah tidak ada artinya lagi bagi Kae in. Chang ryul berkata ia tahu bagaimana Kae In dan Kae In tidak akan bisa melupakan seseorang dengan begitu mudah.

Jin Ho datang dan ia mendengarnya, ia mau membela Kae In tapi kae in berkata pada Chang Ryul, “Kau jangan salah paham bahwa aku patah hati denganmu, aku baik2 saja tanpa dirimu.” Chang ryul tidak menyerah dan meletakkan tangannya ke bahu Kae in, “Aku tahu kau masih menyukaiku.”

Jin Ho datang dan mendorong Chang Ryul ke samping, Jin ho, “Sudah tidak ada lagi yang tersisa diantara kalian.” Lalu Jin Ho menggandeng tangan Kae in dan menuntunnya keluar. weee..gandengan lho mereka …

Di luar, Jin Ho kaget sendiri, mungkin Jin ho tidak menyangka reaksinya bisa seperti itu hehe. Kae in langsung berterima kasih pada Jin Ho dan berkata ini lebih memuaskan daripada menampar muka Chang ryul.

Mereka masih bergandengan tangan dan kemudian menyadarinya lalu melepaskan tangan dengan sedikit aneh. Jin Ho berkata, yah itulah gunanya teman,

Mereka kembali ke lokasi pesta, Do Bin berpidato mengenai proyek Museum Dahm, mengenai mimpi dan seni, Kae In jadi ingat sesuatu yang ditulis ayahnya dalam disertasinya, “Sang go Jae adalah dunia kecil yang membuat istri dan anakku bermimpi.” Kae In bergumam, “Itulah mengapa aku kasihan pada ayahku, karena aku hidup seperti orang yang tidak punya mimpi.”
Mereka kembali ke Sang go Jae, Jin ho memikirkan kata2 Kae In itu. Kae in keluar dari kamar dengan kesakitan, ia kena kram perut karena menstruasi. Kae in cari obat penahan rasa sakit ke sekeliling rumah dan ternyata obatnya habis. Sedangkan itu sudah malam dan semua toko obat sudah tutup.

Jin ho tanya apa Kae in mau pergi ke RS saja ? haha..kram karena menstruasi pergi ke RS ? diketawain Bidan …

Kae In berkata ia akan menahannya saja sampai besok pagi. Jin Ho kasihan melihat Kae in, maka Jin ho melakukan hal yang biasa kulakukan, ber-googling ria dengan keyword : bagaimana menghilangkan kram. Jin ho membuatkan teh jahe untuk Kae In dan Kae In senang sekali biarpun sakitnya belum hilang tapi ia senang karena punya teman pria yang bersedia berbagi sakit kram dengannya. Kae in minum tehnya dan tidur.

Tapi saat Jin ho mengecek Kae In lagi, Kae in masih kesakitan (yah memang ada bbrp cewek yg sakit sekali kalau sedang dapat, kalau aku sih biasanya pake kunyit,temulawak,ama gula jawa), Jin Ho akhirnya keluar dan menyalakan mobilnya.

Di rumah Jin ho, Hye Mi menangis dan ibu Jin Ho menghiburnya. Ternyata Jin ho pulang, Jin Ho minta obat penghilang rasa sakit pada ibunya. Menghindari Hye Mi dan bergegas kembali.

Sampai ke Sang go jae, Jin Ho langsung ke kamar Kae In. Kae in bergelung di lantai dan Jin Ho membangunkannya, ia memberikan obatnya dan menyuruh Kae in cepat minum. Kae in heran darimana Jin ho dapat obat, Jin ho akhirnya berkata ia pulang dulu minta pada ibunya.

Kae In terharu dan ia memeluk Jin ho. Jin ho kaget, Kae In sangat tersentuh dan berkata, aku mencintaimu, aku mencintaimu, teman.

Jin Ho merasa tidak enak dan ia langsung melepaskan Kae in tapi Kae in ada satu permintaan lagi…Kae In ingin Jin ho membantu mengurut perutnya. Jin Ho mengomel tapi lama2 ia dengan suka rela melakukannya dan Kae In berkata dengan menahan air mata, dulu biasanya In hee yang melakukan ini.

Kae in tahu bahwa seharusnya ia membenci In hee, tapi karena semua kenangan manis itu, ia susah melakukannya. Jin Ho akhirnya mengurut perut Kae in. Kae in berterima kasih dan berkata ayahnya tidak pernah melakukan ini untuknya. Jin Ho seperti ayah dan teman baginya. Jin ho merasa kasihan, berarti Kae in selama ini sangat kesepian, Jin ho menepuk2 bahu Kae In, Kae in tersenyum sambil menangis.

Paginya Young sun dan anaknya mengunjungi Kae In, ia langsung masuk dan membuka kamar Kae In. Young sun kaget sekali dan ia menutup mata anaknya, tapi anaknya dengan lucu menyingkirkan tangan maminya. Anaknya bertanya, “Ma apa bibi Kae in menikah?”

Pemandangan di depan mereka memang bisa membuat salah paham, Kae in dan Jin Ho tidur bersama di bed Kae In. Young Sun memanggil Kae in tapi justru Jin ho yang kaget, ia langsung bangun dan menuju kamar mandi untuk cuci muka.

Anak Young sun menyusulnya, “Kapan kau menikah dengan bibi Kae In?” Jin Ho berkata ia tidak menikah dengan bibi Kae In. Anak Young sun, “Tetapi mengapa kau tidur dengannya?” hahaha..Jin ho tidak bisa menjelaskan dan hanya mengusir anak itu dan menutup pintu.

Young Sun dan Kae In di dapur dan young sun tanya bagaimana mereka bisa tidur di ranjang yang sama, gay atau bukan. Kae in menjelaskan Jin Ho membantunya menghilangkan kram-nya.

Jin Ho benar2 orang yg baik, dan tidur di lengannya ternyata nyaman juga. Seperti tertidur di lengan ayah. Young sun heran apa Kae in ini dulu “pernah menyelamatkan negara” (ungkapan Korea, artinya kok bisa beruntung sekali.)

Young Sun datang sebenarnya mau minta tolong. Ia butuh model untuk fotonya. Young sun ingin membujuk Jin ho untuk menjadi model, ia sedang mengerjakan proyek foto dengan konsep keluarga, jadi ia butuh Jin Ho, Kae in dan anaknya sebagai satu keluarga. Jin ho menolak tapi Young sun benar2 ahli membuat orang merasa bersalah, dan anaknya juga membujuk. Akhirnya Jin ho menyerah, ia bersedia.

Apa mungkin ini anak yang sama..cuma sudah tambah besar..soalnya cara berjalan-nya mirip.
Ketiganya foto di dekat sungai dan Young sun harus mati2an mengarahkan keduanya, Jin Ho dan Kae in kaku sekali. Tapi setelah pindah ke studio dan Young sun mengarahkan agar lebih dekat, seperti saling mencium, kekakuan-nya akhirnya cair.

Young sun minta Kae in duduk di pangkuan Jin ho dan Kae in mencium pipi Jin Ho. Jin Ho refleks tersenyum karena senang dan keduanya kaget karena perasaan aneh yang tiba2 timbul.
In hee dan Chang Ryul bertengkar lagi, kali ini karena Chang ryul ingin In hee ikut makan malam dengan salah satu ibu tirinya. In Hee menolak, ia bukan tunangan Chang ryul lagi dan aneh karena Chang ryul dekat sekali dengan ketujuh! ibu tirinya.

Kae in menyediakan spa kaki untuk Jin Ho dan juga lemon tea, bahkan mencoba memijat pahanya haha..Jin Ho sudah tidak enak dan meminta Kae in menghentikannya.

Mereka makan dan Young sun sudah memberikan banyak sekali makanan sebagai ucapan terima kasih dan Jin ho mengomeli Kae in tentang pola makannya lagi. Kae in berkata ia sudah bagus di pesta dan membuat Chang Ryul menyesal karena meninggalkan Kae in, jadi Kae in tidak perlu kursus lagi.

Tapi Jin ho berkata sikap Chang ryul itu bukan karena Kae in tapi karena dirinya. Jin Ho berkata masih banyak yang harus dipelajari Kae in, dan Jin ho mengurangi porsi makan Kae in menjadi hanya 1/3-nya. Jin ho juga mengkritik cara bicara Kae in sehingga semakin lembut dan sopan. Tapi Kae in tidak mendengarnya.

Kae in memberi Jin Ho hadiah, yaitu gantungan mantel dengan sarang burung kecil diatasnya. (aku mau itu ..lucu..) Jin ho berkata ya sepertinya itu bisa berguna. Kae in tanya mengapa Jin ho tidak berkata terima kasih saja. Jin Ho langsung merespon, ia mengajak Kae in makan di luar. Kae in langsung senang.

Jin Ho mengajak Kae in makan mie. Kae in makan banyak dan bahkan bersendawa dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Kae in tanya mengapa mereka jauh2 hanya untuk makan mie. Jin ho berkata ia suka kesini karena ia senang melihat orang yang sedang lalu lalang. Jin ho sudah tidak pernah kemana-mana sejak terakhir ia pergi dengan ayahnya ketika ia masih kecil.

Kae in tanya mengapa Jin ho tidak pernah ikut tur ketika kuliah, Jin ho berkata ia terlalu sibuk belajar. Jin ho keras pada dirinya sendiri untuk mengambil kembali apa yang sudah hilang darinya. Kae in berkata agar Jin ho mengajaknya dalam perjalanan itu. Jin ho berkata akan mempertimbangkannya.

Paginya, Presdir Han bertemu dengan Presdir Choi dan Presdir Han sudah siap dengan rencana liciknya. Han berkata Choi tidak perlu menghabiskan waktunya dengan arsitek skala kecil yang tidak bisa memberi jaminan pada proyek berskala besar ini.

Kae in datang ke galeri dan In hee kaget melihatnya. In hee selalu merendahkan Kae In tapi sebenarnya In hee selalu mengingini semua milik Kae in, ya pacar, ya teman, semuanya, karena jiwa In hee kosong.

Do Bin ingin Kae in menciptakan ruang untuk anak agar bisa main dengan aman dan bebas sementara orang tua mereka mengunjungi museum. Kae in ingin berkonsultasi dengan designernya furniture apa yang mereka perlukan. Tapi do bin berkata Kae in lah yang harus menentukannya. Do bin percaya Kae in bisa melakukannya. Karena ayah kae in pasti sudah mengajarkannya.

Kae in menolak dan berkata ia tidak bisa dan ia tidak ingin mencemarkan nama baik ayahnya. Do bin menantangnya, “Apa kau tidak mau menguji dirimu sendiri dan melihat apa yang dapat kau hasilkan?” Kae in akhirnya menerima tantangan itu dan berterima kasih pada kesempatan ini. Do Bin berkomentar, Kae in dan Jin Ho itu beda tapi ada kemiripan diantara keduanya.

Di kantor Jin Ho, Sang jun menerima e-mail dari MS grup yang berkata bahwa mereka punya jaminan mengembalikan uang kalau tender gagal.

Choi Do Bin masuk ke kantor Presdir Choi yang ternyata adalah ayahnya. Do bin berkata bahwa proyek Dahm ini adalah menemukan inovator dan jika ayahnya tidak mengijinkan perusahaan kecil berpartisipasi, ayahnya hanya menutup kemungkinan untuk mendapatkan ide terbaik untuk museumnya. Do bin minta ayahnya mempercayakan ini padanya.

Ayahnya bukan tidak mau menyerahkan proyek ini ke tangan Do bin hanya ia takut kehilangan muka. Akhirnya Do bin mengancam, kalau begitu, ia akan pergi lagi.

Chang ryul juga kesal karena ayahnya mengadakan kesepakatan gelap lagi untuk menyingkirkan Jin ho. Chang ryul berkata ia mampu bersaing dengan Jin ho secara adil dan sama. Ayahnya berpikir itu kekanak-kanakan, karena menang adalah yang paling penting.

Ayah Chang Ryul juga memanggil In hee ke kantornya dan ia bicara panjang lebar mengenai pernikahan mereka. In hee dengan kikuk berkata hubungannya dengan chang ryul sudah selesai. Ayah Chang Ryul kesal dan menghina In hee yang tidak selevel dengan keluarga mereka. In hee kesal dan membalas, ia mungkin tidak sepadan jika bicara tentang kekayaan, tapi ia menyadari ada hal2 yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan saat pernikahan ia menyadari pria seperti apa yang ingin ia nikahi, seorang yang bisa ia percaya dan hormati, dan itu bukan Chang Ryul.

Chang ryul membawa In hee ke tepi sungai (org Korea ini suka pamer sungainya ..iyalah bersih..ngga kaya Cikapundung hiks..hiks). Chang ryul berkata di malam dimana Kae in mengusirnya, dan In Hee mengundangnya minum. Chang ryul heran mengapa Kae in tidak bisa melihatnya sebagai pria, dan In hee menjawab ia bisa dan sejak saat itu Chang Ryul jatuh hati pada In hee.

Chang Ryul tanya, lalu mengapa malam itu kau mengatakan hal itu padanya. Apa karena kekayaan dan status keluarganya? In hee menjawab bukan karena itu. Ini karena Kae in sangat mencintai Chang ryul. In hee melihat Kae in sangat bahagia dan jatuh cinta makanya In hee mulai menginginkan apa yang menjadi milik Kae in, dan ia menyukai pria Kae in yaitu Chang Ryul.

Tapi kemudian akhirnya In hee sadar bahwa yang ia cintai adalah dari pandangan Kae in, atas cinta sejati dan tidak berkesudahan milik Kae in. Dan bukannya pada Chang ryul. In hee benar2 wanita yang tidak tahu bagaimana mencintai.

Jin Ho dan Sang jun termenung saat Tae Hoon datang dengan berita bahwa Presdir Han dari MS grup yang akan mendapatkan tendernya. Jin ho menemui Do Bin tapi Do bin tidak ada. In hee berkata pada Jin ho mungkin Do bin membujuk ayahnya. Tapi In hee berkata jika Presdir Choi sudah memutuskan susah diubah.

In hee melihat Jin ho kesal dan ia menawarkan minum, tapi Jin ho menolaknya, In hee juga menawarkan untuk mengantar pulang, Jin ho menolak lagi.

Jin ho minum2 tapi sendirian, di pojangmacha dan ia minum sampai jatuh ke lantai.

In Hee pulang, Chang ryul menunggunya. Chang Ryul berkata In hee boleh mendapatkan apartemennya dan ia akan pergi. Chang ryul minta maaf karena membuat masalah dan berkata agar In hee tidak mengaburkan fantasi dengan kenyataan lagi. In hee harus hidup dengan baik dan Chang Ryul pergi.

In hee menangis dan minta maaf karena sudah mengganggu Chang ryul dan Kae in. Chang Ryul berkata agar In hee nanti menemukan orang yang ia cintai, bukan pacar orang lain. Chang ryul berkata ia benar2 mencintai In Hee dan In hee menangis.

Kae in menunggu Jin ho karena ia cemas. Jin ho belum pulang dan tidak menjawab telpnya. Jin ho jalan terhuyung2 pulang dan Kae inlari menyongsongnya. Jin ho menyambut Kae in,”Oh temanku Park Kae In!” Jin ho mengoceh panjang lebar.

Setelah di dalam, Kae in tanya mengapa Jin ho minum banyak. Jin ho menjawab yah ada kalanya seperti ini, dimana kau perlu minum.

Jin ho menangis, Jin Ho, “Aku berlari dengan kencang, mendengar orang2 berkata aku gila. Aku berlari, tapi aku hanya anak kecil. Anak yang tidak bisa melakukan apapun saat ayahnya meninggal. Sangat tidak adil sampai membuatku menangis. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Hanya anak kecil yang memukuli tembok. Sejauh apapun aku lari, aku selalu ada di tempat yang sama.”

Jin ho menangis dan Kae in mendengarkannya, ia juga menangis. Kae in memegang wajah Jin ho, “Jin ho sshi, apa kau menangis?” Jin ho melihat ke arah Kae in dan Kae in menghapus air mata dari wajah Jin ho. Jin ho mendekat dan mencium Kae in!

Dipublikasi di Personal Taste | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Sinopsis Personal Taste episode 5

Pagi hari di Sang Go Jae…

Kae In dan Jin Ho terbangun di tempat tidur yang sama! keduanya shock dan grogi…hehe
Kae In : Jin Ho apa yang kau lakukan di kamarku…
Jin Ho : Ini kamarku.
Kae in : Lalu..apa yang kulakukan dalam kamarmu..?

Kemudian mereka ingat, semalam…Jin ho menyarankan agar Kae In membuat Chang ryul menyesal melepaskan dirinya, Kae in minta agar Jin Ho membantunya menjadi wanita sejati.
Kae in mohon agar Jin Ho membantunya, Jin Ho malas mencampuri urusan Kae in tapi Kae in berkeras sampai bergelantungan di kaki Jin Ho. Akhirnya mereka ada di kamar Jin ho dan minum2 di situ.


Ketika ingat Jin Ho berkata Chang Ryul meninggalkan Kae in karena Kae in tidak mau tidur dengannya. Kae in tahu itu tapi ia ingin menjadi wanita yang dicintai dan ia ingin membuat pria tertarik dengannya dengan atau tanpa tidur dengannya.
Kae in mengingatkan Jin Ho bahwa Jin Ho sudah bersedia membantunya, Jin Ho tidak ingat tapi akhirnya Jin ho berkata, baiklah kita coba saja meskipun tampaknya tidak mungkin. Kae In senang sekali dan memeluk Jin Ho. Jin Ho terlihat kaget, “Berhenti omong dan cepat cuci muka!” lalu ia melempar Kae In hehe..shock ya..?

Chang Ryul pulang ke apartemennya dan In Hee kesal karena semalam Chang ryul tidak melanjutkan percakapan mereka. In hee mau Chang ryul pindah karena in hee sudah kehabisan uang karena pesta pernikahan, Uangnya tinggal 5 ribu Won.
Tapi Chang Ryul tidak mau, ini kan rumahnya.

Kae In mulai menyuap Jin Ho, ia bahkan menyediakan kopi dsb. Jin Ho akhirnya mulai memberikan kursus kepribadian (Kaya John Robert Powers course aja…)


Pelajaran 1. Jin Ho mengritik penampilan Kae In. Pria tidak ingin melihat wanita yang terlalu tidak sabar atau putus asa. Wanita yang menarik harus punya harga diri. Membuat pria menunggu dapat menjadi daya tariknya.
Jin ho berkata, apa Kae in bisa mengerti mengapa wanita selalu membuat pria menunggu 10 menit jika mereka janjian?
Tapi Kae In membantah, jika sibuk ganti baju itu makan waktu, apa hal itu benar2 penting? hehe..iya juga

Seorang wanita harus percaya diri, bahwa prianya tidak akan pergi meskipun ia terlambat, maka Kae In harus belajar bersabar. Jin ho bahkan menyiapkan baskom isi air dan meminta Kae in memasukkan kepala ke dalamnya. Saat Kae in kehabisan napas, Jin ho menahan kepala Kae In.
Jin Ho : “Kau hanya bisa bertahan 40 detik?”
Kae In : “Aku merasa hampir mati. Aku bukan pemimpin perjuangan kemerdekaan, mengapa harus bertahan dalam air?”

Pelajaran berikutnya, Jin Ho mengurung Kae in dalam sebuah ruangan dan berkata apapun yang terjadi, Kae In tidak boleh meninggalkan ruangan ini dalam satu jam. Jin Ho mengetes dengan bolak balik menawarkan makanan atau pura2 ada kebakaran, dan Kae In selalu gagal, ia selalu melihat keluar.
Kemudian, Jin ho mengajarkan cara berjalan. Persis kaya model di catwalk, Jin Ho memperagakan cara jalan dengan lurus, dan Kae in sempat mencuri lihat..hehe Jin Ho’s butt!
Kae In mencoba jalan dengan membawa gelas isi air di kepalanya dan Kae in memecahkan gelasnya. Jin Ho membungkuk untuk membereskan pecahan gelas sambil mengomel. Kae in justru tersenyum ia tahu Jin Ho sebenarnya baik padanya, Kae in berkata, “Mari menjadi teman selamanya.”

Saat makan, Kae In juga harus belajar menahan selera makannya. Jin Ho berpikir kebanyakan pria tidak tertarik dengan wanita yang sibuk sendiri dengan makanannya. Kae in membantah, jika seorang wanita tidak makan sama sekali, bukankah nanti pria itu akan berpikir bahwa wanita itu kehilangan selera makan karena dirinya? (hehe..makanya cari pasangan yg juga suka makan, jadinya wisata kuliner deh …)

Sang Jun dan Young Sun keduanya datang bersamaan dan ikut makan, dan terjadi kesalahpahaman lagi. Young Sun pikir Sang Jun tidak tahan tidak ketemu Jin Ho sehingga biarpun sudah sekantor tetap saja berkunjung.
Kae In mengingatkan Young sun agar tidak menyinggung Jin Ho, Jin Ho pusing, Sang jun bingung. (Tapi kalau melihat penampilan Sang jun emang bisa salah paham, sebab doi benar2 dandy ..pake scarf lagi..mungkin tergolong cowok metroseksual ya hahaha..)

Di dalam kamar, Jin Ho minta maaf pada hyung-nya karena sudah terjadi kesalahpahaman. Jin ho sudah siap2 kalau Sang jun marah, tapi lucunya Sang Jun tidak masalah dan ikut main. Jika ini cara agar Jin ho bisa tinggal di Sang go jae, maka ia akan membantunya. Sekarang aku bukan hyung-mu lagi tapi pacarmu, memang akan aneh tapi kau akan terbiasa.
Sang jun bahkan mulai bergaya centil. Jin Ho kaget apa kau gila? Keluar sana dan ia mengusir Sang jun keluar kamarnya.

Di luar, Sang Jun dihibur oleh Young Sun yang mengira ini pertengkaran antar kekasih. Bahkan Sang Jun berkata pada Young sun, “Apa aku bisa memanggilmu unni mulai sekarang?”

Kae in merasa bersalah, ia langsung masuk ke kamar Jin ho dan berlutut dengan tangan ke atas, persis anak kecil yang siap2 dihukum. Tapi Jin Ho ternyata tidak terlalu marah. Kae in bahkan sekarang bisa membujuk Jin ho untuk membantunya lagi, ia ada wawancara kerja dan tidak tahu harus pakai baju apa dsb. Jin Ho tersenyum sedikit.

Kae In mengagumi kulit Jin Ho dan akhirnya mereka membuat masker alami.

Jin Ho dan Kae in bahkan maskeran bersama (resepnya : madu, susu, dan kuning telur. Serius jika mau kulit kaya Lee Min Ho boleh dipraktekkan) haha..kemudian ibu Jin Ho menelepon. Jin Ho, “Jang Mi? (kok namanya sama ama maminya Min Jae ya?)” dan Kae in menguping ia heran mengapa Jin ho berbicara dengan akrab terhadap wanita, Jin ho memanggil ibunya dengan nama depannya. Jin Ho menjelaskan, wanita itu ibuku tahu.

Kae In jadi ingat ibunya. Kae in menjelaskan ia baru berusia 5 th saat ibunya meninggal hanya ia tidak ingat ibunya. Jin Ho menghiburnya, mungkin Kae in terlalu shock jadi memutuskan untuk melupakannya agar tidak terluka. Kae In tersenyum dan ia menyandarkan kepala di bahu Jin Ho, “Aku belum bilang ya, Selamat datang di rumahku.”

Chang Ryul berusaha mendekati Choi Do Bin di gym tapi Do Bin tidak terkesan. Ia tidak suka dengan kehidupan pribadi Chang Ryul, ia berkata orang dengan kehidupan cinta rumit menurutnya juga memiliki kehidupan profesional yang rumit.

Choi Do bin menelepon Prof. Park Chul han untuk minta bantuan ayah Kae In itu, Ia bahkan menawarkan untuk mengirimkan bahannya ke Inggris. Tapi ayah Kae In menolaknya, maka Do Bin mencoba taktik lain.

Kae In tidak sukses dalam interviewnya dan ia menyibukkan diri dengan mengecat furniture-nya yang ditolak. Young Sun berkata Jin Ho dan Kae in tampaknya cocok sekarang, Kae In membenarkan. Young sun mengingatkan jangan jatuh cinta pada pria gay. Itu akan menjadi tragedi.
bel berbunyi, ternyata Do Bin! Ia mencari putri Prof. Park, Kae In panik, ia pikir Do Bin dikirim oleh ayahnya, bagaimana jika ayahnya tahu bahwa ia menyewakan kamar?

Tapi Do Bin menjelaskan ia ingin Kae In meyakinkan Prof. Park untuk mengerjakan proyeknya. Kae In lega. Do Bin mengenali Kae In di pesta pernikahan Chang ryul, dan ia menebak Kae in adalah teman Jin Ho.
Kae In menyesal ia merasa tidak bisa membantu Do Bin meyakinkan ayahnya. Do Bin bisa mengerti tapi Do Bin berkata ia pikir Kae In cukup berani hanya tampaknya ia tidak punya keyakinan jika itu berurusan dengan ayahnya.

Kae In menyiapkan makan malam, Jin Ho dan sang jun masih berdiskusi mengenai Sang go Jae. Pasti ada keistimewaan-nya, tapi mereka tidak melihat istimewanya.
Kae in menelepon Jin Ho dan tanya apa Jin ho bisa pulang awal untuk makan malam, Jin Ho berkata lihat saja nanti. Mendengar ini, Sang Jun mengolok2 Jin Ho.

Jin Ho mendapat telp dari In Hee yang mengingatkan janji makan malam mereka, Jin Ho malas dan ia ingin makan dengan Kae In, maka Jin Ho mengundur janjinya, tapi In Hee memancing dengan berkata ia punya tips yang berkaitan dengan pesta yang akan datang. Jadi mau tidak mau Jin Ho datang juga.
Saat makan, In Hee intinya mau mencuci otak Jin Ho bahwa Kae in itu tidak sebaik yang kelihatan, Kae in itu orang yang menyedihkan krn selalu pura2 baik pada In Hee. Tapi Jin Ho menanggapi, “Kae in tidak pura2, dia memang baik!” hahaha..puas.

Kae in menunggu Jin Ho pulang, tapi tidak juga datang, ia sampai menunggu di luar gerbang.(kaya Han Ji Eun aja…)
Jin Ho mengantar In Hee pulang, In Hee berkata, “ia merasa Jin Ho bukan gay, tapi benar2 pria.” dan saat mereka mengucapkan selamat tinggal, Chang Ryul melihatnya. Chang ryul berkata apa yang dilakukan In hee? Apa kau ingin terlihat menyedihkan agar Chang ryul melepaskannya? In Hee berkata ia sudah selesai dengan Chang Ryul, dan ia ingin bersama Jin Ho, karena ia tertarik dengan Jin Ho, karena Jin Ho beda dengan dirimu. Hanya itu yang kubutuhkan! kata In hee.

Jin Ho mampir membeli roti untuk Kae In (toko rotinya pasti langsung laris deh…tasnya bagus lagi…). Jin Ho turun dan memang benar, Kae In ada di situ menunggunya. Tapi kali ini Kae in bohong dan berkata ia bukan saja sudah makan tapi juga makan bagian Jin Ho.
Tapi saat lihat tas berisi roti itu, Jin Ho mengingatkan Kae in untuk sabar. Kae in kesal, orang yang menahan makanan adalah orang paling kejam, Jin Ho justru mengangkat tangannya tinggi2 agar Kae In tidak bisa meraihnya. hehe..

Mereka akhirnya makan diluar, Kae in mengambilkan ikan untuk Jin Ho (kaya yg dilakukan mamanya Jandi atau Jae Kyung buat Jun Pyo). Jin Ho protes itu jorok kan, tapi waktu Kae in mau mengambil kembali ikannya, Jin Ho menahannya.

Kae in tanya mengapa Jin Ho pulang terlambat? Jin Ho bohong dan berkata ia ada kerjaan. Kae in berkata ia tidak akan menunggu orang untuk makan malam lagi. Jin Ho berkata, “Menahan lapar sambil menunggu seorang pria menunjukkan keputus-asaan, itulah mengapa Kae In dicampakkan.” (iya sih..aku ngga pernah nunggu, kalo lapar ya makan aja, kalo nanti my hubby datang ya makan aja lagi hahahaha…oh life is so beautiful..)

Di jalan, Kae In melihat mesin mainan dan ia ingat saat2 masih bersama Chang ryul. Kae In memukul2 mesin itu dan memikirkan Chang ryul. Jin Ho menghentikannya. Jin Ho akan mengajak Kae in ke pesta hari sabtu ini agar Kae in bisa menyelesaikan hubungannya dengan Chang Ryul.
Pembalasan terbaik adalah hidup dengan baik2 saja tanpa orang yang sudah menyakitinya.

Jin Ho dan Kae in belanja bersama (kali ini tidak ada adegan memukul alarm dengan sepatu) dan make-over rambut Kae In. Jin Ho tampak akrab dengan penata rambutnya, Kae In menyangka itu pacar Jin ho yang lain lagi.

Akhirnya mereka tiba di pesta, dan benar2 tampak serasi. (tp kalo penampilan gini, aku jadi inget iklan Sohn Ye Jin ama Kim Nam Gil yg 3 menit itu hehe..)

Keduanya membuat banyak orang cemburu. In Hee dan Chang Ryul ternganga tidak percaya. In Hee menuduh Chang Ryul ingin kembali pada Kae In.
Jin Ho memberi salam pada Do Bin yang juga memberi salam pada Kae In. Do Bin menjelaskan bagaimana mereka bertemu. Kae In meyakinkan Jin Ho ia tidak apa ditinggal. Jin ho tidak tenang meninggalkan Kae in bersama Do Bin sementara In Hee mengajaknya berkeliling (go mingles..kata para partygoers).

wah..ternyata lengan Sohn ye jin “berisi” juga..aku jadi besar hati..hahaha

Do Bin berkata pada Kae In bahwa ia pasti memberikan bantuan banyak untuk Jin ho. Kae in tidak begitu mengerti dan ia meyakinkan Do Bin bahwa Jin Ho tidak tahu siapa ayahnya dan mereka baru saja berteman.
Do Bin senang dengan furniture Kae in dan ia ingin membuat tempat khusus anak di museum dan ia ingin Kae in membuat furniturenya, wow Kae in langsung senang dan kaget, Do Bin menawarinya pekerjaan!

Kae In mau mengatakan berita bagus ini pada Jin Ho ketika Hye Mi dan Tae hoon juga muncul. Hye mi langsung tidak suka pada Kae In dan langsung merangkul lengan Jin Ho (ini oppaku.) Do Bin tidak terlalu senang melihat ini, ia berkata Jin Ho membawa 2 kencan sealigus ke pesta. Jin Ho mau menjelaskan tapi Do Bin pergi.

Jin Ho berbisik pada Kae in, ia akan keluar sebentar dengan Hye Mi. Tapi Hye Mi tidak suka melihat Jin Ho baik dengan Kae In. Hye Mi marah. Kae In mau menjelaskan bahwa Hye Mi salah paham, ia pikir Hye mi tidak tahu orientasi seksual Jin Ho.

Jin Ho sudah memperingatkan Kae In dengan perlahan agar tidak berkata apa2. Tapi Kae in justru berkata Jin Ho tidak bisa “menyembunyikannya”.

Hye Mi salah paham, ia pikir Kae In bermaksud bahwa Jin Ho tidak bisa menyembunyikan kalau sudah pacaran dengan Kae In, maka Hye Mi marah dan mengira Kae In mencuri Jin ho-nya, Hye Mi mengambil gelas dan menyiramkan air ke wajah Kae In.

Jin Ho shock.

Dipublikasi di Personal Taste | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Sinopsis Personal Taste episode 4


Setelah dipijat, Kae In tidur pulas di sofa, Jin Ho masuk ke kamarnya dan ia mencoba menenangkan diri atas kejadian di restaurant, di depan Choi Do Bin lagi. Tapi tenang ini demi proyek.

Paginya, Kae In bangun dan ia ingat sudah mempermalukan Jin Ho dan ia ketakutan. Kae In dengar Jin Ho akan keluar dari kamar dan ia pura2 jatuh ke lantai dalam keadaan tidur. Jin Ho mau membangunkan Kae In tapi tidak berhasil, lalu pergi.

Kae In bangun setelah Jin Ho pergi dan ke kamar mandi, Jin Ho menyelinap ke kamar mandi untuk menakut-nakuti Kae In. Jin Ho ingin Kae In minta maaf karena kejadian kemarin, tapi Kae In pura2 tidak ingat dan berkata kalau mabuk ia tidak ingat apapun. Jin Ho kesal dan pergi.

Jin Ho dan Sang Jun mengunjungi lokasi Museum Dahm, Sang Jun berkata, “Orang itu sepertinya menyukaimu.” Jin Ho salah paham ia pikir Sang Jun menyebut Do Bin, ia langsung berkata, jangan ngawur, memang pria bisa menyukai pria juga? Sang Jun bingung, maksudnya Kae In.

Mereka bertemu lagi dengan ayah Chang Ryul, dan saling menyindir. Jin Ho berkata satu2nya kesalahan yang dibuat ayahku adalah mempercayai orang kepercayaannya. Presdir Han tidak terlalu terpengaruh.

Kim In Hee dan Hye Mi bersamaan datang ke kantor Jin Ho, keduanya saling melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hye Mi berkata ia adalah tunangan Jin Ho, In Hee heran bukankah orang itu gay? Jin Ho datang dan ia memang lebih ramah dan sopan pada In hee karena In hee adalah orang kepercayaan Do Bin, sedang Hye Mi diacuhkan saja.

In Hee mengundang Jin Ho ke pesta gala, disana kau akan bertemu banyak kontak profesional. Jin Ho sangat berterima kasih apalagi saat In hee juga memberi tips tentang kebiasaan Do Bin, Jin Ho bahkan mengantar In hee kembali ke museum. In hee sangat senang dan ia mengundang Jin Ho makan malam, Jin Ho langsung mengiyakan, gantian In hee yang kaget, apa pria ini benar2 gay?

Chang Ryul kebetulan ke museum dan melihat keduanya yang sedang bicara dengan akrab dan ia panik.

Jin Ho berusaha berlatih bicara di toilet untuk menjelaskan pada Do Bin bahwa yg dikatakan Kae In tidak benar. Ia bukan gay. Jin Ho bertemu Do Bin dan mereka minum kopi bersama. Jin Ho mulai menjelaskan bahwa ia bukan gay, tapi Do bin berkata ia tidak peduli masalah pribadi orang, ia hanya ingin Jin Ho melakukan yang terbaik dalam desainnya.

Do Bin suka dengan kepandaian Jin Ho apalagi saat Jin Ho juga menguasai lukisan, ia menyarankan agar mengoleksi lukisan Kandinsky saja dan bukan lukisan karya Klimt.

Young sun ke rumah Kae In dan membawa tiram dari ibunya. Kae In mengaku ia membuat masalah lagi dan bercerita mengenai kejadian memalukan di restaurant dan Young sun tidak percaya ini. Young sun akhirnya menyuruh Kae In membayar kesalahannya dengan masak untuk Jin Ho, jalan menuju hati pria adalah melalui perutnya.

In hee menelp Jin Ho dan berkata bossnya Choi Do Bin ingin makan malam dengannya, Sang Jun kagum dengan kemampuan Jin Ho. Kae In dan Young sun juga mencari film untuk ditonton bersama Jin Ho. Kae In memilih film Brokeback Mountain-nya Ang Lee hahaha…Kae in beralasan ini adalah cara agar Jin Ho bisa terbuka dengan kondisi dirinya di depannya. (masalah gay dan lesbian juga adalah masalah sensitif di Korea, banyak pria gay yang tidak terbuka karena kultur dan lingkungannya.)

Jin Ho mendengar anak buahnya googling di internet untuk mencari tahu apa yang diinginkan wanita untuk Natal, ternyata mereka ingin teman gay. Jin Ho jadi ingin tahu dan Sang Jun melihatnya.

Jin Ho pulang dan Tae Hoon menguntitnya, ia janji pada Hye Mi untuk cari tahu dimana Jin Ho tinggal selama ini.

Hye Mi menghabiskan waktu menemani Ibu Jin Ho ke spa, dan mereka sangat cocok, bagai ibu mertua dan menantu kesayangannya. Tae hoon akhirnya tahu bahwa Jin ho tinggal di sang go jae. Lalu Tae hoon segera lapor pada Hye mi.

dia datang..dia datang..

Young sun dan Kae In menyiapkan makan malam, sepanjang waktu Kae in terus minta bantuan Young sun. Kae in benar2 tegang dan ia ketakutan ketika Jin Ho pulang. Young sun mencoba mencairkan suasana dan menasihati mereka agar bicara dengan santai dan jangan terlalu resmi, tapi Jin Ho tidak terlalu tertarik dan masuk ke kamarnya. Young sun harus pulang untuk menjaga anaknya dan Kae In sendirian.

Jin Ho keluar dan mereka membicarakan lagi masalah di restaurant dan Kae in tetap berkata ia tidak ingat, lalu Jin Ho pura2 Kae In punya hutang padanya, dan Kae in menyangkalnya..berarti ingat dong..

Jin Ho tersenyum dan ia ingin Kae in menulis kontrak jika Kae in mengatakan orientasi seksualnya lagi maka Kae In harus bersedia melakukan apapun yang diminta Jin Ho. Kae in mengiyakan dengan terpaksa dan kontrak di stempel.

Kemudian Kae in mengatakan ia masak untuk makan malam dan mengundang Jin Ho. JIn Ho akhirnya memakannya dan ia berkata, “Yah rasanya lumayan untuk dimakan manusia.” Dan Jin Ho memakan semua sendirian tidak membaginya dengan Kae In. Kae in mencoba lagi menawarkan nonton film tapi Jin Ho berkata ia tidak punya waktu nonton dengan Kae In.

Chang Ryul dan In hee rebutan apartemen lagi, kali ini Chang Ryul yang di dalam dan mengganti passw pintunya. Mereka bertengkar tentang apa saja dan akhirnya Chang Ryul memeluk In hee dan mohon agar In hee menerimanya kembali.

In Hee hanya berkata jika hatinya sudah pergi maka tidak akan kembali, ia selalu suka dengan yang baru dan terbaik, Chang Ryul bukan yang terbaik. Baginya pria itu seperti tas keluaran terbaru, ia akan selalu memburu yang terbaru dan paling bagus. Chang Ryul akhirnya berkata tidak ada satupun yang boleh meninggalkan apartemen, In hee setuju, tapi Chang rYul tidak boleh mencampuri urusan pribadinya.

Kae in akhirnya nonton film sendirian, tapi bukan Brokeback. Jin Ho keluar dan Kae in minta diambilkan air. Kae in reflek memanggil Jin ho, In hee ya, ia masih terbiasa dengan In hee. Jin Ho membawakan Kae in air dan berkata In hee pasti sudah lama sekali jadi teman Kae in. Kae in berkata ya sudah 10 th.

Kae in menawarkan popcorn, Jin Ho berkata, “Kau tahu itu akan langsung jadi lemak.”(la aku buat omelet ama cappucino sambil ngeblog..pantesan aku tambah gemuk akhir2 ini sigh…) Kae in tidak peduli, dan Jin Ho makan popcorn juga, Kae In tanya, memangnya kenapa dengan lemak perut? Jin Ho tidak suka jika perutnya berlemak.

Kae in tanya kapan Jin Ho tahu pertama kali kalau ia gay, kalau ia beda dari yang lainnya? Jin Ho tidak menjawab. Kae in berkata lagi, ia tahu ketika berusia 7 th. Jin Ho kaget, jadi kau lesbi? Bukan, saat aku tahu bahwa aku berbeda dengan anak lain. Saat aku melihat ibu teman2ku datang ke acara di sekolah dan bahwa ibuku tidak akan datang.


Kae in berkata mungkin kau tahu bagaimana rasanya itu. Kae in terus saja tanya kapan Jin Ho tahu ia suka dengan sejenisnya, Jin Ho tidak menjawab dan hanya menyumpal mulut Kae In dengan popcorn.


Paginya, Jin Ho mendapat musibah, ia kena diare, ia merasa sakit saat di kantor, Jin ho benar2 putus asa menahan perutnya yang sakit sambil berjalan, satu tangan menahan perut satu di bagian pantat haha..menahan agar tidak meledak. Jin ho pasti keracunan seafood. Jin Ho kesal sekali, sambil duduk di toilet, Jin Ho merancang pembunuhan yang perlahan dan menyakitkan buat Kae In.

Kae in ikut interview pekerjaan, dia pikir interview untuk posisi designer, ternyata posisi sekretaris dan Kae in langsung ditolak. Chang Ryul melihatnya. Chang Ryul mengikuti Kae In. Kae In putus asa dan makan ramen sendirian lalu pulang dan kehujanan. Chang Ryul melihat Kae In dari jauh.

Jin Ho menemui Choi Do Bin untuk janji makan malam, tapi Do Bin melihat wajah Jin Ho pucat dan keringat dingin, ia mengulurkan saputangan-nya dan usul apa kita menjadwal ulang saja, kau kelihatan tidak enak badan. Do bin minta saputangan-nya kembali, katanya saputangan ini punya nilai sentimentil. (jd ingat kata2 Jandi, perjumpaan yang paling indah adalah seperti saputangan..hehehe)

Jin Ho pulang ke rumah dan ia melihat Chang Ryul ada di luar rumah. Jin Ho marah karena tiram, makan malamnya yang batal. Kae in sangat mencemaskan Jin Ho dan ia lari kesana kesini di sekitar rumah mencari obat diare, rambutnya basah karena kehujanan jadi lantai ikut basah.

Kae in terus tanya tentang diare Jin Ho yang membuat Jin Ho tambah marah, “Berhenti berkata Diare!!” lalu Jin ho berteriak lagi karena Kae in membuat lantai basah, lalu ia mengambil handuk dan meminta Kae in mengeringkan rambutnya sebelum kena flu.

Jin Ho mendengar keributan di dapur, ternyata Kae in memecahkan piring. Jin Ho membantu membersihkan pecahannya. Apa kau bisa sehari saja tidak membuat kekacauan. Kae in membalas, Apa kau bisa sehari saja tidak mengusikku?

Ternyata Kae In membuat bubur untuk Jin Ho. Jin Ho menyuruh Kae In mencicipinya dulu siapa tahu itu beracun. Jin Ho melihat jari Kae in yang luka, Kae in berkata itu karena masak kemarin. Tiba2 Chang Ryul yang mabuk memanggilnya dari luar rumah.

Jin Ho melihat wajah Kae in dan Jin Ho berkata jangan keluar. Kae in berkata ia tidak akan keluar. Tapi Jin Ho yakin Kae In akan keluar.


Ternyata Kae In keluar. Jin Ho masuk ke kamar Kae In dengan tensoplas di tangannya, tapi melihat Kae In tidak ada, ia bergumam, “Jeon Jin Ho menang lagi.” Wajahnya sedikit kecewa.

Kae In menemui Chng Ryul dan tanya apa alasan Chang Ryul memilih In hee dari yang lain, alasannya karena In hee memberikan semuanya untuknya, sementara Kae In hanya sebatas lengan (maksudnya In hee mau tidur dengan Chang Ryul), Chang Ryul berkata Kae in sangat tidak matang dan naif.

Kae In menjawab, bahwa ia sudah sangat bahagia bisa bersama Chang Ryul, setiap ciuman, setiap telp, dan bergegas menemui Chang Ryul tanpa peduli penampilannya karena ia sangat ingin menemui Chang Ryul. Chang Ryul berkata, mereka beda, Kae In tidak sesuai dengan dirinya sebagai orang dewasa dan sejajar.

(well, I think pria yang mau ceweknya tidur dengannya sebelum menikah adalah org yg egois dan tidak bertanggung jawab. Mencintai bukan berarti menuntut ceweknya melakukan apapun keinginannya, jika mencintai berarti he will take care of his girl until the wedding day. Apalagi pake mengancam akan putus jika tidak dituruti, well kataku..putus saja, who scares? Because every girl is so precious.)

Kae in merasa ini kesalahannya. Tiba2 ponsel Chang Ryul berbunyi, ternyata In Hee, Chang Ryul keceplosan dan berkata ia tinggal dengan In Hee. Kae In sangat terluka dan ia tidak percaya Chang Ryul berani menemuinya padahal ia masih tinggal dengan In Hee. Kae in marah dan menyuruh Chang Ryul pergi.

Kae In masuk ke rumah, Jin Ho menunggunya, “Dasar bodoh, kau ini seperti anak anjing, ditinggalkan majikannya, lalu lupa dan langsung lari ketika dipanggil namanya. Apa kau tahu kau terlihat sangat menyedihkan sekarang?”

Kae In, “hentikan!” Jin Ho terus saja mengomelinya. Kae in murka, ia memukul Jin Ho dengan bantal2 dan memukul dada Jin Ho. Kae in : “Apa kesalahanku? Mengapa kau membuatku terlihat begitu menyedihkan? Mengapa?” Jin Ho, “Kau yang melakukannya pada dirimu sendiri.”

Kae In, “Kau tidak pernah menunggu telp sepanjang hari dari orang yang kau suka. Atau merasa hatimu akan meledak hanya melihat orang itu. Kau bisa mati dan bangkit dari kubur dan tidak pernah tahu. Orang yang membuatku merasa seperti itu tadi memanggilku keluar, tidak peduli betapa salahnya aku. Aku ingin mendengar suaranya. Apa yang bisa kulakukan? Seperti inilah aku, apa yang bisa kulakukan?”

Kae In menangis dan mata Jin Ho juga berkaca-kaca. Mereka akhirnya menenangkan diri dengan minum2. Kae In mengulang kata2 Chang Ryul. Jin Ho menyebut Chang Ryul bastard. Jin Ho meminta Kae in melupakan Chang Ryul. Kae in berkata ia tdk bisa dan berkata ini salahnya. Jin Ho, “Buatlah dia menyesal kehilangan wanita sepertimu”

Kae In tiba2 seperti mendapat ide, ia melihat ke arah Jin Ho dan bersandar pada Jin Ho, Kae In tanya, “Maukah kau membuatku menjadi seorang wanita?”

Jin Ho kaget.

Dipublikasi di Personal Taste | Tag , , , | Meninggalkan komentar