Sinopsis Cinderella’s Sister episode 4

“Kau gelandangan!” teriak Hyo Seon. “Kau jelek!”
Ki Hoon mendengar teriakan Hyo Seon dari luar.
“Ini rumahku!” teriak Hyo Seon. “Keluar sekarang juga!” Ia menghancurkan bunga pemberian Dong Soo dan melempar buku-buku Eun Jo. “Enyah dari hadapanku, Gelandangan!”
Eun Jo tidak bergerak sedikitpun.
“Kau tidak mau pergi?!” teriak Hyo Seon.
“Tidak.” jawab Eun Jo singkat. “Kau yang pergi. Walaupun aku disini bukan karena aku ingin, tapi aku tidak akan pergi hanya karena kau menyuruhku.”
Ki Hoon masuk ke dalam kamar.
“Jika aku merasa tidak tahan dengan rumah ini, aku akan keluar dengan kakiku sendiri.” kata Eun Jo dingin. Ia keluar dari kamar. Hyo Seon mengejarnya.
Ki Hoon membaca pesan Dong Soo.

Dong Soo duduk sendirian di bangku di pinggir sungai. Ketika melihat Eun Jo, ia merapikan rambutnya. Tapi ketika melihat Hyo Seon, ia bergegas bersembunyi.
“Kakak, kau akan mati!” teriak Hyo Seon, berusaha menghentikan Eun Jo dengan menarik rambutnya. Hyo Seon tidak sengaja menarik rambut Eun Jo hingga putus segenggaman.
“Kau!” Eun Jo marah dan berkelahi dengan Hyo Seon.
“Inikah yang kau inginkan?” teriak Hyo Seon. “Aku tidak menyukaimu! Aku membencimu! Aku akan mengganggumu sampai mati!”
“Lepaskan aku!” teriak Eun Jo.
“Aku tidak mau!” balas Hyo Seon.
Akhirnya perkelahian mereka selesai.
“Kakak, kau berdarah!” seru Hyo Seon terkejut. “Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya cemas.
Eun Jo juga melihat luka di pelipis Hyo Seon. Ia kemudian mendorong Hyo Seon sampai terjatuh di tanah. Hyo Seon menangis.
Eun Jo berjalan pergi dan melihat Dong Soo mencoba melarikan diri diam-diam.
“Kau!” panggil Eun Jo, berteriak. “Kau ingin berkencan bukan? Ayo berkencan kalau begitu!”

Hyo Seon pulang sambil menangis-nangis. Ia memeluk Kang Sook. “Ibu!” teriaknya.
“Ada apa?” tanya Kang Sook. “Jangan menangis! Jangan menangis!”
Eun Jo kembali ke kamar dan bisa mendengar suara ribut-ribut Hyo Seon. Ia merapikan kamar itu.
“Ibu, Kakak orang yang sangat jahat!” tangis Hyo Seon.
“Kemari!” seru Dae Sung pada putrinya.
“Aku tidak mau!” bantah Hyo Seon, memeluk erat Kang Sook.
Dae Sung kemudian menarik Hyo Seon dengan paksa. “Nenek, ambilkan tongkat bambu!” perintah Dae Sun.
“Ayah, aku bersalah!” tangis Hyo Seon ketakutan. “Ayah!”
Kang Sook mencari Eun Jo di dalam kamar dan memarahinya. Dae Sung ikut masuk ke kamar itu dan menyuruh Kang Sook keluar.
“Kau, ikut denganku.” kata Dae Sung pada Eun Jo.

Dae Sung membawa Eun Jo dan Hyo Seon ke ruang baca.
“Sampai kalian berdua berbaikan, aku tidak akan mengizinkan Eun Jo pindah ke kamarnya.” kata Dae Sung. Hyo Seon mencoba protes, tapi Dae Sung menambahkan. “Jika Eun Jo pindah, maka kalian akan mengunci diri kalian dalam kamar dan hubungan kalian akan menjadi semakin renggang. Dan untukku, aku akan merasa menyesal karena sudah menyatukan dua keluarga ini.”
Ki Hoon masuk dan membawakan tongkat bambu yang diminta Dae Sung.
“Hyo Seon, kemari.” panggil Dae Sung. Dengan takut-takut, Hyo Seon mendekati ayahnya. “Jika kau mengaku salah, katakan.”
Dae Sung memukul betis Hyo Seon sekali.
Hyo Seon berteriak. “Ayah, maafkan aku! Aku tidak akan melakukannya lagi!”
“Kau mengaku salah?” tanya Dae Sung.
“Aku salah, Ayah.” ujar Hyo Seon kesakitan.
“Eun Jo, maju kemari.” panggil Dae Sung. “Jika kau mengaku salah, katakan.”
Eun Jo tidak berkata apa-apa.
Dae Sung hendak memukul, namun ragu sejenak. Ia memukul Eun Jo. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali… Eun Jo tetap diam dan berdiri tegak, seakan tidak merasakan apapun. Eun Jo juga tidak mengaku salah.
“Ayah…” Hyo Seon merasa kasihan pada Eun Jo.
Eun Jo menahan rasa sakit. Matanya berkaca-kaca.
“Kau tidak merasa dirimu salah?” tanya Dae Sung.
“Ayah, kami salah.” tangis Hyo Seon.
Dae Sung terus memukul betis Eun Jo. Ki Hoon kemudian menarik Eun Jo keluar. Eun Jo berjalan terseok-seok.
Ketika Kang Sook datang ke ruang baca itu, Eun Jo sudah tidak ada. Yang ada tinggal Hyo Seon yang hampir pingsan.

Ki Hoon membawa Eun Jo ke ruang penyimpanan. Ia mondar-mandir dengan cemas sementara Eun Jo hanya duduk diam.
“Biar kulihat.” Ki Hoon ingin melihat luka pukul di kaki Eun Jo, tapi Eun Jo mengacuhkannya. “Aku akan mengambil obat. Terserah apakah kau mau memakainya atau tidak.”
Ketika Ki Hoon sudah pergi, Eun Jo mendengarkan blup-blup anggur sedang difermentasi dan tertidur sejenak. Tiba-tiba ia terbangun ketika Ki Hoon sedang mengobati lukanya. Eun Jo tidak peduli dan terus mendengar suara itu.
“Jangan kena pukul lagi.” kata Ki Hoon. “Jika kau terkena pukul, larilah. Kau sudah ahli dalam melarikan diri. Jika kau keras kepala seperti ini lagi, kau benar-benar akan mati. Eun Jo-ah… Kenapa kau tidak menjawabku?”
Eun Jo meneteskan air mata.
“Eun Jo-ah, ini sakit, bukan?” tanya Ki Hoon.
“Ya.” jawab Eun Jo. Ki Hoon tersenyum.

Kang Sook merawat Hyo Seon yang sedang demam.
“Demamnya sudah turun.” kata Kang Sook pada Dae Sung.
Dae Sung hanya diam. Ia keluar dari kamar Hyo Seon dan membawakan obat ke kamar Eun Jo. Saat itu Eun Jo sedang tidur. Dengan perlahan-lahan, Dae Sung mengobati kaki Eun Jo yang terluka.
Tanpa Dae Sung ketahui, Eun Jo terbangun dari tidurnya, namun diam saja dan berpura-pura masih tidur.

Keesokkan harinya, Eun Jo menemui Ki Hoon.
“Siapa gadis yang bersama denganmu kemarin di pinggir sungai?” tanya Eun Jo.
Ki Hoon bingung. “Apa?”
“Aku benci harus mengulang dua kali.” kata Eun Jo. “Siapa gadis yang bersama denganmu kemarin di pinggir sungai?”
Ki Hoon tersenyum.
“Apa? Apa yang ingin kau curi dariku?” tanya Eun Jo. melihat senyum Ki Hoon.
“Kau datang pagi-pagi hanya untuk menanyakan itu?” tanya Ki Hoon. “Kau penasaran sampai tidak bisa tidur, bukan?”
Eun Jo memandang Ki Hoon tajam.

Ki Hoon masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu. Ia kemudian keluar dan mengajak Eun Jo keruang baca untuk mendengarkan musik dari disk yang dibawanya. Ki Hoon rupanya membawa barang-barang yang menjadi kesukaannya, termasuk kesukaannya akan lukisan karya Sohn Sang Gi.
“Siapa gadis itu?” tanya Eun Jo, tidak memedulikan ocehan Ki Hoon soal hobbynya.
“Siapa? Dia adik temanku. Aku menitipkan barang-barang ini padanya ketika aku meninggalkan asrama.” jawab Ki Hoon. “Temanku sedang ikut wajib militer, jadi adiknya yang datang. Kau senang sekarang?”
“Ya sudah.” kata Eun Jo seraya berjalan pergi.
“Apa benar kau akan berkencan dengan Dong Soo?” tanya Ki Hoon, tapi Eun Jo tidak menjawab.

“Berpura-puralah kita berbaikan.” kata Hyo Seon pada Eun Jo ketika Eun Jo masuk untuk mengambil pakaiannya. “Jika kita berpura-pura, ayah akan mengizinkanmu pindah ke kamarmu.”
“Aku akan melakukannya.” kata Eun Jo. Ia membuka celana panjangnya.
Hyo Seon terkejut melihat luka di kaki Eun Jo. Ia mengambil kaus kaki baru dan menyerahkannya pada Eun Jo. Eun Jo membuang kaus kaki itu ke lantai dengan kasar.

Ki Hoon mengantar Kang Sook pergi ke suatu tempat.
Dae Sung, Eun Jo dan Hyo Seon makan bersama.
“Kakak, maafkan aku, aku salah.” kata Hyo Seon.
Eun Jo diam. Hyo Seon menyenggol kakinya di bawah meja.
“Tidak, aku yang salah.” ujar Eun Jo.

Ki Hoon kembali ke rumah karena Kang Sook bersikeras menolak untuk diantar. Ia hanya mau diantar sampai stasiun kereta.
Dae Sung menelepon seseorang. Ia mengatakan pada orang itu bahwa jika orang itu ingin mengirim surat padanya, orang itu bisa menitipkannya pada Kang Sook. Namun orang di telepon mengatakan bahwa Kang Sook tidak datang ke tempatnya.

Ki Hoon belajar bahasa Spanyol dengan keras agar bisa mengajari Eun Jo.
Tiba-tiba paman Hyo Seon datang dan mengatakan kalau seseorang ingin bertemu dengan Ki Hoon. Orang itu adalah kakak Ki Hoon, Ki Tae. Ki Tae mengajak Ki Hoon ke suatu tempat.
“Kemana kita akan pergi?” tanya Ki Hoon.
Ki Tae menghentikan laju mobilnya. “Bagaimana jika aku memiliki sebuah taman bermain?” tanyanya. “Aku tidak mengerti kenapa ibu dan Kak Ki Jung mencoba membunuhku setiap kali aku membicarakan ide ini. Aku akan membangun taman bermain yang lebih hebat daripada Disneyland.”

Eun Jo pergi ke perpustakaan dan mencari sebuah buku mengenai lukisan. Ia melihat-lihat dan mempelajari setiap lukisan. Judul kumpulan lukisan itu adalah ‘Ayah dan Putrinya’.

Malamnya, Kang Sook pulang ke rumah. Dae Sung sudah menunggunya.
“Darimana kau?’ tanya Dae Sung. “Kau tidak mengangkat teleponku seharian.”
“Ada sesuatu yang harus kulakukan.” jawab Kang Sook, kemudian masuk ke dalam rumah.
Kang Sook mulai menggunakan air matanya lagi untuk meluluhkan Dae Sung. Kang Sook berkata bahwa ia berbohong dengan mengatakan pada Dae Sung bahwa ia pergi ke kuil. Ia menutupi kebohongan dengan kebohongan lain. Kang Sook bilang bahwa ia pergi untuk mencari obat tradisional untuk Eun Jo.
Trik Kang Sook berhasil. Dae Sung meminta maaf padanya.

Ki Hoon dibawa ke sebuah kamar hotel. Disana sudah ada seorang pengacara dan istri ayahnya. Mereka sudah menyiapkan dokumen dan berkas yang menyangkut warisan.
“Aku tahu kau tidak akan mau menandatangai ini tanpa syarat.” kata wanita itu. “Apa syarat yang kau ajukan?”
“Maukah kau memberikan setelah dari Perusahaan Hong Joo Ga?” tanya Ki Hoon.
Wanita itu diam sejenak. “Kau pasti melihat keamanan di luar, bukan? Jadi kau sudah tahu apa yang akan terjadi jika kau menyebabkan keributan. Aku akan menambah satu nol lagi dalam jumlah uang yang kau inginkan.” Wanita itu tertawa mengejek. “Setengah dari Perusahaan Hong Joo Ga? Ibumu mungkin mengajarkan itu padamu. Tapi seseorang harus sadar posisinya.”
“Jangan pernah berpikir untuk bicara mengenai ibuku dengan mulutmu.” kata Ki Hoon marah.
“Kau ingin menutup mulut seorang ratu? Jika bukan untuk ibumu…”
“Kubilang jangan sebut ibuku!” seru Ki Hoon. Ia berpaling pada pria yang didik di sebelah istri ayahnya. “Kau pengacaranya, bukan?” Ki Hoon kemudian duduk di hadapan mereka. “Tolong dicatat apa yang kukatakan ini. Jika kau menyiapkan pertemuan seperti ini, kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk membawa pengacaraku juga? Dengan kata lain, jika kau ingin aku menandatangani surat perjanjian dengan cara seperti ini, maka aku tidak akan pernah menandatanganinya.”
Para bodyguard wanita itu masuk.
Ki Hoon tertawa. “Jika kau ingin menggunakan kekerasan, lebih baik jika kau langsung saja membuatku cacat atau bahkan membunuhku. Karena jika aku bisa keluar dari sini hidup-hidup, aku akan pergi ke kantor surat kabar dan stasiun berita.”
“Apa kau mengancamku?” tanya wanita itu.
Ki Hoon berjalan keluar. Wanita itu terpaksa membiarkannya pergi.
Ki Hoon kemudian menelepon ayahnya. “Apa yang bisa kubantu?” tanyanya.

Pihak Dae Sung melakukan upacara ritual perayaan ragi, berdoa untuk keberhasilan usaha anggur yang dibuatnya.

Eun Jo menduduki peringkat pertama dalam kompetisi akademik sekolah, jadi ia akan mewakili sekolah dalam pertemuan daerah yang akan diadakan bulan depan.
Di tempat lain, Hyo Seon sangat sedih dan kecewa karena gagal menjadi juara menari.

Eun Jo pulang ke rumah dengan senang. Sesampainya disana, ia melihat orang-orang rumah sedang menonton Hyo Seon menari. Mereka bertepuk tangan dengan ramai, termasuk Ki Hoon.
Eun Jo menjadi sedih dan kecewa. “Aku tidak peduli.” katanya dalam hati. “Karena aku hanya ingin mendengar pujian dari satu orang saja.”
Eun Jo mendekati Ki Hoon dan mengisyaratkan agar ia pergi ke ruang penyimpanan.

Eun Jo memamerkan sertifikat penghargaan pada Ki Hoon.
Ki Hoon tertawa. “Kau sangat hebat Eun Jo-ah.” pujinya seraya mengacak-acak rambut Eun Jo. “Kau sangat pintar!”
Dengan dingin, Eun Jo mengambil kembali sertifikatnya dan berjalan keluar. Ki Hoon mengejarnya. “Aku akan memberimu hadiah. Ikutlah denganku.”

Ki Hoon mengajak Eun Jo ke kamarnya dan memberikan sebuah pena. Pena itu adalah pena kesayangannya.
“Pikirkan aku setiap kali kau memakainya.” kata Ki Hoon.
Tanpa mengatakan apa-apa, Eun Jo bangkit dan membuka pintu untuk keluar. Di balik pintu, Hyo Seon berdiri diam.
“Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanya Hyo Seon pada Ki Hoon. “Aku juga ikut resital balet. Kenapa kau memberinya hadiah tapi tidak memberiku juga? Kakak, apa kau lupa? Kau lupa kau milik siapa?”
Hyo Seon menangis dan berjalan pergi.

Pagi itu, Eun Jo keluar rumah. Ia bertemu dengan Dae Sung yang sedang menyiram bunga.
“Ada anggur yang tidak terfermentasi.” kata Eun Jo dengan kaku. “Barisan sebelah kanan, botol kedua dari belakang.”
“Kau tahu? Bagaimana?” tanya Dae Sun.
“Dari dalam botol tidak ada suara.” jawab Eun Jo.
Hyo Seon kembali ke rumah.
“Apakah Ki Hoon sudah pergi?” tanya Dae Sung pada Hyo Seon.
“Ya.” jawab Hyo Seon sedih.
Eun Jo terkejut. Ia bergegas mengejar Hyo Seon ke kamarnya untuk meminta penjelasan.

“Kemana dia pergi?” tanya Eun Jo.
“Siapa?” tanya Hyo Seon. Tiba-tiba Dae Sung masuk ke kamar itu. Hyo Seon terpaksa memberitahu Eun Jo. “Kak Ki Hoon, ikut wajib militer.” jawabnya.
Eun Jo tidak bisa percaya. Ia mencari Ki Hoon kemana-mana, tapi tidak bisa menemukannya.

Hyo Seon menangis. Ia memandang sebuah surat. Ki Hoon menitipkan surat itu padanya untuk diberikan pada Eun Jo.
Hyo Seon membuka surat itu dan membacanya. Surat tersebut tertulis dalam bahasa Spanyol.
“Aku pergi tanpa memberitahumu karena aku ragu aku bisa pergi jika melihatmu.” kata Ki Hoon dalam suratnya. “Sekarang, aku pergi sendirian, tapi suatu saat nanti aku akan membawamu ke Ushuaia, ke bulan dan ke bintang. Jangan melarikan diri. Jangan pergi kemanapun dan tunggu aku. Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Eun Jo mencari Ki Hoon di stasiun bus. Disaat yang sama, Ki Hoon akan naik ke kereta di stasiun kereta.
“Apakah kau akan meraihku?” tanya Ki Hoon dalam hati. “Jika kau meraihku, aku akan berhenti saat ini juga. Raih aku sebelum aku naik ke kereta ini.”
Ki Hoon menunggu sampai detik terakhir sebelum naik ke kereta, tapi Eun Jo tidak datang.

Eun Jo berdiri di tepi sungai dan menangis.
“Aku tidak pernah memanggil seseorang dengan panggilan apapun.” pikir Eun Jo. “Eun Jo-ah… Eun Jo-ah..” Eun Jo terus-menerus memanggil namanya sendiri sambil menangis.

8 tahun kemudian.
Eun Jo mempresentasikan bisnis keluarganya di depan para pengusaha. Ia telah tumbuh menjadi seorang wanita yang dewasa, cerdas dan penuh percaya diri.
Sepulang dari presentasi, Eun Jo melihat ada pameran lukisan karya Sohn Sang Gi. Ia memutuskan untuk berkunjung.
“Selain yang itu, Kak Ki Hoon juga suka yang ini.” terdengar suara seorang wanita, Hyo Seon. “Itu mengingatkannya pada ibunya yang meninggal di rumah sakit. Dia bisa memandang lukisan ini selama 10 menit tanpa menoleh.”
“Kenapa kau datang kemari?” tanya Eun Jo.
“Kak Ki Hoon mengatakan padaku bahwa disini ada pameran lukisan Sohn Sang Gi, jadi aku datang.” jawab Hyo Seon.
“Apa?”
“Kau tidak tahu?” tanya Hyo Seon. “Kami sedang berpacaran saat ini. Kak Ki Hoon… dan aku.”

Tentang nengfung

i love all about korea :)
Pos ini dipublikasikan di Cinderella's Step Sister dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s